Model Pemanfaatan Antenatal care (ANC) di Puksesmas Kota Surabaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: Unicef UK

Antenatal care merupakan komponen yang sangat penting dari pelayanan kesehatan maternal, karena memberi kesempatan kepada ibu hamil dan keluarga memahami risiko yang berhubungan dengan kehamilan dan memonitor dalam mencari pelayanan kesehatan serta pengambilan keputusan (Majrooh, 2014).

Pemanfaatan antenatal care dapat dilihat dari capaian cakupan pelayanan antenatal care. Indikator peningkatan cakupan antenatal dengan pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan meliputi K1 yaitu kunjungan pertama ibu hamil pada trimester pertama, K4 yaitu kunjungan keempat ibu hamil pada trimester ketiga (Depkes, 2003).

Cakupan akses ibu hamil yang melakukan ANC ke tenaga kesehatan mengalami perkembangan peningkatan berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 yaitu pada trimester pertama atau K1 adalah 81,6 %, sedangkan frekuensi ANC dengan pola 1-1-2 atau K4 adalah 70,4 % (Kemenkes, 2013). Angka tersebut masih belum mencapai target nasional. Rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal selama kehamilan berkontribusi pada morbiditas dan mortalitas ibu (Bulatao & Ross, 2003; Prata et al., 2009).

Ada korelasi antara meningkatnya kematian ibu dengan tidak tercapaianya K1 dan K4. Skrining antenatal dapat memprediksi keadaan darurat obstetrik tertentu, salah satu strategi untuk mengurangi angka kematian ibu (Simkhada, et al., 2008). Problematika ini berasal dari  individu, keluarga, masyarakat dan institusi kesehatan (Mc Carthy & Maine, 1992; Domingues et al., 2013; Elo, 1992; Mistry, Galal, & Lu, 2009).

Faktor non medis juga memberikan kontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas maternal baik di tingkat individu, keluarga, masyarakat dan institusi kesehatan adalah berupa keterlambatan meliputi terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan (Kemenkes, RI., 2012).

Teori perilaku kesehatan dapat digunakan untuk menjelaskan pemanfaatan pelayanan antenatal care oleh ibu hamil dengan melihat proses kognisi dari individu berdasarkan belief serta mempertimbangkan lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi keputusan individu adalah theory of planned behavior (TPB). Teori tersebut menjelaskan bahwa faktor intensi atau niat atau motivasi berperilaku ditentukan oleh attitude, subjective norm dan perceived behavioral control. Ketiga determinan merupakan suatu fungsi yang didasarkan oleh belief (Ajzen, 2005).

Teori tersebut dipadukan dengan konsep women’s autonomy dalam perspektif gender, social support dan self efficacy. Variabel yang membangun model pemanfaatan ANC adalah intensi atau motivasi, sikap, subjective norm yang diukur melalui dukungan keluarga, dukungan kader kesehatan, dukungan tokoh masyarakat, perceived behavioral control yang diukur melalui otonomi perempuan (women’s autonomy) dan keyakinan diri (self efficacy).

Penelitian ini diawali dengan pengumpulan data secara kualitatif kepada  15 ibu hamil yang sedang melakukan ANC di Puskesmas Krembangan Selatan dan Perak Timur Surabaya, dilanjutkan dengan diskusi kepada pimpinan Puskesmas, Bidan Koordinator KIA dan bidan pelaksana, hal itu  bertujuan untuk membangun kerangka konsep atau variabel, mendapat masukan dari praktisi dalam menjelaskan pemanfaatan antenatal care dan dipertimbangkan dalam pengembangan instrumen. Diskusi pakar dilakukan sebelum instrumen di ujicobakan.

Penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan Puskesmas dilakukan secara  proportional multi stage random sampling dan didapatkan 13 Puskesmas mewakili Kota Surabaya.  Populasinya adalah seluruh ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal care di Puskesmas Kota Surabaya. Jumlah sampel 265 ibu hamil yang dipilih secara random sampling.

Analisis secara deskriptif dan analitik atau inferensial. Pengujian hubungan kausal antara variabel laten dan variabel manifest melalui metode analisis Structural Equation Models (SEM) dengan pendekatan covarians based data menggunakan bantuan software Amos.

Hasil penelitian menunjukkan indikasi beberapa hal yaitu:

  1. Pertama, sikap berpengaruh terhadap intensi, artinya makin positif sikap ibu hamil terhadap terhadap pemanfaatan antenatal care makin meningkatkan intensi ibu hamil dalam memanfaatkan antenatal care di Puskesmas.
  2. Kedua, dukungan keluarga berpengaruh terhadap intensi. Artinya makin kuat dukungan keluarga kepada ibu hamil dalam pemanfaatan antenatal care maka mampu meningkatkan intensi ibu hamil dalam memanfaatkan antenatal care di Puskesmas.
  3. Ketiga, dukungan kader kesehatan berpengaruh terhadap intensi. Artinya makin kuat dukungan kader kesehatan kepada ibu hamil dalam pemanfaatan antenatal care makin meningkatkan intensi ibu hamil dalam memanfaatkan antenatal care di Puskesmas Kota Surabaya
  4. Keempat, dukungan tokoh masyarakat tidak berpengaruh terhadap intensi. Artinya sekuat apapun pengaruh dukungan tokoh masyarakat terhadap intensi ibu hamil dalam pemanfaatan antenatal care tetap tidak menimbulkan intensi ibu hamil.
  5. Kelima, Otonomi perempuan mempengaruhi intensi ibu hamil. Artinya otonomi ekonomi, otonomi mobilitas dan otoritas pengambilan keputusan dari ibu hamil mampu memberikan kebebasan untuk menentukan pilihan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan, serta mampu berkehendak dan menyampaikan gagasan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki tanpa rasa takut adanya ancaman dari pihak lain yang bermaksud menguasai dirinya (Hafizd, 1993).
  6. Keenam, Otonomi perempuan berpengaruh terhadap pemanfaatan antenatal care selaras dengan pendapat  Simkhada, et al (2008) bahwa otonomi perempuan yang tinggi akan meningkatkan akses perempuan terhadap pelayanan kesehatan reproduksi, sedangkan otonomi perempuan yang rendah akan menghambat.
  7. Ketujuh, Otonomi perempuan lebih  dominan, ditambah dengan ada dukungan keluarga, dukungan kader kesehatan dan sikap yang dimiliki oleh ibu hamil, walaupun tidak ada efikasi diri maka niat atau intensi untuk memanfaatkan antenatal care dapat terbentuk.
  8. Kedelapan, tanpa efikasi diri, ibu hamil mampu  memanfaatkan antenatal care sepanjang periode kehamilan dengan memiliki sikap, dukungan keluarga, dukungan kader kesehatan dan memiliki kebebasan atau kemandirian dalam mengambil keputusan dalam hal ekonomi, mobilitas dan  pemenuhuan kebutuhan kesehatan diri dan keluarga.
  9. Kesembilan, intensi berpengaruh terhadap pemanfaatan antenatal care. Artinya,  makin kuat intensi ibu hamil dalam memanfaatkan antenatal care makin sering ibu hamil melakukan pemanfaatan antenatal care di Puskesmas.

Hasil penelitian ini merekomendasikan kepada Puskesmas dan tenaga kesehatan agar dalam melaksanakan kegiatan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) melibatkan keluarga, menggunakan multi media, multi metode dengan tujuan informasi yang disampaikan kepada ibu hamil dapat terinternalisasi dengan baik dan memiliki retensi yang tinggi. Upaya untuk membangun kesadaran kolektif di masyarakat agar mendukung program dan kebijakan juga perlu direkomenadsikan. Oleh karena itu  maka capacity building bagi kader kesehatan harus dikembangkan. (*)

Penulis: Fendy Suhariadi

Informasi detil dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami pada link berikut

http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijfmt&volume=13&issue=4&article=319

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu