Deteksi Gangguan Psikologis Dari Keluhan Sariawan Berulang di Rongga Mulut

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Serumpi.com

Prevalensi sariawan berulang atau yang sering disebut Recurrent Aphtous Stomatitis (RAS) sekitar 20% dari populasi. RAS mulai terjadi pada usia 10-20 tahun atau episode pertama di masa kanak-kanak dan terus berlanjut hingga dewasa. RAS lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. (Gallo et al. 2009) Etiologi RAS masih belum jelas dan diduga adanya faktor lingkungan dan genetik yang diindikasikan sebagai faktor pencetus termasuk stres, trauma fisik atau kimia, infeksi, penyakit sistemik, hormon, defisiensi nutrisi (zat besi, folat dan vitamin B12), alergi beberapa makanan seperti coklat, kopi, kacang, sereal, almond, keju ( George S and Joseph B, 2016).

Stres merupakan suatu keadaan dimana tuntutan yang harus dipenuhi melebihi kemampuan yang dimilikinya. Stres terjadi akibat ketidakmampuan seseorang dalam merespon suatu stressor, sehingga dapat mengakibatkan gangguan badan atau jiwa ( Sari RK et al, 2019). RAS yang disebabkan oleh stres kemungkinan dikarenakan kondisi stres terjadi penurunan sistem imun sehingga jaringan mengalami destruksi, disamping itu saat kondisi stres mudah terjadi trauma lokal karena tergigit.

Seseorang datang dengan keluhan sariawan berulang di rongga mulut. Sudah dilakukan berbagai perawatan menggunakan obat oles dan obat kumur, namun tidak mereda. Keadaan tersebut didiagnosis sebagai RAS. Namun, RAS memang memiliki banyak sekali faktor pencetus. Salah satu cara untuk mngurangi derajat berulangnya sariawan, adalah mengetahui faktor pencetusnya.

Beberapa faktor pencetus dari RAS adalah hormon, trauma, genetik, alergi, mikroba, stress dst. Berdasarkan pemeriksaan pasien mengaku depresi dan sangat cemas dengan adanya orang baru yang masuk dalam keluarganya. Konflik utama pasien adalah keinginan yang kuat untuk bersosialisasi dengan ketakutan ditolak dan tidak dihargai oleh orang lain. Pasien lebih memilih sendiri dan menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku tentang luar angkasa, kehidupan dinosaurus dan dunia tahyul dan didominasi pikiran yang gaib-gaib. Pasien kurang fokus dengan dirinya, makan hanya sekali atau 2 hari sekali dikarenakan dia lupa kalau belum makan. Cerita tersebut tersampaikan ketika pasien dalam perawatan sariawan di rongga mulut, kemungkinan keadaan di rongga mulut pasien disertai adanya kelainan psikologis sehingga kami melanjutkan berbagai pemeriksaan.

Salah satu Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat stres yang telah teruji adalah DASS 42. DASS terdiri dari 42 pertanyaan yang dirancang untuk mengukur tingkatan emosional negatif dari kecemasan, depresi dan stres pasien. Selain itu kami merujuk pasien ke dokter spesialis jiwa atau sering disebut psikiater, oleh psikiater pasien didiagnosa menderita Adjustment disorder berdasarkan hasil pemeriksaan MMPI. Pasien disarankan untuk merubah gaya hidupnya, menaikkan berat badan dengan lebih sering makan, berolahraga seperti jogging sekitar siang atau sore hari.

Berikut merupakan salah satu kasus kelainan psikologis yang berawal terdeteksi karena keluhan sariawan berulang yang sering kambuh. Jadi, kenali tanda dan gejala kelainan di rongga mulut, apabila terus berulang dan tidak kunjung sembuh segera periksakan ke dokter gigi, karena mungkin kelainan di rongga mulut merupakan tanda awal adanya kelainan pada bagian tubuh yang lain.

Penulis: Saka Winias,, drg., M.Kes., Sp.PM

Informasi detail dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://e-journal.unair.ac.id/MKG/article/view/16682

Yuliana, Y., Winias, S., Hendarti, H., & Soebadi, B. (2019). Reccurent aphthous stomatitis induced by trauma in adjustment disorder patient. Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi), 52(3).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu