Asa Mahasiswa UNAIR Harumkan Citarum Dimulai

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Direktur Pendidikan Prof. Bambang Sektiari saat foto bersama bersama aparat dan perwakilan mahasiswa KKN Citarum Harum. (Foto: Andre Hariyanto)

UNAIR NEWS – Pengabdian masyarakat mahasiswa Universitas Airlangga dalam KKN BBM Citarum Harum ke-4 tahun 2019, akhirnya dimulai dengan tanda pelepasan 210 mahasiswa dai sejumlah fakultas UNAIR di Taman Sangkuriang Desa Rancamanyar Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12).

Pengabdian mahasiswa dalam menjaga Sungai Citarum, menjadi tugas yang tidak mudah. Apalagi label Sungai Citarum menjadi sungai dengan sugudang masalah. Dari masyarakat yang membuang sampah, sampai pabrik yang menghasilkan limbah. Belum lagi Citarum disalahkan oleh masyarakat hulu karena menyebabkan banjir.

KKN BBM Citarum Harum menjadi program nasional yang mendapatkan keabsahan hukum lewat Perpres RI Nomor 15 5ahun 2018 tentang Pecepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. UNAIR mendapatkan dukungan dari Kodam III/ Siliwangi. Satgas Sektor 7 bahkan terbentuk untuk mengakomodir 14 kelurahan, yanh dihadapkan dengan karakteristik persoalan, khususnya sampah.

Drs. Eko Supeno., M.Si., Ketua LPPM UNAIR menjawab alasan, mengapa UNAIR punya antusias tinggi membawa para Ksatria Airlangga mengikuti program KKN BBM Citarum Harum. Menurutnya, Kita adalah Indonesia. UNAIR ingin hadir menjadi bagian menjawab berbagai persoalan yang terjadi dalam negeri ini, termasuk isu pencemaran Sungai Citarum.

“Citarum menjadi sumber kehidupan masyarakat, khususnya yang tinggal di DAS Citarum. Disitulah arti penting UNAIR untuk bangsa ini,” jelas Eko.

Tugas penting mahasiswa UNAIR dalam KKN keempat ini adalah menjadi seorang duta lingkungan. Kedua, mahasiswa bisa belajar untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang akan terjadi pada Sungai Citarum. Selain itu, KKN juga menjadi media untuk belajar bekerjasama dengan tim, pemerintahan, dan aparat militer.

Situs Citarum.org merilis, dari 13 kabupaten dan kota yang dilewati aliran Sungai Citarum di Provinsi Jawa Barat, maka berbagai studi dan data lapangan menunjukkan, wilayah yang paling perlu mendapatkan perhatian adalah wilayah Kabupaten Bandung. Di Kabupaten Bandung ini kita bisa melihat miniatur permasalahan dan kompleksitas di Sungai Citarum, mulai dari permasalahan tata ruang, alih fungsi lahan, lahan kritis, pertanian tidak ramah lingkungan, limbah ternak, domestik dan industri, hingga banjir terdapat di sini.

Lanjut Eko, fakta ini tidak bisa dipungkiri sehingga UNAIR ingin menjadi bagian problem solver dengan mengubah perilaku masyarakat. Edukasi sangat diperlukan untuk membentuk kesadaran baru, yang dilakukan dari generasi muda sampai tua. Namun dalam mewujudkan itu semua, KKN membutuhkan waktu. Sehingga pengebangan kawasan fungsi publik Sungai Citarum juga melahirkan rasa kepemillikan bersama.

Sementara bagi Galih Juangga Putra mahasiswa Fakultas FEB, perlu mengidentifikasi permasalahan Citarum, sebelum dirinya terjun langsung ke lokasi dalam rangka KKN BBM Citarum Harum. Ini menjadi persiapan yang wajib ia ketahui, supaya mahasiswa UNAIR benar-benar memberikan solusi atas permasalah yang ada.

KKN BBM Citarum Harum 2019 menjadi KKN keempat yang diikuti. Program ini berlangsung sampai 23 Januari 2020 mendatang. Secara resmi, Bambang Sektiari Lukiswanto Direktur Pendidikan UNAIR, melepas secara simbolis 210 mahasiswa di Taman Sangkurian.

Penulis: Andre Hariyanto

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu