Perkuat Kerja Sama Hemodialisis, UNAIR dan Saint Mary’s Hospital Berencana Gagas Training Centre Untuk Clinical Engineers

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kunjungan perwakilan Saint Mary's Hospital ke Unit Hemodialisis Rumah Sakit Universitas Airlangga pada Rabu (8/1/2020). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) terus berupaya meningkatkan kualitas di berbagai bidang. Niat baik ini turut didukung oleh sejumlah mitra. Salah satunya adalah Saint Mary’s Hospital yang berlokasi di Fukuoka, Jepang. Hal tersebut diwujudkan melalui penguatan kerja sama kesehatan, terutama pada bidang hemodialisis.

Guna menindaklanjuti kerja sama tersebut, UNAIR bersama dengan perwakilan RSUA dan pihak St. Mary’s Hospital menggelar pertemuan terbatas pada Rabu (8/1/20) di Ruang Rektor. Pertemuan itu dihadiri Rektor UNAIR, Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak beserta jajarannya dan perwakilan dari RSUA Wakil Direktur Pendidikan dan Pelatihan, Prof. Dr. Mochammad Amin, dr., Sp.P (K) beserta jajarannya. Sementara St. Mary’s Hospital diwakili oleh Dr. Daisaku Urabe, Mr. Masakazu Nakashima, Mr. Nobuyuki Ono, Ms. Makiko Suzuki beserta Ms. Mayumi So.

Ditemui usai melangsungkan pertemuan, Prof. Amin selaku Wakil Direktur Pendidikan dan Pelatihan RSUA mengatakan, jika pihaknya merasa gembira dengan dukungan yang diberikan St. Mary’s Hospital. Sebab, hal tersebut sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi para clinical engineer yang bertugas mengurus hemodialisis.

“Jadi, mesin-mesin yang digunakan untuk menangani hemodialisis itu harus didampingi clinical engineers. Kalau ada kerusakan, kan tidak mungkin nurse yang memperbaiki. Mereka support clinical engineers dan perawat kita untuk ditraining di Jepang selama dua tahun. Setelah ini, kami berniat membuat satu training centre untuk clinical engineers hemodialisis agar nanti bisa diberikan pengetahuan seperti di Jepang,” terang Prof. Amin.

Ia menjelaskan bahwa penguatan dalam bidang hemodialisis ini sudah berlangsung sejak tahun 2017 dan ditanggung penuh pemerintah Jepang atas inisiasi St. Mary’s Hospital. Selain itu, terdapat sertifikasi internasional yang sudah disusun bersama oleh kedua pihak. Bahkan, kerja sama tersebut digadang-gadang menjadi yang pertama di Indonesia.

“Kami dengan St. Mary’s Hospital memiliki sertifikat dan ada tanda tangan bersama bagi empat orang clinical engineers yang di training di Jepang. Kemudian, akan ada program lainnya yang akan kami bicarakan nanti. Dalam pertemuan tadi, Prof. Nasih juga sangat mengapresiasi kerja sama clinical engineering di bidang hemodialisis ini,” tutur Prof. Amin.

Ia menambahkan, hemodialisis sangat penting bagi pasien penderita ginjal. Oleh karena itu, seluruh sistem harus diperiksa secara keseluruhan demi menghindari kontaminasi kuman. Sehingga pasien yang mendapat pelayanan di RSUA sudah melalui standar seperti di Jepang. Tak jarang, pihak St. Mary Hospital kerap berkunjung untuk meninjau langsung.

“Selain itu, clinical engineers kami yang telah di training tidak akan dilepas. Selanjutnya, kami berniat untuk menyebarkan kurikulum kepada clinical engineers lain dan memperluas ke ranah lainnya. Karena di Indonesia terdapat aturan bahwa rumah sakit yang memiliki hemodialisis harus memiliki minimal satu clinical engineers,” tutupnya. (*)

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu