Guru Besar FKG UNAIR Ulas Peran Chitosan pada Perlekatan Braket Ortodonti

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Menurut pelayanan kesehatan milik Kementrian Kesehatan (Kemenkes), perawatan ortodontik merupakan perawatan terhadap maloklusi seperti gigi jarang, gigi berjejal, dan gigi yang maju. Keadaan tesebut dapat mempengaruhi fungsi dan estetis wajah sehingga menjadi kurang menarik dan mengurangi kepercayaan seseorang. Dengan salah satu pemakain alat ortodonti yakni braket. 

Dalam risetnya tentang “Peran Chitosan pada Perlekatan Braket Ortodonti”, Prof. Dr. Ida Bagus Narmada drg., Sp.Ort.(K), terlebih dahulu memaparkan tujuan dari riset tersebut yakni untuk menganalisis efek penghambatan antimikroba dari bakteri Streptococcus mutans dan kekuatan tarik chitosan dan bahan ikatan perekat berbasis CaCO3.

“Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek penghambatan antimikroba dari bakteri Streptococcus mutans dan kekuatan tarik chitosan dan bahan ikatan perekat berbasis CaCO3,” jelasnya.

Menurut Prof. Ida Bagus, bahan yang digunakan untuk memasang braket pada permukaan enamel gigi adalah adhesive bonding. Tidak hanya itu, bakteri Streptococcus mutans berkontribusi terhadap demineralisasi enamel selama perawatan ortodonti.

Riset tersebut menggunakan metode investigasi yakni penelitian eksperimental laboratorium yang menampilkan observasi analitik dan metode pengambilan sampel acak. Dengan efek penghambatan antibakteri dari chitosan dan Ikatan perekat berbasis-CaCO3 terhadap Streptococcus mutans melibatkan enam kelompok.

“Dua kelompok kontrol yang menggunakan produk pengikatan perekat komersial dan self-cure perekat komersial,” lanjutnya.

Serta, lanjutnya, terdapat empat kelompok menggunakan ikatan perekat yang terdiri dari 75% CaCO3 + 17,6% Bis-GMA + 22,4% MMA dengan berbagai persentase dari komposisi chitosan pada setiap sampel (A1: 25%, A2: 50%, A3: 75%, dan A4: 100%) masing-masing kelompok terdiri dari dua sampel (n = 12). Selain itu, tes diametrik dilakukan yang terdiri dari tiga sampel (n = 15) untuk mengukur kekuatan tarik masing-masing kelompok.

“Dengan data dianalisis dengan kombinasi analisis varian satu arah dan uji perbedaan paling signifikan,” tuturnya.

Dengan begitu, lanjutnya, Prof. Ida Bagus mengungkapkan bahwa ikatan perekat berbasis-chitosan dengan kekuatan tarik yang baik memiliki efek penghambatan antibakteri terhadap Streptococcus mutans. (*)

Penulis : Asthesia Dhea Cantika

Editor : Nuri Hermawan

Penelitian lebih lengkap dapat diakses melalui link berikut ini;

http://www.ijdr.in/text.asp?2019/30/4/553/271052

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu