Rektor Dorong Pimpinan Segera Rumuskan Kebijakan Kampus Merdeka

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Moh Nasih saat memimpin pembukaan FGD di Dialog Hotel. (Foto: Muhammad Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Membangun semangat di awal tahun 2020, Universitas Airlangga menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada Minggu (26-1-2020). Kegiatan itu dibuka langsung oleh Prof. Moh Nasih dengan dihadiri oleh 200 peserta dari pimpinan fakultas, lembaga, pusat dan kepala badan usaha yang ada di lingkungan universitas airlangga.

Dalam kesempatannya membuka FGD kali ini, Prof Nasih mengapresiasi kerja dan capaian-capaian yang telah diperoleh sepanjang tahun 2019. Dalam artian program kerja 2019 telah terlampaui dengan sangat baik. Hal itu dibuktikan dengan diraihnya jumlah akreditasi nasional maupun internasional yang maju dengan sangat pesat.

“Tidak hanya itu, jumlah lektor kepala dan guru besar di tahun 2019 mengalami peningkatan yang luar biasa. Hal ini patut diapresiasi karena tahun 2019 adalah tahun yang hebat,” ungkapnya.

Diharapkan, lanjutnya, dengan adanya rapat kerja pimpinan di awal tahun dapat menjawab berbagai macam tantangan dan tuntutan di tahun 2020. Isu-isu yang saat ini muncul dan sangat penting harus segera dibicarakan untuk ditemukan titik temunya.

“Kita harus siap dengan dengan tantangan yang lebih dinamis. Keberhasilan UNAIR tergantung dari rencana dan aksi para pimpinan di seluruh lingkungan Universitas Airlangga,” ucapnya.

Selain itu, kedepannya UNAIR juga akan melakukan reakreditasi untuk program studi yang siap melakukan peningkatan akreditasi di fakultasnya. “Prodi yang terakreditasi B harus segera meraih akreditasi A dan kita juga akan mengupayakan untuk meraih akreditasi internasional dari lembaga yang belum pernah kita peroleh sebelumnya,” tambahnya.

UNAIR, lanjut Prof Nasih, kedepannya juga siap untuk menjawab tantangan Menteri Pendidikan tentang kebijakan Kampus Merdeka. Rancangan keboijakan terkait hal itu difokuskan pada perumusan kurikulum lintas multidisiplin.

“Jadi mahasiswa ilmu sosial juga bisa belajar ilmu eksakta, begitu juga sebaliknya,” ucapnya.

Adanya kebijakan Kampus merdeka bertujuan agar mahasiswa yang kuliah di luar prodi dan luar kampus menjadi lebih fleksibel dalam menuntut ilmu. Salah satu wujud nyata yang rencananya akan dilakukan unair yakni program magang di luar negeri atau pertukaran pelajar akan menggantikan tugas akhir mahasiswa.

“Kita akan mendorong terbukanya akses lembaga bisnis dan non bisnis untuk mendukung lulusan yang ada di UNAIR dengan kemampuan yang mumpuni,” imbuhnya terkait program magang.

Meskipun begitu mahasiswa juga harus tetap mengambil mata kuliah wajib dan mematuhi aturan kebijakan baru yang diberikan kepada mahasiswa. Sehingga hal ini akan membuat mahasiswa menjadi lebih bebas, teratur dan kompeten dengan kemampuan yang telah diasah sebelumnya.

“Kita harus segera merumuskan kompetensi untuk mencetak lulusan yang berkualitas dengan adanya kebijakan baru tersebut,” tambahnya.

Penulis: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu