Zombie: Antara Dibina dan Dibinasakan”

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh corong

Tak dapat dipungkiri bahwa karakter perusahaan zombie khususnya di pasar modal akan menjadi satu polemik tersendiri, tidak hanya bagi pemerintah namun juga sistem keuangan keseluruhan. Pada masa krisis keuangan, hal yang cukup wajar jika perusahaan mengalami penurunan kinerja. Namun demikian hal ini tidak terjadi pada perusahaan dalam kondisi zombie yang di masa krisis maupun pre-krisis berkinerja kurang baik. Perusahaan dengan kategori ini tidak lagi tergolong pada kondisi rentan melainkan tergolong sebagai kategori sustain inefficient atau yang disebut mengalami kondisi zombie.Perusahaan yang berkinerja secara tidak efisien secara persisten merupakan definisi less restrictive dari zombie ini. Sementara pada tingkat moderat ataupun ekstrim, zombie firm merupakan perusahaan yang menerima subsidi secara terus menerus serta ekuitas negatif selama minimal sepuluh tahun (Caballero, 2008). Kondisi perekonomian yang kurang baik meningkatkan perhatian akan adanya perusahaan dengan karakteristik seperti zombie ini dan memicu diskusi yang ekstensif akan dampak perusahaan zombie pada pertumbuhan ekonomi.

Zombiedengan kategori paling rendah yang disebut long term inefficient firm, rata-rata memilikileverage cenderung cukup tinggi yaitu 2,69 pada masa krisis keuangan global 2007-2009. Hal ini menggambarkan dominasi utang hampir tiga kali lipat jumlah ekuitas dalam mendanai suatu aset atau investasi. Sebagian perusahaan yang mengalami kondisi zombie memiliki leverage yang sangat rendah atau negatif. Hal tersebut tidak berarti perusahaan telah melakukan tata kelola keuangan secara baik dengan memiliki utang yang rendah. Pada kondisi ini justru memiliki porsi utang yang sangat tinggi sehingga ekuitas menjadi negatif. Perusahaan zombie dikatakan memiliki ekuitas negatif namun tetap melanjutkan kegiatan bisnis (Mohrman dan Stuerke, 2014).

Penelitian terkait meliputi usaha untuk mengidentifikasi atribut perusahaan zombie,mencari penyebab faktor yang mempengaruhi kondisi zombie, serta mengevaluasi efektifitas restrukturisasi untuk menyelesaikannya. Selain deleverage, Dai dkk. (2018) menyatakan bahwa pengurangan kos tenaga kerja dan reformasi kepemilikan perusahaan dapat secara efektif mengurangi permasalahan perusahaan zombie tersebut. Ruhnka dkk. (1992) menyatakan bahwa strategi yang dapat digunakan dalam kondisi seperti ini adalah jual atau merger, yang didahului beberapa tahapan termasuk mengganti manajemen ataupun product repositioning. Sebagaimana penelitian Acharya dkk. (2007) tentang perusahaan yang mengalami default, menyatakan bahwa adanya tekanan industri menyiratkan lebih banyak perusahaan bangkrut termasuk perusahaan inefficient going concern sebagai perusahaan yang harus direstrukturisasi sebelum dijual atau dilikuidasi.

Dai (2018) menyatakan bahwa deleverage memungkinkan sebagai cara menyelesaikan masalah perusahaan zombie. Dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa leverage bukan merupakan strategi keuangan yang dapat digunakan. Hal ini tentunya terkait tidak adanya opsi bagi perusahaan seperti ini untuk bisa menjadikan komposisi leverage sebagai struktur pengelolaan. Jika deleverage tidak bisa dilakukan, maka dibutuhkan cara lain untuk perusahaan pada kondisi zombie level terbawah ini. Ahearne dan Shinada (2005)menambahkan bahwa perusahaan zombie bisa bertahan karena dukungan finansial dari perbankan. Hal ini menyiratkan bahwa perusahaan jenis zombie ini tidak memiliki pilihan terkait struktur keuangan, sehingga memungkinkan strategi lain untuk digunakan yaitu dari aspek non-keuangan.

Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa tingkat related diversification menjadi faktor yang mempengaruhi perusahaan untuk mengalami kondisi zombie. Uji ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat related diversification, perusahaan cenderung tidak mengalami kondisizombie. Hasil ini secara umum mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa related diversification mendukung kinerja perusahaan (Bettis, 1981; Hill dan Snell, 1988; Montgomery, 1994).  Pada negara yang berkembang, related diversification lebih banyak memberikan hasil yang positif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini dimungkinkan karena adanya keuntungan dari sinergi sumberdaya dan keahlian antar perusahaan yang berbeda (Palepu, 1985; Rumelt, 1974).Pada perusahaan yang berorientasi domestik maupun internasional menunjukkan bahwa diversifikasi adalah faktor yang penting. Hasil penelitian ini juga mendukung pengaruh diversifikasi pada kemampuan perusahaan dalam berkompetisi dalam jangka panjang atau survival. Hal ini konsisten dengan Ahearne dan Shinada (2005) yang menjelaskan bahwa export-oriented akan membantu berkinerja di tengah lambatnya pertumbuhan produktivitas.

Zombie pada level ini masih memberikan sinyal adanya faktor berpengaruh yang memungkinkan perusahaan mengalami kondisi tersebut ataupun tidak. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan jenis ini masih memungkinkan untuk dibina. Sehingga memungkinkan pula memberikan dukungan pada usaha pemerintah menciptakan iklim bisnis dan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang seperti Indonesia. Hal menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak adalah adanya zombie pada level ekstrim atau perusahaan yang secara terus menerus disubsidi, ekuitas negatif, namun masih survive menjalankan operasi bisnisnya. Penelitian lebih lanjut, evaluasi, dan aturan tentunya dibutuhkan untuk menghadapi perusahaan dengan karakter tersebut.

Penulis : Santi Novita

Penelitian terkait artikel ini dapat diakses di:http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jrak/article/view/9904/7171

Novita, S., Tjahjadi & Irwanto. (2019). Zombiedan Diversifikasi dalam Masa Krisis Keuangan Global. Jurnal Reviu Akuntansi dan Keuangan, 9(3), 295-308.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu