Tingkatkan Kesadaran Warga Tentang Pemeliharan Ternak Sapi, KKN BBM BV Gelar Penyuluhan Zoonosis di Desa Alasrejo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PENYULUHAN Zoonosis penyakit yang menjangkit pada hewan ternak di Dusun Alasmalang, Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi yang dilakukan oleh Mahasiwa KKN-BBM BV Banyuwangi pada Sabtu (11/01/2020). (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Mememlihara hewan ternak menjadi salah satu pekerjaan utama bagi warga Dusun Alasmalang, Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo Banyuwangi. Sehingga teknik pemeliharan hewan yang baik dan pengetahuan tentang berbagai penyakit yang dapat menjangkit hewan ternak menjadi sangat penting. Kesadaran warga tentang beberapa penyakit masih sangat minim sehingga tim Kuliah Kerja Nyata Belajar Back to Village (KKN-BBM BV) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan sosialisasi penyuluhan penyakit Zoonosis di Desa Alasrejo.

Kegiatan yang dilangsungkan pada Sabtu (11/01/2020) tersebut meliputi pengenalan berbagai penyakit zoonosis, yakni penyakit dan infeksi yang secara alami dapat ditularkan dari hewan vertebrata kepada manusia maupun sebaliknya. Mahela Sefrian salah satu anggota tim KKN 61 mengemukakan alasan diberikannya penyuluhan tersebut yaitu karena kebanyakan warga tidak mengetahui adanya penyakit tersebut.

“Kebanyakan warga di sini memelihara hewan ternak seperti sapi, kambing dan ayam. Penyuluhan ini penting menurut kami agar warga mengetahui bagaimana cara merawat hewan ternak dengan baik agar tidak terjangkit penyakit dan menularkannya kepada manusia,” ujar mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Gigi tersebut.

Tim KKN 61 Banyuwangi beranggotakan 10 orang itu disambut baik oleh warga sekitar. Selain itu mereka pun mengenalkan salah satu contoh penyakit Zoonosis yang paling sering menjangkit hati sapi yakni Fascioloosis Hepatica.

“Fascioolosis itu sebutan untuk cacing yang hidup disaluran empedu dari hewan herbivora baik peliharaan maupun liar, kadang juga ditemukan pada manusia mengingat masyarakat di desa ini banyak yang memelihara sapi,” tambah Mahela.

Mahela mengatakan beberapa ciri-ciri yang bisa timbul pada manusia akibat dari memakan hati sapi yang tekena Fascioloosis pada fase pertama mengalami demam, lesu, pembesaran hati, nyeri pada rusuk kanan, berat badan berkurang, diare, dan apabila dibiarkan dapat menyebabkan kematian.

“Untuk menghindari penyakit ini kami menganjurkan untuk tidak mengonsumsi sayur yang tumbuh di pinggir sungai, secara berkala memusnahkan siput, pengeringan tanah, dan tidak mengonsumsi hati sapi yang ada cacingnya,” ujarnya.

Warga sangat merasa antusias dengan penyuluhan yang diberikan, bahkan warga bergantian untuk bertanya mengenai beberapa kondisi hewan ternak yang mereka miliki. Antusiasme tersebut diambut baik oleh teman-teman mahasiswa dengan menjelaskan tips agar hewan tidak terjangkit Fascioloosis Hepatica.

“Menjaga kebersihan hewan ternak itu adalah salah satu cara yang amat penting dilakukan, memastikan bahwa hewan dimandikan dan bulunya tetap halus dan tidak menggumpal. Selain itu apa bila ingin mengonsumsi hati sapi dilihat terlebih dahulu apakah ada cacing atau tidak kalau terdapat cacing bisa bagian yang terkena cacing dihilangkan, namun ketika semua bagian terkena cacing lebih baik tidak dikonsumsi. Untuk cara memasaknya pun bisa dimasak dengan matang,” pungkasnya.

Penulis: Rissa Ayu F

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu