Mahasiswa UNAIR Bangun dan Kembangkan Rumah Belajar di Kampung

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Muhammad Roqib bersama anak didiknya saat penyerahan hadiah dalam acara pekan buku di Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Muhammad Roqib salah seorang Ksatria Airlangga yang kini sedang menyelesaikan tesis S2 Fakultas Hukum, Universitas Airlangga (UNAIR) telah membangun sebuah rumah belajar di desanya. Di Dusun Korgan, Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, ia membuat tempat tinggalnya menjadi sebuah lembaga bimbingan belajar diperuntukkan terutama bagi anak-anak di desanya.

Sebuah rumah belajar di bawah naungan Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro (YKIB) telah berdiri sejak tahun 2015 lalu. Kini, rumah belajar itu sudah mulai membuka cabang di daerah Kecamatan Kalitidu yang masih masuk dalam lingkup kawasan Bojonegoro.

Roqib menyebutkan bahwa YKIB sebelumnya merupakan sebuah komunitas yang peduli pada pendidikan masyarakat kurang mampu. Yayasan tersebut memegang visi sosial, yang mana bertujuan untuk menaikkan taraf ekonomi masyarakat sekitar melalui pendidikan.

Selain itu, prinsip sosial yang dipegangnya menjadikan tempat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar berada di tengah-tengah kampung.

“Kami bervisi sosial, jadi baik di sini maupun di Kalitidu kami buat tempatnya di kawasan masyarakat. Ya di tengah-tengah kampung,” tuturnya Muhammad Roqib Ketua Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro, Jumat (17/1/19).

Terlihat rapi sebuah perpustakaan kecil di tengah ruang belajar, dengan suasana belajar santai menjadi pilihan Roqib untuk membangun effort anak-anak yang belajar di rumah itu. Semua murid boleh belajar di teras, di ruang tamu, ataupun di ruang keluarga. Tak hanya itu, waktu belajar pun juga disesuaikan antara murid dan pengajar sesuai kesepakatan yang telah dibentuk di awal.

“Di sini belajarnya santai, supaya ada interaksi secara langsung antara murid dan pengajarnya. Karena dengan itu anak-anak dirasa akan lebih menguasai materi dengan maksimal,” jelasnya.

Di wilayah Purwosari, sudah sebanyak 140 murid dengan 16 pengajar telah gabung dalam YIKB. Namun di daerah Kalitidu masih dikatakan baru, yakni sekitar dua bulan dengan murid yang belum cukup banyak.

Dipenuhi oleh anak usia sekolah mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas setiap harinya, YIKB buka dari jam satu siang hingga jam 8 malam. Kebanyakan dari mereka adalah anak kurang mampu, yatim, dan piatu.

Roqib juga mengatakan bahwa ia tidak menuntut biaya sepeserpun untuk warga dengan ekonomi menengah ke bawah. Namun bagi yang mampu tetap dipungut biaya. Meskipun begitu harga dapat dikatakan sangat terjangkau, yakni seperti anak sekolah dasar membayar 5000 sekali pertemuan.

Uang yang sudah terkumpul digunakan untuk membeli peralatan yang dibutuhkan kegiatan belajar, seperti print latihan soal, meja, spidol, papan tulis, dan insentif pada pengajar yang nilainya tak cukup banyak. Namun, yayasan tersebut dapat berkembang berkat dukungan dari banyak pihak yang telah ikut berkontribusi, yakni melalui dana CSR pendidikan dari beberapa perusahaan yang telah bekerja sama.

Tak hanya belajar, YIKB juga memiliki beberapa program lainnya, yakni rumah belajar, pengembangan perpustakaan, bimbingan belajar, pelatihan guru, dan pengembangan model belajar. Beberapa kali, acara seperti bedah buku, pekan buku, dan perlombaan lain sering diselenggarakan pada peringatan hari tertentu.

“Kita juga sering memperingati hari-hari tertentu. Kami adakan acara seperti bedah buku dan pekan buku untuk meningkatkan jiwa literasi anak-anak YKIB,” pungkasnya. (*)

Penulis : Ulfah Mu’amarotul Hikmah

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu