Profil Hormon Progesteron Sapi Perah yang Mengalami Kegagalan Inseminasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sapi Perah. (Sumber: CNN Indonesia)

Susu merupakan salah satu komoditas pemenuhan gizi yang banyak diminati masyarakat. Tingginya minat tersebut berbanding terbalik dengan tingkat produksi susu yang mampu dihasilkan peternak sapi perah. Tercatat petani sapi perah lokal hanya mampu memproduksi sekitar 1.500 ton-1.600 ton per hari, 900 ton produksi tersebut berasal dari Jawa Timur dan produksi susu di Indonesia tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 15%.

Penurunan produksi susu disebabkan penurunan populasi sapi perah. Penyebab penurunan jumlah populasi sapi perah disebabkan adanya permasalahan reproduksi yaitu panjangnya calving interval (18-24 bulan), rendahnya angka konsepsi (< 40%) serta tingginya service per conception (> 3) yang berdampak pada rendahnya efisiensi reproduksi. Salah satu penyebab rendahnya efisiensi reproduksi pada sapi perah yaitu kegagalan Inseminasi Buatan (IB). Kegagalan IB bisa menjadi masalah yang penting secara ekonomi pada peternakan sapi perah.

Salah satu penyebab kegagalan inseminasi adalah karena ketidakseimbangan sistem hormonal. Hormon ovarium yang mempunyai peranan besar terhadap reproduksi salah satunya progesteron. Progesteron salah satu hormon penting yang berhubungan dengan reproduksi yang disekresikan oleh sel-sel luteal corpus luteum (CL). Konsentrasi progesteron dalam darah maupun susu dapat menentukan keadaan hewan tersebut dalam keadaan infertil, normal, birahi, dan bunting sehingga dapat digunakan untuk deteksi birahi dan mengetahui kondisi patologis lainnya.

Penelitian ini dilakukan oleh Sri Pantja Madyawati et al. (2018) yang mengungkap tentang profil hormon progesteron pada sapi perah yang mengalami kegagalan inseminasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang mengambil sampel susu berdasarkan data recording sapi perah yang mengalami kawin berulang. Jumlah sampel susu  sebanyak 75 sampel yang  diperoleh dari 15 ekor sapi betina Friesian holstein yang mengalami kegagalan Inseminasi Buatan (IB) yang pertama atau kedua kali. Pemeriksaan hormon progesteron menggunakan teknik Sandwich ELISA.

Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi hormon progesteron dalam susu pada hari ke-0, ke-7 dan ke-14 pada 15 ekor sapi perah menunjukkan peningkatan. Dikatakan bahwa pada sapi perah yang tidak birahi konsentrasi progesteron berkisar 2,2 – 3,5 ng/ml susu dan terjadi birahi bila konsentrasi progesteron kurang dari 2,2 ng/ml susu. Pada hari ke-7 samapai hari ke-14 menunjukkan peningkatan hormon progesteron, hal ini disebabkan karena hormon progesteron menghambat sekresi hormon gonadotropin yaitu Folicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) pada kelenjar hipofisis anterior. Hambatan tersebut menyebabkan folikel pada ovarium tidak berkembang dan hormon estrogen tidak dihasilkan, sehingga hewan tidak menunjukkan gejala birahi  (McDonald, 2000; Hafez, 2000).

Konsentrasi hormon progesteron pada hari ke -21 terjadi peningkatan yang terjadi pada 12 ekor sapi perah dengan konsentrasi progesteron diatas15 ng/ml dikatakan positif bunting (Pemayun dan Budiasa,2014), sedangkan 3 ekor sapi perah kembali ke siklus birahi diduga karena kegagalan fertilisasi. Penurunan konsentrasi progesteron diakibatkan oleh sifat luteolitik Prostaglandin F2  (PGF2α). Sedangkan konsentrasi hormone progesteron pada hari ke-28 pada 15 ekor sapi perah menunjukkan 3 ekor sapi dengan konsentrasi progesteron yang terus meningkat diatas 15 ng/ml  dinyatakan positif bunting.

Tingginya konsentrasi progesteron saat bunting karena korpus luteum tetap berfungsi merangsang sel endometrium untuk menghasilkan uterine milk yang merupakan nutrisi awal bagi embrio setelah implantasi (McDonald, 2000; Hafez, 2000). Sapi yang bunting korpus luteumnya akan dipertahankan selama bunting sehingga konsentrasi hormon progesteron dalam susu tetap tinggi (Drajat, 2002).

Pembentukan membran plasenta sudah mulai terbentuk pada 15-17 hari setelah fertilisasi yang merupakan periode maternal recognation of pregnancy dan bertujuan untuk mencegah pelepasan prostaglandin prostaglandin F2α sehingga tidak terjadi regresi korpus luteum dan progesteron dapat dipertahankan dengan baik dalam memelihara kebuntingan (Toelihere, 2000).

Selain itu, diperoleh 9 ekor sapi dengan konsentrasi dibawah 15 ng/ml menunjukkan bahwa terjadi mengalami kematian embrio dini. Pada hewan yang gagal bunting konsentrasi progesteron akan turun akibat regresi korpus luteum pada hari ke 18-24 setelah birahi (Drajat, 2002).

Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa konsentrasi hormon progesteron pada hari ke-0 (birahi), 7 dan 14 mengalami peningkatan pada 15 ekor sapi perah. Pada hari ke-21 tiga ekor sapi perah mengalami kegagalan fertilisasi dan pada hari ke-28 konsentrasi progesteron terus meningkat diatas 15 ng/ml pada tiga ekor sapi perah dan dinyatakan bunting sedangkan konsentrasi progesteron menurun pada 9 ekor sapi perah yang mengalami kematian embrio dini. (*)

Penulis: Erma Safitri

Artikel selengkapnya dapat diakses melalui link berikut,

https://ivj.org.in/users/members/viewarticles.aspx?Y=2019&I=798#

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu