Cerita Pengalaman Mahasiswa Vokasi Magang di Bach Mai Hospital, Vietnam

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MAHASISWA Program Studi Teknologi Radiologi Pencitraan Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR) yang mengikuti program magang dan penelitian di Bach Mai Hospital, Vietnam pada periode 7 Oktober 2019–6 Januari 2020. (Foto: Istimewa)
MAHASISWA Program Studi Teknologi Radiologi Pencitraan Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR) yang mengikuti program magang dan penelitian di Bach Mai Hospital, Vietnam pada periode 7 Oktober 2019–6 Januari 2020. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali melakukan kerja sama dengan mitra luar negeri. Misalnya dilakukan Program Studi (Prodi) Teknologi Radiologi Pencitraan (TRP). Kali ini kerja sama itu dijalin dengan Bach Mai Hospital. Yakni, salah satu rumah sakit terbesar di Vietnam bagian utara, tepatnya beradai di Kota Hanoi, Vietnam. Pelayanan radiologi di sana mampu mencapai lebih dari 2.500 pasien setiap hari.

Enam mahasiswa Prodi TRP UNAIR berkesempatan belajar di sana melalui program magang. Yakni, selama tiga bulan, dimulai pada 7 Oktober 2019 sampai dengan 6 Januari 2020. Mereka adalah Ghinaa Rihadatul ‘Aisy Farhan, Naufal Arya Pratama, Milaniawati Suwito, Cindy Febriyanti, Rayza Tirta Shandy, dan Isqi Aziyah. Bukan hanya fokus pada magang, mereka juga fokus pada penelitian di sana.

Ghinaa mengungkapkan, keikutsertaannya dalam program magang di Vietnam itu menjadi pengalaman yang berharga. Banyak pengalaman di luar aktivtas akademis yang bisa diambil. Penduduk Vietnam sangatlah menerima kehadiran mereka. Bantuan saat mengalami kesulitan sering ditawarkan.

“Sampai di sana, benar-benar dibantu sama orang Vietnam. Mereka (Penduduk Vietnam, Red) ramah dan keperluan kami dibantu sama mereka,”kenangnya.

Tentu saat berada di luar negeri, perbedaan bahasa menjadi salah satu hal kendala. Terlebih, ungkap Ghinaa, tidak semua penduduk Vietnam dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Alhasil, Ghinaa dan teman-temannya harus menggunakan alat bantu untuk mengartikannya menjadi bahasa yang dimengerti penduduk Vietnam. Hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap bercanda bersama penduduk Vietnam.

“Kesulitannya memang tidak banyak yang bisa bahasa Inggris di sini (Vietnam, Red). Jadi, kami berkomunikasi menggunakan alat bantu untuk mengartikan bahasa yang dimengerti penduduk di sana,” sebutnya.

“Meskipun begitu, tidak menjadi penghalang bagi kami untuk tetap bercanda bersama penduduk Vienam. Lama-lama juga pasti terbiasa, jadi, hal tersebut (Bahasa,Red) bukan kendala lagi,” imbuhnya.

Perbedaan budaya, terutama berpakaian, menjadi hal yang menarik saat mereka berada di Vietnam. Seperti yang diketahui bahwa mayoritas penduduk Indonesia merupakan muslim sehingga perempuan berhijab menjadi hal yang mudah ditemui di kehidupan sehari-hari. Perbedaan itulah, ujar Ghinaa, yang membuat penduduk Vietnam tertarik untuk mengetahui Indonesia lebih banyak.

“Selama magang, karena kami dari Indonesia yang merupakan seorang muslim dan menggunakan hijab, banyak dari mereka yang tertarik ingin mengehatui lebih banyak tentang Indonesia,” paparnya.

Selektif dalam memilih makanan juga menjadi tantangan tersendiri. Ghinaa dan teman–temannya harus mengartikan nama makanan terlebih dahulu agar tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung babi.

“Kami cari tahu terlebih dahulu arti nama makanan agar tahu makanan tersebut mengandung babi atau tidak,” pungkasnya. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu