Kucing Bukan Satu-Satunya Penyebar Toksoplasmosis, Daging Juga!

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Postkota News

Toksoplasmosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Digolongkan sebagai Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) dan termasuk zoonosis prioritas di Indonesia, karena menyebabkan tingginya kerugian ekonomi dan angka kesakitan. Bahkan bisa menyebabkan kematian bagi penderitanya, baik manusia maupun hewan. Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii yang menyerang hampir semua hewan berdarah panas, termasuk mamalia dan unggas. Manusia sudah tentu sangat berpotensi juga untuk terinfeksi. Parasit ini sangat penting dengan penyebaran yang masif dan ditemukan hampir di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar sepertiga dari populasi manusia di dunia telah terinfeksi oleh Toxoplasma gondii.

Berbagai penelitian dikembangkan, baik di dalam maupun luar negeri. Penelitian-penelitian ini terkait penyebaran penyakit, identifikasi molekuler, dan juga mengenai berbagai alternatif pengobatan. Dari penelitian terdahulu yang telah dilakukan, diperoleh data kejadian penyakit yang cukup fantastis dan menambah referensi betapa pentingnya penyakit ini untuk diperhatikan, karena bisa jadi mengintai di sekitar kita. Terdapat sekitar satu juta kasus infeksi toksoplasmosis setiap tahunnya di Eropa yang disebabkan makanan yang terkontaminasi ookista atau kista Toksoplasma gondii. Seroprevalensi infeksi Toxoplasma gondii di beberapa negara disebutkan sebagai berikut: USA 13-68%, Austria 7-62%, El Savador 40-93%, Finlandia 7-35%, Inggris 8-25%, Paris 33-87%, dan Tahiti 45-77%. Toksoplasmosis di Indonesia tersebar luas dengan angka seroprevalensi pada manusia mencapai 2-63%, kucing 35-73%, anjing 75%, babi 11-36%, kambing 11-61%, dan sapi atau kerbau kurang dari 10%.

Dari data tersebut kita bisa tahu bahwa kejadian toksoplasmosis ini hampir ada di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bahkan disebutkan juga terjadi pada berbagai jenis hewan yang merupakan hewan-hewan penting yang ada disekitar kita, baik sebagai pet animal (hewan kesayangan) yaitu anjing dan kucing, juga pada hewan-hewan yang dikembangkan pada sektor peternakan yang nantinya akan menjadi sumber bahan pangan untuk manusia, yaitu kambing, babi, sapi, dan sebagainya. Banyak dari kita yang berasumsi bahwa toksoplasmosis ini hanya bisa ditularkan oleh kucing, nyatanya tidak demikian. Kucing bukanlah satu-satunya penyebar toksoplasmosis, daging juga. Tentunya daging yang berasal dari hewan yang terinfeksi dan dimasak tidak sempurna atau bahkan dikonsumsi dalam keadaan mentah.

Kita lalu bertanya-tanya, bagaimana Toxoplasma gondii ini bisa menginfeksi banyak spesies hewan bahkan manusia? Penyebab utamanya dimulai dari kucing sebagai inang definitif (utama). Selanjutnya feses (kotoran) kucing akan membantu menyebarkan parasit ini. Feses yang dikeluarkan oleh kucing yang terinfeksi, akan menghasilkan jutaan ookista, infektif selama berbulan-bulan pada kondisi yang sesuai, dan menyebar di lingkungan. Pada lingkungan di sekitar feses tersebut, parasit akan menyebar dan mencemari air, tanaman, dan hewan-hewan yang ada disekitarnya. Hewan-hewan selain kucing, seperti hewan ternak dan tikus, berperan sebagai inang perantara. Ookista yang tertelan inang perantara, akan berkembang menjadi takizoit yang berada dalam aliran darah, dan selanjutnya menetap dalam berbagai orang tubuh seperti jantung, otak, dan otot-otot (daging) dalam bentuk kista bradizoit yang bisa menjadi sumber penularan bagi manusia jika mengkonsumsi daging yang terkontaminasi.

Pada manusia yang terinfeksi postnatal (setelah lahir), infeksi utama berasal dari tertelannya kista bradizoit pada daging yang kurang matang, juga dari sayuran atau minuman yang terkontaminasi dengan ookista yang berasal dari kotoran kucing. Daging sering dikonsumsi oleh masyarakat dalam bentuk makanan yang dimasak kemungkinan kurang matang sempurna, seperti sate atau steak. Selain itu, juga bisa ditularkan melalui transfusi darah dan secara konginetal dari induk ke janin. Toksoplasmosis menjadi momok bagi banyak orang di berbagai belahan dunia, terutama kaum wanita. Pasalnya, toksoplasmosis dapat menyebabkan kecacatan permanen pada janin yang ditularkan dari ibu yang terinfeksi. Bahkan bisa menyebabkan keguguran atau kematian. Penyakit ini juga menjadi masalah yang serius pada orang-orang dengan sistem imun lemah, seperti pada pengidap HIV. Bradizoit yang bertahan dalam tubuh dapat muncul sewaktu-waktu ketika kekebalan tubuh dalam keadaan lemah. Pengobatan toksoplasmosis hanya efektif terhadap bentuk takizoit dan tidak dapat menghilangkan bentuk kista bradizoit.

Pencemaran toksoplasmosis pada daging ini dapat mengurangi pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat yang aman dan sehat. Untuk itu perlu dilakukan penelitian terkait toksoplasmosis sebagai upaya identifikasi, pencegahan, pengobatan, dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konsumsi pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Sehingga dapat meningkatkan food safety dan public awareness terhadap kemungkinan ancaman toksoplasmosis pada daging atau bahan pangan asal hewan. Salah satu upaya pencegahan yang bisa dilakukan yaitu menjaga higienitas pangan dan sanitasi lingkungan, seperti memasak daging dengan matang sebelum dikonsumsi, mencuci tangan sebelum makan, dan membersihkan feses kucing supaya tidak mencemari lingkungan.

Penulis: Elly Nur Indasari (Mahasiswi Pasca Sarjana Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Program Studi Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu