Peran NB-UVB Terhadap Terapi Pasien Vitiligo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh kompas.com

Vitiligo merupakan suatu kelainan pigmentasi (kelainana warna kulit) sehingga membentuk bercak putih pada kulit atau mukosa. Kondisi perubahan warna kulit ini disebut depigmentasi. Saat ini modalitas terapi untuk menyembuhkan vitiligo yaitu fototerapi. Repigmentasi setelah fototerapi biasanya membentuk pola perifolikuler, marginal, maupun kombinasi. Progresivitas lesi vitiligo ditandai dengan munculnya kembali pigmentasi di area lesi vitiligo. Hingga saat ini belum diketahui dengan jelas mekanisme pembentukan pola repigemntasi perifolikuler setelah pemberian Narrow Band-Ultraviolet B (NB-UVB).

Sel yang dikaitkan dengan repigmentasi pada penderita vitiligo melanocyte stem cells (SPM) yang berada di lapisan terluar akar rambut. Melanosit inaktif yang berada di lapisan terluar akar rambut akan mengalami pembelahan, proliferasi, dan maturasi selama proses repigmentasi kemudian melanosit ini akan bermigrasi ke lapisan kulit yang lebih atas. Gen yang berperan dalam penentuan tipe sel, proliferasi, migrasi, dan berbagai proses biologi lainnya yaitu gen WNT. Gen WNT akan berikatan dengan reseptor Frizzled sehingga menghambat penghancuran protein cytoplasmic β-catenin dan menyebabkan akumulasi β-katenin. β-katenin akan memasuki nukleus kemudian menyebabkan stimulasi ekspresi gen microphtalmia-associated transcription factor (MITF). Gen MITF berperan dalam kelangsungan hidup, siklus sel, migrasi, dan deferensiasi melanosit (sel yang menghasilkan pigmen warna pada rambut dan kulit). 

Penelitian pada mencit yang mengalami hiperpigmentasi setelah paparan UVB menunjukkan peningkatan Wnt1 mRNA dibanding yang tidak mendapat paparan UVB. Kandungan β-katenin pada nukleus lebih sering dijumpai pada lesi hiperpigmentasi yaitu solar lentigo dibanding pada kulit normal. Pada solaris lentigo terjadi induksi ekspresi Wnt1 dan sinyal Wnt/ β-katenin, serta diferensiasi SPM. Berdasarkan penelitian di atas suatu studi yang dilakukan pada klinik rawat jalan Departemen Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Dr. Ramelan Surabaya ingin mengetahui mekanisme pola repigmentasi perifolikuler melalui pemberian NB-UVB berdasarkan profil Wnt1 dan β-katenin.

Sebanyak 18 pasien yang memenuhi kriteria diberi NB-UVB dengan Daavlin DermaPalTM home-phototherapy (Bryan, OH, USA) dengan dua lampu Philips PL-S 9W / 01/ 2P dengan dosis 390 mJ/cm2 dua kali seminggu selama dua bulan. Kemudian lesi vitiligo akan diukur selain itu juga akan dilakukan biopsi pada lesi vitiligo dan folikel rambut serta pemeriksaan imunohistokimia untuk mengetahui ekspresi Wnt1 dengan pemeriksaan imunohistokimia sigle-stain dan ekspresi β-katenin yang dihasilkan oleh stem sel melanosit menggunakan pemeriksaan imunohistokimia double-stain. Hasilnya 72,2% memiliki pola repigmentasi perifolikuler sedangkan sisanya merupakan kombinasi marginal dan perifolukuler. Hasil pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan peningkatan ekspresi Wnt1 dan β-katenin yang signifikan setelah pemberian NB-UVB.

Protein Wnt sering dikaitkan dengan diferensiasi stem sel melanosit menjadi melanoblas kemudian menjadi melanosit dan akan terjadi pigmentasi. Peningkatan ekspresi Wnt1 setelah pemberian NB-UVB menunjukkan kemungkinan Wnt1  berperan dalam pembentukan repigmentasi perifolikuler pada vitiligo. Jalur Wnt/ β-katenin bergantung pada level β-katenin di dalam sel. Kadar β-katenin dalam sitoplasma normalnya dipertahankan rendah melalui degradasi yang terus-menerus oleh ubiquitin-proteasome system. Pemberian NV-UVB dapat menginduksi jalur Wnt- β-katenin pada lesi vitiligo.

Induksi jalur ini akan diikuti dengan pengikatan β-katenin ke faktor transkripsi lymphoid enhancer-binding factor (LEF) lalu akan menstimulasi ekspresi gen MITF, untuk kelangsungan hidup, siklus sel, migrasi, dan deferensiasi melanosit, sehingga stem sel melanosit berdiferensiasi menjadi melanoblas lalu melanosit yang akan bermigrasi ke epidermis dan terjadi melanogenesis sehingga terbentuk repigmentasi perifolikuler. Akan tetapi mekanisme yang melibatkan Wnt/ β-katenin belum sepenuhnya jelas sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Penulis: Prof. Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr.,SpKK(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjM5f29wpznAhWnH7cAHV6DDDcQFjAAegQIBBAB&url=http%3A%2F%2Fwww.jpad.com.pk%2Findex.php%2Fjpad%2Farticle%2Fdownload%2F1336%2F1294&usg=AOvVaw3RkKcQF0X2Nxq8D0-1QJIa  

Judul jurnal : Expression of WNT1 signalling proteins after phototherapy exposure in vitiligo 

Dian Ardiana, Nanny Herwanto, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Indropo Agusni*

http://dx.doi.org/10.17576/jsm-2019-4805-10

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu