Isu Perang Dunia 3 Trending, Irfa Puspitasari: Itu adalah Gambaran Teori Stabilitas Hegemoni Neoralis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DOSEN Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Irfa Puspitasari, S.IP., M.A saat ditemui di ruang kerjanya. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas setelah terbunuhnya Jenderal Militer Iran, Qasem Soleimani, akibat serangan pangkalan militer AS. Hal itu memunculkan isu perang dunia 3 hangat diperbincangkan oleh masyarakat dunia. Bahkan, kata kunci #WorldWar3 menjadi trending topic twitter pada Jumat (03/01/2020) kemarin.

Melihat fenomena tersebut, salah satu dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Irfa Puspitasari, S.IP., M.A., memberikan pandangannya terhadap isu perang dunia 3. Dosen kelahiran Blitar, 25 Maret 1985 itu berpendapat bahwa perang dunia 3 tidak akan terjadi. Hal itu dikarenakan kondisi tekhnologi, zaman, dan model pemerintahan sekarang sudah berbeda dengan kondisi dulu saat terjadinya perang dunia 1 dan 2.

“Selain itu, kondisi terakhir AS yang masih fokus terhadap impeachment atau pemakzulan terhadap Donald Trump semakin meyakinkan kalau perang dunia 3 tidak akan terjadi,” tegasnya.

Lebih lanjut, dosen Humanisme dan Politik Global itu menyatakan bahwa perang dingin antara Iran dan AS saat ini menggambarkan tentang teori stabilitas hegemoni neoralis, yaitu jika kondisi stabilitas hegemoni mengalami penurunan, maka negara hegemon akan berusaha dengan kekerasan dan diplomasi untuk menjegal negara yang berpotensi untuk menggantikan posisinya sebagai hegemon baru.

Sebelum mencuatnya isu tentang perang dunia 3, Irfa menyatakan bahwa perang antar negara secara tidak langsung sebenarnya selalu terjadi. Bahkan beberapa perang tersebut telah memunculkan ciri-ciri seperti perang dunia. Ciri-ciri itu di antaranya adalah ketegangan ekonomi, yang mana antar negara saling berlomba meningkatkan proteksinya dan banyaknya pembunuhan terhadap jenderal atau kunci politik dunia.

“Perang saat ini tentu akan berbeda dengan perang dingin setelah perang dunia 1 dan 2. Hal itu dikarenakan kondisi negara sekarang yang dapat menggunakan embargo ekonomi dan lewat dukungan terhadap teroris serta separatis negara musuh,” jelasnya.

Apabila isu perang dunia 3 secara resmi dideklarasikan oleh AS, Irfa menyebutkan akan ada beberapa area yang akan diserang jika Indonesia secara sengaja atau tidak sengaja terlibat. Area tersebut adalah Laut Cina Selatan (kalau musuhnya Cina dan Indonesia memihak AS), Papua (kalau musuhnya AS), atau Australia dan Inggris (kalau Indonesia melakukan hal yang tidak disukai oleh tiga negara kunci). Selain itu, Irfa juga menyatakan bahwa negara di Asia Tenggara yang mungkin akan terdampak parah akibat perang dunia 3 adalah Myanmar.

“Saat ini Indonesia dapat berperan dalam posisinya sebagai anggota non permanen dewan keamanan PBB dan ketua HAM PBB untuk melakukan reformasi gender. Hal itu dilakukan untuk meringankan penderitaan korban dan melindungi perempuan serta anak-anak. Selain itu, melihat budget militer AS yang tinggi, tiap negara juga bisa menerapkan wajib militer  yang sejalan dengan prinsip pertahanan rakyat,” pungkasnya.

Penulis: Nikmatus Sholikhah

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu