Pakar FK UNAIR Ukur Resistensi Nystatin pada Pasien Kandidiasis Oral dengan HIV/AIDS

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Kandidiasis oral merupakan salah satu tanda klinis AIDS pertama yang ditemukan pada 50% hingga 95% pasien penderita HIV/AIDS. Kondisi tersebut sebagian besar disebabkan oleh jamur Candida albicans yang sering ditemukan di rongga mulut orang dewasa. Namun, Candida albicans bukanlah satu-satunya spesies yang menyebabkan kandidiadis, terdapat beberapa spesies lain seperti Candida glabrata, Candida krusei, Candida tropicalis, dll.

“Menurut WHO, perawatan awal dari kandidiasis oral yaitu bisa dengan pemberian agen antijamur topikal, seperti nystatis, amfoterisin B, mikonazol, dan clotrimazole. Namun, agen-agen tersebut dapat diberikan dalam kasus kandidiasis oral tanpa komplikasi,” jelas Dwi Murtiastutik, dr., Sp.KK(K), FINSDV.

Dwi menambahkan, bahwa obat yang efektif, terjangkau dan sering digunakan dalam mengatasi kandidiasis oral di Indonesa yaitu Nystatin. Nystatis sendiri merupakan obat antijamur yang digunakan dalam mengatasi infeksi jamur Candida pada rongga mulut, tenggorokan, usus, dan vagina. Dosis nistatin yang tersedia adalah 100.000 U / mL, dan 400.000 – 600.000 U / mL untuk orang dewasa selama 4 kali sehari selama 7 – 14 hari.

“Obat ini bekerja dengan cara merusak sel jamur dan menghentikan pertumbuhan jamur Candida,” imbuhnya.

Dosen FK UNAIR yang dibantu bersama timnya tersebut, terdorong untuk melakukan uji in vitro dalam mengukur resistensi Nystatin pada pasien kandidiasis oral dengan HIV/AIDS, dikarenakan terjadi cukup banyak kasus dari pasien Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo mengalami gejala kandidiasis oral secara berulang-ulang. Sehingga muncul dugaan, bahwa jamur Candida  telah mengalami resisten terhadap obat Nystatin.

“Pada 2017, ada 261 dari 1020 pasien dengan HIV/AIDS yang dirawat di RSU Dr. Soetomo, Surabaya, mengalami kandidiasis oral. Jumlahnya meningkat menjadi 273 pasien pada 2018. Dari Juni – Juli 2018, ada 20 pasien kandidiasis oral yang diobati dengan nistatin oral, tetapi 30% di antaranya kembali ke rumah sakit dengan kasus serupa,” ujar Dwi.

Menanggapi hal tersebut, Dwi bersama tim mengukur tingkat resistensi jamur Candida pada kandidiasis oral pasien HIV/AIDS di RSU Dr. Soetomo. Ia melibatkan 29 pasien, yang terdiri dari 23 pasien laki-laki dan 6 pasien perempuan, dengan rentang umur 18-65 tahun. Serta, obat yang akan diujikan yaitu Nystatin dan Flukonazol.

“Kami gunakan dua jenis obat yang berbeda sebagai pembanding saja,” ungkapnya.

Dilihat dari hasil penelitian, dinyatakan bahwa justru Sebagian besar subjek resisten terhadap Flukonazol, sementara sebagian besar subjek sensitif terhadap Nystatin.

“Dalam uji in vitro, tidak ada isolat Candida yang kebal terhadap Nystatin. Oleh karena itu, Nystatin oral masih efektif digunakan sebagai terapi standar untuk pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis oral,” pungkasnya. (*)

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan

Sumber :

Martiastutik D, Maharani C.S, Listiawan M.Y. 2019. Nystatin Profile on Candida Species in HIV/AIDS Patients with Oral Candidiasis: A Phenomenology Study. J. Pure Appl. Microbiol., 2019, 13 (4): | Article Number: 5749.

Link :

Berita Terkait

Nuri Hermawan

Nuri Hermawan

Leave Reply

Close Menu