PKL FKM Siap Kupas Tuntas Masalah 1000 HPK di Bojonegoro

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ninik Susmiati, SKM.M Mkes, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Kabupaten Bojonegoro ketika memberikan sambutannya pada penerimaan dan pembukaan program PKL mahasiswa FKM UNAIR di Pendopo Pemerintah Kabupaten Bojonegoro (27/12/19). (Foto: Ulfah Muamarotul Hikmah)

UNAIR NEWS – Tercatat mulai dari Jumat (27/12/19) hingga Jumat (31/1/20) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM UNAIR) melakukan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Kabupaten Bojonegoro. Tema 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi tema utama yang diusungnya pada tahun 2019 ini. Sama seperti tahun sebelumnya, tema 1000 HPK diambil karena masih menjadi pokok dasar dari segala macam permasalahan kesehatan.

Ninik Susmiati, SKM.M Mkes, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Kabupaten Bojonegoro mewakili Bupati Bojonegoro, pada penerimaan dan pembukaan program PKL mahasiswa FKM UNAIR di Pendopo Pemerintah Kabupaten Bojonegoro (27/12/19) dalam sambutannya menyambaikan bahwasanya, permasalahan kesehatan yang masih menjadi prioritas program nasional adalah masalah kurang gizi. Dan yang mendapat perhatian banyak akhir-akhir ini adalah masalah kurang gizi kronis dalam bentuk anak pendek atau stunting.

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh stunting  baik jangka pendek adalah dengan terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan perkembangan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan untuk gangguan jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkannya adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar.

Ia juga menyebutkan jika masyarakat masih banyak beranggapan bahwa ukuran fisik termasuk tubuh pendek, gemuk, dan beberapa penyakit tertentu, khususnya penyakit tidak menular disebabkan terutama oleh faktor genetik. Dengan demikian ada anggapan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau mengubahnya.

“Karena ini menjadi salah satu faktor hambatan untuk keberhasilan program penanganan stunting di kabupaten bojonegoro. Jadi, anggapan yang salah tersebut yang harus nanti adek-adek pelajari di masyarakat Bojonegoro ini,” ungkapnya.

Ninikpun menegaskan bahwa melihat permasalahan tersebut, terdapat satu faktor yang dapat menetukan kualitas kehidupan, yakni periode 1000 HPK atau periode awal kehamilan sampai anak usia 2 tahun.  Periode ini juga telah dibuktikan secara ilmiah bahwa dapat menentukan kualitas kehidupan, oleh karena itu periode ini disebut sebagai periode emas, periode kritis, dan dunia menyebut sebagai window of opportunity.

“Periode 1000 HPK merupakan periode sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini, akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi,” ujarnya.

”Untuk itulah kita perlu berupaya untuk memperbaiki kondisi masyarakat pada kelompok sasaran 1000HPK, yakni dengan cara melakukan kegiatan intervensi spesifik pada intervensi sensitif,” tambahnya.

Kombinasi kegiatan spesifik dan sensitif merupakan salah satu solusi dalam mengatasi masalah gizi pada 1000 HPK, karena kegiatan tersebut bersifat sustainable dan jangka panjang. Beberapa kegiatan tersebut yakni penyediaan air bersih; sarana sanitasi; berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi; mortifikasi pangan, pendidikan, dan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) gizi; kesehatan kesetaraan gende; dan lainnya.

Selain itu, kegiatan tersebut tidak hanya dapat dilakukan oleh penggiat kesehatan, namun juga dilakukan dan memerlukan dukungan dari semua sektor yang terkait. Karena sejatinya, dalam kegiatan 1000 HPK ditekankan pentingnya kemitraan dengan berbagai pihak atau pemangku kepentingan, karena program perbaikan gizi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi perlu melibatkan berbagai unsur seperti masyarakat sipil, parlemen, dan lainnya. (*)

Penulis  : Ulfah Mu’amarotul Hikmah

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu