Dr. Ratih Puspa: Gender di Indonesia Miliki Kesenjangan di Ranah Kota dan Desa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Ratih Puspa, S.Sos., MA saat menyampaikan materinya di hadapan 23 peserta INDIAIR pada Selasa, (14/01/2020) di Ruang Sidang Pleno Gedung Managemen Kampus C. (Foto: Rissa Ayu F)

UNAIR NEWS – Airlangga Global Engagement menggelar program Indonesian Diversity at Airlangga (INDIAR) 2020 yang berlangsung selama dua minggu yang dimuali pada Senin, (13/01/2020) di Surabaya dan Yogyakarta. Program itu diikuti oleh 23 peserta yang merupakan mahasiwa dari Jepang, Taiwan, dan Cina. Salah satu agendanya yaitu berdiskusi mengenai “Gender Diversity Issues in Indonesia” yang dilakukan pada Selasa, (14/01/2020) di Ruang Sidang Pleno Gedung Managemen Kampus C.  

“Isu keberagaman di Indonesia terbagi menjadi beberapa bidang yakni sistem pendidikan, keluarga, ketenagakerjaan, hukum dan politik, kesehatan dan kesejahteraan hidup, dan isu tentang LGBTQ,” tutur Dr. Ratih Puspa, S.Sos., MA selaku pemateri.

Dr. Ratih mengungkapkan bahwa pendidikan di Indonesia masih tergolong eksklusif untuk sebagian masyarakat kalangan bawah utamanya bagi perempuan, dibeberapa daerah pelosok Indonesia. Ratih mengatakan di kota besar perempuan yang memiliki pendidikan tinggi cenderung leluasa menentukan karirnya sedangkan perempuan yang hidup di desa cenderung dipaksa untuk segera menikah karena tuntutan ekonomi.

“Timbul gap yang tinggi antara pendidikan bagi perempuan yang tinggal di kota besar dan di desa. Beberapa problem dari pendidikan di Indonesia adalah biaya pendidikan yang mahal oleh karenanya kebanyakan masyarakat desa tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas,” ujarnya.

Sebagai solusinya pemeritah Indonesia telah menyediakan berbagai beasiswa agar masyarakat kalangan bawah dapat mengenyam pendidikan, selain itu pemerintah juga menempatkan siswa dari daerah pelosok sebagai prioritas penerima beasiswa. Keluarga memegang peran penting dalam menentukan keputusan masa depan seorang individu, proritas untuk menikah pun ditentukan oleh bagaimana lingkungan dan budaya menilai sebuah ikatan pernikahan.

“Perempuan di Indonesia sering kali tidak dapat memutuskan bercerai dengan suaminya walaupun hidup dalam kondisi yang tidak bahagia di keluarga. Hal tersebut berkaitan erat dengan ketergantungan finansial seorang istri terhadap suami. Bahkan laki-laki memiliki peran yang begitu dominan dalam keluarga,” tambah Dr. Ratih.

Ketika berbicara tentang isu gender, lanjutnya, kita harus melihat konteks karena di Indonesia terdapat dua kondisi yakni desa dan kota yang akan sangat berbeda pendekatannya. Perihal identitas gender masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan di Indonesia. Ia berpendapat akan sangat sulit bagi Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) untuk mengutarakan perbedaan orientasi seksual karena keluarga dan lingkungan sosial yang menekan untuk menyesuaikan dengan kondisi pada umumnya.

“Permasalahan perempuan di dunia pekerjaan terjadi pada kalangan pekerja perempuan kelas bawah. Beberapa pekerjaan seperti dokter atau dosen seperti saya tidak terjadi gap, saya dan rekan kerja laki-laki mendapatkan gaji yang sama. Namun tidak demikian pada buruh pabrik atau pun pembantu rumah tangga, masyarakat kalangan bawah. Mereka masih menganggap laki-laki punya tanggung jawab lebih untuk membiayai keluarga oleh karenanya harus mendapat gaji lebih besar,” tambahnya.

Mengenai kepedulian tentang isu kesehatan di Indonesia masih sangat rendah, pada daerah pelosok masih tingginya angka kematian ibu menjadi salah satu indikator penting. Selain itu pemberian perhatian terhadap pendidikan seksual (sex education) di Indonesia belum terlaksana.

“Saya berharap sex education dapat dimasukkan pada kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah seluruh Indonesia, karena kita tahu bahwa akan sangat penting pendidikan seksual tersebut utamanya bagi generasi muda. Agar mendapatkan pengetahuan yang baik, benar, dan ilmiah mengenai seks karena dampak kedepan akan sangat berbahaya apabila dibiarkan mengingat banyaknya penyakit menular seksual,” pungkasnya.

Penulis: Rissa Ayu F

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu