Naura Ardiana Mahasiswa FISIP Jadi Salah Satu Volunteer Sawasdee 36 English Teaching Project di Angthong, Thailand

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Naura Ardiana Sari Mahasiswa FISIP (kiri) saat menjadi salah satu Volunteer Program Sawasdee 36 English Teaching Project di Angthong, Thailand dari AIESEC selama 6 minggu pada Minggu (22/12/2019). (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – AIESEC merupakan organisasi pemuda yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan, pengalaman kepemimpinan, hingga partisipasi di Global Learning Environment dalam proyek sosial. Sawasdee 36 English Teaching Project merupakan serangkaian program dalam AIESEC Global Volunteer. Naura Ardiana Sari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tersebut tergabung menjadi salah satu volunteer di Thailand pada Minggu (22/12/2019) selama 6 minggu.

“Di Thailand aku sebagai volunteer untuk ngajar anak-anak berbahasa Inggris, sebelum di tempatkan di sekolah yang sudah ditentukan aku diberikan pembekalan selama dua hari. Pembekalannya tentang gambaran pendidikan di Thailand, jobdeskku nanti apa saja, dasar bahasa Thailand, teknik mengajar biar nggak ngebosenin, dan serba serbi Thailand,” ujar Naura.

Para volunteer ditempatkan di beberapa provinsi salah satunya Provinsi Angthong yang merupakan daerah rural area berjarak satu jam dari Bangkok. Naura mengajar di Bangsadejwittayakom School  setara dengan pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).

“Sekolah tempatku ini merupakan satu-satunya yang SMP-SMA karena lainnya adalah TK-SD-SMP dan SD-SMP, jadi muridku udah gede semuanya. Program ini aku pilih karena full akomodasi dan full meal, aku di sana juga tinggal di hostfamily (keluarga asuh) jadi cukup menyenangkan bisa berinteraksi secara langsung dengan masyarakat lokal,” tutur mahasiswa Hubungan Internasional tersebut.

Naura mengatakan beberapa hambatan komunikasi datang dari perbedaan bahasa (language barrier) yang cukup parah, ia mengandalkan google translate untuk membantunya berkomunikasi dengan murid-muridnya.

“Aku terharu karena sering banget guru dan murid di sini itu berusaha keras untuk berkomunikasi sama aku meskipun bahasa inggrisnya kepotong-potong. Selain itu mereka terbiasa untuk saling kasih kado pas momen tertentu kayak tahun baru kemarin, ya seneng aja dapet banyak kado,” tambahnya.

Thailand dalam kurikulum pendidikannya menerapkan sistem moving-class yang mana setiap siswa dapat memilih kelas sesuai dengan bidang yang mereka minati. Naura mengatakan bahwa kemampuan berbahasa inggris yang dimiliki masyarakat lokal masih sangat minim, itulah salah satu faktor yang menjadi penyebab susahnya dalam melafalkan beberapa huruf tertentu.

“Sekolahku ini sering banget ngadain perayaan hari-hari besar seperti Tahun Baru, Hari Anak, Hari Guru, dan Natal. Hal yang menurutku berbeda dari sekolah di Indonesia adalah mereka masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore, mereka juga nggak ada pelajaran Kewarganegaraan yang diajarkan di sini itu Matemarika, Kimia, Biologi, Fisika, Bahasa Inggris, Bahasa Thailand, Olahraga, Home Economic, dan Seni Rupa,” tutur Naura.

Naura berujar setiap momen yang dilalui di Thailand sangat berkesan, selain mendapatkan pengalaman baru tinggal di negara lain. Ia juga mengungkapkan bahwa program itu membuat dirinya banyak belajar dan bertemu orang baru.

“Persiapan yang aku lakukan untuk ikut program ini cukup mepet sih, waktu itu juga bertepatan dengan UAS bahkan sebelum berangkat ke bandara paginya aku masih harus ujian dua mata kuliah. Tapi semuanya terbayar lunas kok ketika aku sampai di sini dan dapet banyak pengalaman berharga,” pungkasnya. (*)

Penulis: Rissa Ayu F

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu