Muhammad Daffa, Gemar Dengarkan Dongeng saat Kecil Kini Terbitkan Dua Buku

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MUHAMMAD Daffa sedang memegang dua buku karyanya. (Foto: Dok. Pribadi)
MUHAMMAD Daffa sedang memegang dua buku karyanya. (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Di masyarakat, muncul sejumlah anggapan bahwa sastra hanya diminati oleh sedikit orang. Hanya dinikmati oleh mereka yang sangat tahu dan memahami sastra. Namun tidak bagi Muhammad Daffa, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga angkatan 2017. Ia telah lama menaruh hati pada dunia kesusastraan.

Sejak kecil Daffa memang memiliki kegemaran dalam mendengarkan dongeng dari neneknya. Tak hanya mendengar, ia tertarik untuk menulis ulang dongeng yang didengarkannya tersebut. Karena itu, Daffa mulai kecanduan dan merasa bahwa diksi-diksi sastrawi itu mengalir di nadinya.

“Saya gemar menulis dan membaca novel sejak Sekolah Dasar. Hal itu membuat saya selalu ingin mengunjungi perpustakaan untuk melahap buku-buku sastra yang ada di sana,” ungkap mahasiswa kelahiran Banjarbaru itu (31/1/2019).

Ketika Daffa SMA, gurunya kadang tidak hadir dan membebankan tugas di kelas. Saat seperti itu, ia biasanya Daffa memilih pergi ke perpustakaan daripada ke lapangan olahraga seperti teman-temannya. Di perpustakaanlah Daffa memilih untuk membaca sepuasnya, bahkan pernah dari pagi hingga pukul 14.00.

Menurut Daffa, buku yang paling berkesan hingga hari ini adalah “Berkenalan Dengan Puisi” karya Prof. Suminto A.Sayuti. Dari buku itulah, ia banyak mengenal karya-karya penyair terkemuka Indonesia, seperti Linus Suryadi AG, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, dan WS Rendra.

“Yang senantiasa menjadi tokoh inspiratif saya dalam berpuisi adalah Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Kadang saya mencatat potongan bait puisi di rubrik koran minggu, namun sebagian hilang terlupakan. Saya justru berkarya seperti mereka dengan karya saya sendiri,” jelasnya.

Daffa juga menjelaskan bahwa setiap penyair memiliki jalannya sendiri untuk berkarya. Pada tahun 2015, dia menulis dan lebih tertarik pada puisi dibanding genre sastra lainnya. Buku tulis usang yang sudah tidak terpakai menjadi saksi atas ratusan puisi yang ia tumpahkan.

Sejak saat itulah Daffa memberanikan diri untuk mengirimkan karya-karyanya ke media massa. Koran lokal, yakni Radar Banjarmasin menjadi sasaran Daffa untuk mengirim. Hasilnya memuaskan, tulisannya sering dimuat hingga sekarang.

“Januari 2017 saya menerbitkan kumpulan puisi pertama saya, yakni Talkin, dan Juni 2018 saya menerbitkan lagi Suara Tanah Asal. Dalam menulis seringkali saya merasa bosan dan malas, makanya saya membuat ‘jarak’ pada setiap penulisan karya,” ujarnya.

“Cara kerja penyair itu unik, dalam mencari inspirasi kadang ada yang ke kuburan, situs sejarah, atau tempat nongkrong untuk sekadar minum kopi. Namun, ada juga tipe yang harus mengurung diri berjam-jam dalam ruangan untuk mengembangkan inspirasinya,” tambahnya.

Pesan Daffa untuk para penulis muda adalah jadilah diri sendiri dan membacalah sebanyak mungkin. Meniru teknik penulis lain itu boleh, tapi jangan sampai menjadi pengekor. Ciptakan ciri khas tertentu pada karyamu.(*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu