Cerita Haztika, Menjadi Volunteer di hingga Kenalkan Budaya Indonesia di Seoul

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
HAZTIKA Ketika mengajarkan bahasa inggris dasar pada anak-anak di Nowon Bukbu Welfare Seoul. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – “Menjadi global volunteer membuat saya memiliki teman di berbagai belahan dunia. Tidak hanya itu, saya juga belajar banyak hal seperti budaya dari berbagai negara hingga  mengenalkan budaya Indonesia ke mereka,” ungkap Haztika Jihadania Asdhar mahasiswa Psikologi angkatan 2016.

Sebelumnya, pada tahun 2018 dia juga pernah mengikuti program serupa di Thailand. Motivasinya dalam mengikuti program tersebut adalah berbagi ilmu dengan mereka yang memiliki keterbatasan finansial dan memberi semangat belajar kepada mereka agar suatu saat dapat berkontribusi untuk bangsanya.

Selama mengikuti program Global volunteer – Play in English Project oleh AIESEC yang bekerja sama dengan Nowon Bukbu Welfare di Seoul, Haztika mengaku mengidap culture shock. “Budaya disini serba cepat, jadi semua orang disini melakukan kegiatan dengan cepat, berjalan, menyelesaikan tugas, dan sebagainya,” katanya.

Dalam project tersebut dia tidak hanya mengajar, tetapi juga berkumpul dengan rekan-rekan dari berbagai belahan dunia. Sembari mengajar, Haztika juga mengenalkan mainan tradisional Indonesia seperti bekel dan gobak sodor, makanan khas Indonesia seperti mie goreng (indomie), baso goreng (basreng), ikan teri, pecel dan lain-lain.

Dalam seminggu project mengajar dilakukan selama tiga kali dengan durasi empat jam, maka Haztika dan rekannya merancang kegiatan seceria mungkin. Hal itu supaya anak-anak tertarik dan semangat ketika kelas dimulai. Tak lupa Haztika menyisipkan hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia, seperti memberikan hadiah khas Indonesia.

“Saya membawa beberapa hadiah dari Indonesia seperti pensil kayu khas Jogja, gantungan kunci dengan miniatur kapal dalam botol, dan uang koin Indonesia. Fauna asli Indonesia seperti komodo juga saya kenalkan pada mereka ketika materi animal. Tak lupa juga situs-situs bersejarah seperti candi borobudur, prambanan, mendut, penataran, dan masih banyak lagi,” jelas Haztika.

Menurut Haztika, ia juga sempat berkeliling di Seoul, ia mengaku bahwa Seoul merupakan kota yang sangat indah. Karena meski ditengah perkembangan teknologi yang pesat, pemerintah dan penduduknya mampu menjaga budayanya dengan baik.

Hal itu membuat para pendatang dapat melihat bangunan dengan desain dari masa dinasti Joseon yang khas. Terdapat juga rental baju hanbok atau baju khas Korea Selatan dan berbagai destinasi wisata indah yang tak lepas dari budayanya.

“Mulai sekarang kita harus berani keluar dari zona nyaman dan jauhi rasa khawatir yang sekiranya tidak perlu. Langkah yang dapat kita ambil bisa sebagai volunteer atau hal lainnya, darisana kita akan mampu belajar leadership, problem solving, bahasa, hingga kepercayaan diri,” pungkasnya.(*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu