Kenali 5 Penyakit yang Ditularkan oleh Hewan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh halodoc

Saat ini indonesia masih memiliki ancaman penyakit menular yang berasal dari hewan atau yang biasa disebut dengan penyakit zoonosis. Penyakit yang bersumber dari hewan suit untuk diprediksi kemunculannya. Masih ingatkah dengan penyakit demam berdarah yang menelan puluhan korban jiwa ketika musim penghujan telah tiba. Belum lagi beberapa wilayah di Indonesia yang masih belum bebas rabies dan antrax yang menjadi momok bagi masyarakat.

Plt Deputi Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Tb A Choesni, menuturkan pemerintah Indonesia telah menetapkan 5 penyakit prioritas berpotensi wabah, diantaranya yaitu rabies, flu burung, leptospirosis, bruselosis dan antraks. (sumber: detikHealth). Maka dari itu mari kita kenali lebih jauh tentang 5 penyakit tersebut.

Rabies

Rabies atau yang dikenal juga dengan istilah penyakit anjing gila merupakan infeksi virus pada otak dan sistem syaraf. Penyakit itu tergolong sangat berbahaya karena berpotensi besar menyebabkan kematian. Penyebab rabies adalah virus bernama RNA dan genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae, yaitu virus yang berbentuk seperti peluru bersifat neurotropis, menular dan ganas. Virus tersebut bersarang pada air liur hewan yang telah terinfeksi. Hewan yang telah terinfeksi dapat menyebarkan virus dengan menggigit hewan lain atau manusia. Pada umumnya, virus rabies ditemukan di hewan liar. Beberapa hewan liar yang menyebarkan virus tersebut adalah sigung, rakun, kelelawar, dan rubah. Namun, di beberapa negara, masih banyak binatang peliharaan yang rupanya membawa virus tersebut, termasuk kucing dan anjing. 

Prof. Dr. Suwarno, guru besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) menuturkan, potensi terjangkit rabies juga berlaku pada manusia. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, setiap tahun rabies menyebabkan sekitar 59.000 kematian.

Flu burung

Flu burung, atau yang dikenal juga sebagai avian influenza, adalah salah satu jenis infeksi virus yang umumnya ditemukan pada unggas. Namun, virus yang menyebabkan flu burung dapat bermutasi dan menyebar ke manusia.Apabila manusia terinfeksi virus flu burung, gejala yang tampak akan bervariasi, mulai dari yang ringan hingga parah dan berpotensi membahayakan nyawa. Penularan ini biasanya terjadi akibat adanya kontak dengan burung yang terinfeksi virus atau proses memasak unggas yang kurang matang. Penyakit ini tidak dapat ditularkan antarmanusia, tapi para ahli mengkhawatirkan adanya kemungkinan virus flu burung dapat bermutasi lagi dan bisa tersebar dengan mudah ke sesama manusia. 

Tercatat sejak tahun 2003, Indonesia merupakan negara dengan jumlah korban terbanyak akibat wabah flu burung. Status Kondisi Luar Biasa atau KLB untuk flu burung kerap ditetapkan oleh pemerintah. Penyakit ini tidak bisa dianggap sepele karena dalam kasus penularan flu burung terhadap manusia di Indonesia, hampir 80 persen berakhir dengan kematian.

Leptospirosis

Melansir dari Healthline, Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira Interrogans, yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa Leptospirosis adalah anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi atau babi. Hewan penular Leptospirosis paling banyak di Indonesia saat terjadi banjir adalah tikus. Hewan-hewan pengerat ini turut menyelamatkan diri saat banjir tiba, namun ia meninggalkan kotoran dan air kencingnya yang kemudian bercampur dengan air banjir. 

Leptospirosis biasanya menyebabkan gejala mirip flu ringan, seperti sakit kepala dan kedinginan. Biasanya, penderita mulai menunjukkan tanda-tanda terinfeksi dalam 2 minggu, meski dalam beberapa kasus, gejala mungkin muncul selama sebulan atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Namun, gejala yang dirasakan akan lebih parah jika bakteri menginfeksi beberapa organ tertentu seperti hati, ginjal, paru-paru, jantung dan otak. Penyakit terparah yang ditimbulkan oleh bakteri leptospira ini adalah Weil, yaitu jenis infeksi bakteri yang menyebabkan kegagalan organ hingga berujung kematian.

Menurut data akumulatif Kementerian Kesehatan tahun 2018 hingga Januari 2019, di Banten ada 104 kasus leptospirosis dengan 26 kematian; DKI Jakarta terdapat 11 kasus dengan 2 kematian; Jawa Barat ada 2 kasus, tanpa angka kematian; dan DIY ada 186 kasus dengan 16 kematian.Lalu, di Jawa Tengah terdapat 427 kasus leptospirosis dengan 89 kematian; Jawa Timur ada 128 kasus dengan 10 kematian; Kaltara ada 3 kasus dengan 2 kematian; serta Maluku ada 5 kasus dengan 2 kematian.

Brucellosis

Brucellosis adalah penyakit yang dapat menginfeksi manusia dan hewan, disebabkan oleh bakteri Brucella. Penyakit Brucellosis ditemukan di seluruh dunia dengan 500.000 kasus. Infeksi Brucellosis pada hewan umumnya menyerang kambing, domba, rusa, babi, sapi, anjing dan unta karena hewan tidak divaksinasi dan memiliki lingkungan yang kotor. Brucellosis pada manusia umumnya terjadi dari kontak langsung dengan hewan atau mengonsumsi produk hewani, daging mentah yang terkontaminasi dan susu yang tidak dipasteurisasi. Bakteri Brucella juga dapat menular dari udara dan kontak dengan luka terbuka.

Brucellosis di manusia pada umumnya endemik di negara-negara berkembang seperti India, Pakistan, Cina, Malaysia, Vietnam, Thailand, Indonesia dan Srilanka. Prevalensi Brucellosis di Malaysia sebesar 25% dari total jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit dengan keluhan gangguan pada kandungan, 75% diantaranya menyebabkan abortus pada wanita penderita. Prevalensi Brucellosis di Vietnam sebesar 14,8% pada tahun 2010


Anthrax

Bacillus anthracis adalah bakteri yang menyebabkan Penyakit Anthrax itu terjadi. Bakteri ini bisa bertahan berpuluh-puluh tahun lamanya. Bakteri ini juga tahan terhadap kondisi panas, dingin, kekeringan, dan bahan-bahan kimia anti kuman. Hewan-hewan yang bisa terkena Penyakit Anthrax antara lain yaitu sapi, kambing, domba, kerbau dan babi. Biasanya penyakit ini menular melalui hewan penderita Anthrax, media yang sudah tercemar bakteri Anthrax seperti tanah dan air, dan bahan pangan yang berasal dari hewan yang terkena Bakteri Anthrax. 

Kenali gejala-gejala jika hewan atau orang disekitar kita terkena Penyakit Anthrax. Gejala yang terjadi pada hewan adalah biasanya hewan akan demam, gelisah, dan mengeluarkan darah dari hidung dan dubur. Jika sudah sangat parah hewan akan mengalami pembengkakan dan mati mendadak.

Pada manusia gejala yang dialami adalah adanya benjolan yang melepuh berwarna biru gelap, adanya reaksi peradangan dari luka, sakit perut, mual, muntah, diare, demam, nyeri otot dan dada, serta dapat terjadi kematian dalam waktu 24 jam.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 2010-2016 terdapat 172 kasus antraks dan 97%nya merupakan antraks kulit dan 3%nya merupakan antraks pencernaan. Penderita antraks sebanyak 61% adalah laki-laki dan sisanya wanita. Selain itu menurut kelompok umur, penyakit antraks menyerang usia >15 tahun sebanyak 93% dari jumlah kasus.

Choesni menambahkan, Untuk mengatasi dan mencegah wabah yang kemungkinan dapat terjadi kelak maka negara harus selalu waspada dalam menghadapi wabah penyakit yang bisa datang kapan saja dan tidak terduga. Karenanya, pemerintah melalui Kemenko PMK membuat program pelatihan dan investigasi wabah dengan pendekatan One Health yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Penulis: Alfiansya Noval Siswanto

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu