Dosen FKH Ulas Cara Melestarikan dan Memberdayakan Itik Alabio

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh infoagrabisnis

UNAIR NEWS – Plasma nutfah sebagai sumber daya genetik lokal pembentuk jenis ternak unggul merupakan suatu hal yang harus dijaga kelestariannya. Dewasa ini keberadaan plasma nutfah Indonesia semakin banyak dikaji oleh para peneliti, untuk kepentingan banyak hal. Salah satu jenis hewan yang merupakan plasma nutfah Indonesia, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan yaitu Itik Alabio.

Beberapa waktu terakhir ini terjadi perkawinan silang antara Itik Alabio dengan jenis entok atau jenis itik lainnya, sehingga dikhawatirkan lambat laun keaslian Itik Alabio tersebut tidak ada lagi atau menjadi punah. Dr. Rini Fajarwati, drh., M.Vet. dalam disertasinya mencoba untuk menemukan galur murni Itik Alabio, mengidentifikasi ciri-ciri morfologis kualitatif dan kuantitatif, meneliti produktivitasnya, mengidentifikasi sidik jari DNA Itik Alabio, sebagai Sumber Daya Genetik Lokal (SDGL), dan analisis pengembangannya di masa depan.

Identifiksi Itik Alabio dilakukan dengan pengumpulan data fenotip yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan panelis oleh ahli yang berkompeten. Tujuannya adalah untuk menyepakati ciri-ciri khas Itik Alabio.

Pelaksanaan selanjutnya adalah melakukan pengamatan berdasarkan karakteristik kualitatif dan kuantitatif itik Alabio. Karakteristik kualitatif meliputi warna bulu dominan coklat bintik-bintik putih di seluruh badan, bulu mata terdapat garis putih, paruh berwarna kuning sampai kuning jingga dengan bercak hitam pada bagian ujung, bulu leher depan berwarna putih, bulu leher belakang berwarna coklat, bulu dada berwarna putih, bulu punggung berwarna coklat bercak abu-abu, bulu sayap biru kehijauan mengkilat, bulu ekor berwarna coklat bercak hitam, dan kaki berwarna kuning jingga.

Sedangkan Karakteristik kuantitatif Itik Alabio, meliputi: lingkar kepala lingkar leher, lingkar dada, lingkar perut, panjang paruh, panjang leher, panjang tubuh, panjang sayang kanan, panjang sayap kiri, panjang rentang sayap, lingkar paha kanan, lingkar paha kiri, panjang kaki kanan tanpa cakar (shank), panjang kaki kiri tanpa cakar, panjang kaki kanan dengan cakat, panjang kaki kiri dengan cakar, diukur dengan menggunakan pita ukur dalam centimeter (cm), dan bobot badan diukur denga menggunakan timbangan digital.

Selanjutnya dilakukan penelitian produktivitas (jumlah produksi telur, bobot per butir telur, ketebalan cangkang, kualitas kuning telur, dan konversi pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Itik Alabio memiliki tingkat produktivitas telur yang tinggi, ketebalan cangkang dan kualitas kuning telur yang baik, serta koversi pakan yang efisien.

Setelah diketahui secara pasti oleh panelis ciri-ciri morfologis dan produktivitasnya dilanjutkan dengan Analisis DNA dengan teknik PolymeraseChainReaction (PCR) dan sequencing. Tujuannya adalah untuk mengetahui susunan nukleotida Itik Alabio sebagai sidik jari DNA. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Itik Alabio merupakan bangsa itik khas yang merupakan plasma nutfah asli Indonesia khususnya di daerah perkembang biakan alaminya. Data sidik jari DNA Itik Alabio ini adalah temuan terbaru dan pertama di dunia sehingga akan dipublikasikan di situs Gen Bank.

Untuk strategi pengembangan ternak Itik Alabio (Anas platyrhynchosborneo) dalam rangka pelestarian berkelanjutan sebagai plasma nutfah di Kalimantan Selatan, Dr. Rini menyarankan untukMenyediakan wilayah pengembangan galur murni Itik Alabio, mengembangkan ternak Itik Alabio sebagai sumber penghasilan utama peternak, mengembangkan industri pakan Itik Alabio dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia setempat

Selain itu, tambahnya, diversifikasi produk Itik Alabio untuk menampung produk dari rakyat peternak, diolah dalam industri menjadi produk turunan telur dan daging Itik Alabio berupa frozenmeat, nugget, sosis.

“Perluasan pemasaran produk-produk Itik Alabio dari hulu sampai hilir baik di tingkat nasional maupun skala ekspor”, pungkasnya.

Penulis: Muhammad Suryadiningrat

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu