Mahasiswa KKN UNAIR Tuban Gandeng BPP Atasi Wabah Ulat Grayak Desa Bendonglateng

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
BPP bersama mahasiswa dan kelompok tani melakukan pembasmian wabah ulat grayak di lahan jagung warga desa Bedonglateng. (Foto: istimewa).
BPP bersama mahasiswa dan kelompok tani melakukan pembasmian wabah ulat grayak di lahan jagung warga desa Bedonglateng. (Foto: istimewa).

UNAIR NEWS – Memasuki musim penghujan, populasi ulat grayak semakin meningkat. Wabah ulat grayak tersebut menyerang tanaman jagung milik petani di Tuban dan Bojonegoro. Salah satu daerah yang terdampak adalah Desa Bendonglateng, Kecamatan Kenduruan, Tuban.

Penduduk Desa Bedonglateng yang mayoritas petani jagung harus menanggung kerugian karena mengalami gagal panen. Untuk mengatasi hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Masyarakat (BBM) ke-61 Universitas Airlangga (UNAIR) menggandeng Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tuban mengadakan sosialisasi penanganan hama pada Kamis (16/1/2020) di Balai Desa Bendonglateng.

“Sebenarnya ulat grayak ini sudah menyerang tumbuhan jagung dalam beberapa kurun waktu terakhir ini, tetapi masih bisa ditanggulangi. Namun, belakangan ini petani merasa resah karena populasi ulat grayak semakin meningkat,” ungkap Prisca Cici Widiana selaku penanggung jawab kegiatan sosialisasi.

Kegiatan sosialiasi itu dilakukan guna memberikan edukasi terkait wabah ulat grayak dan memberikan pemahaman cara penanggulangan serta pencegahan sejak dini kepada kelompok tani di desa tersebut. “Agar para petani mendapat jawaban atas permasalahan yang dialami mengingat ini profesi utama di sini. Jika komoditasnya mati pasti berdampak pada ekonomi desanya juga. Selain itu, untuk mengubah mindset warga yang sebelumnya mengaitkan wabah ini dengan takhayul,” tutur Virellia Sekar, salah seorang anggota KKN.

SOSIALISASI penanganan hama bersama Balai Penyuluhan Pertanian di balai desa Bedonglateng pada Kamis (16/01/2020). (Foto: istimewa)

Ulat grayak memakan daun jagung pada umur yang masih muda. Dalam waktu semalam, tanaman jagung yang baru akan tumbuh sekitar usia satu bulan bisa habis dimakan ulat grayak sehingga tumbuhan jagung tidak bisa berkembang. BPP menyebut ada beberapa metode pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) ulat grayak pada jagung. Salah satunya menanam refugia dan menggunakan insektisida.

“Pengendalian OPT itu harus dimulai sejak dari sebelum tanam,” sebut Jarwo, BPP Kenduruan yang bertindak sebagai pemateri dalam kegiatan sosialiasi.

Usai sosialiasi, BPP bersama mahasiswa dan kelompok tani melakukan Gerdal (Gerakan pengendalian) ke lahan jagung warga setempat. Pembasmian wabah dilakukan dengan menyemprotkan insektisida yang diberikan oleh BPP.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi petani jagung di desa Bedonglateng dan membawa dampak baik pada tanaman jagung. “Semoga bisa bermanfaat kepada warga Desa Bendonglateng, khususnya para petani yang menanam jagung dan dengan adanya sosialisasi ini dapat memberikan dampak yang baik pada petani,” pungkas Prisca. (*)

Penulis: Lailatul Fitriani

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu