Dosen FKH UNAIR Uji Potensi Serum Kecebong (Rana catesbeiana) sebagai Penghambat Sel Kanker

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Kanker adalah salah satu penyakit kematian tertinggi di dunia. Pada 2012, ada 14 juta kasus baru dengan angka kematian 8 juta pada tahun yang sama. Lebih dari 232.000 kasus kanker kulit dicatat, dan di antara mereka, 55.000 kasus mengakibatkan kematian.

Dijelaskan oleh Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, Drh., M.Si., salah satu dosen FKH UNAIR yang memilih fokus pada sel kanker, bahwa sel kanker adalah sel normal yang mengalami perubahan menjadi ganas karena kelainan genetik sel-sel tersebut, sehingga kemampuan pembelahan sel tidak terkendali.

“Sel-sel ganas akan memicu pertumbuhan sel-sel proto-onkogen sehingga sel-sel normal akan berpotensi proliferasi yang tidak terkendali. Selain itu, mutasi gen pada kanker meningkatkan proliferasi sel dan resistensi terhadap mekanisme apoptosis. Serta, beberapa sistem molekul tubuh digunakan untuk menginduksi jalur apoptosis untuk menghambat pertumbuhan sel tumor,” jelasnya.

Menurut dosen yang kerap disapa Thohawi tersebut, terdapat hormon yang mampu menghilangkan atau menghambat tingkat resistensi apoptosis akibat sel kanker, yaitu hormon tiroksin. Apoptosis sendiri merupakan kematian sel yang terprogram, tujuannya membuang sel yang sudah tidak diperlukan lagi oleh tubuh. Serta, apoptosis adalah mekanisme penting dalam perkembangan embrionik, organogenesis, dan metamorfosis.

“Jika mekanisme apoptosis mengalamai resistensi akibat sel kanker, pasti akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan kesehatan pada organisme tersebut,” imbuhnya.

Di lain sisi terdapat laporan, bahwa pada metamorfosis katak, jaringan ekor mengalami apoptosis karena peningkatan hormon tiroksin. Oleh karena itu, Thohawi bersama tim mengasumsikan bahwa katak mengandung hormon tiroksin yang mampu mengembalikan tingkat apoptosis pada suatu organisme yang mengalami resisten terhadap apoptosis.

Dengan menggunakan bahan uji tikus jantan, penelitian tersebut dilakukan untuk menguji aktivitas serum kecebong (Rana catesbeiana) di caspase-3 sebagai penanda peran apoptosis dan total limfosit T sitotoksik (CTL) dalam sel epitel tikus albino yang diinduksi oleh neoplasia. Serum serum tersebut mengandung hormon tiroksin yang dapat menyebabkan proses metamorfosis dan mengendalikan proliferasi sel.

“Kami menggunakan tikus jantan yang diinduksi dimethylbenz dan anthracene selama dua kali setiap minggu selama 5 minggu, untuk merangsang neoplasia pada kulit. Kemudian, serum kecebong atau katak disuntikkan secara intrakutan setelah neoplasia diketahui, dengan dosis masing-masing 100%, 75%, dan 25% /tikus/hari,” ujarnya.

Setelah melewati berbagai peng-induksian beberapa bahan, dapat disimpulkan dari penelitian bahwa serum kecebong (R. catesbeiana) konsentrasi 100% dapat meningkatkan caspase-3 dan total CTL dalam sel epitel tikus albino yang diinduksi oleh neoplasia.

“Serum serum berudu (R. catesbeiana) dengan konsentrasi 100%, dapat meningkatkan caspase-3 dan total CTL dalam sel epitel tikus albino yang diinduksi oleh neoplasia. Sehingga, serum-serum tersebut dapat digunakan sebagai terapi kanker dengan penelitian lebih lanjut,” pungkasnya. (*)

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Khefti Al Mawalia

Sumber :

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30936655

M. T. E. Purnama, I. H. Rahmaningtyas, A. R. Pratama, Z. Prastika, A. M. Kartikasari and N. P. D. Cahyo. 2019. Tadpole serum activity (Rana catesbeiana) in caspase-3 as a marker of the role of apoptosis and total cytotoxic T lymphocytes in albino rats’ epithelial cells induced by neoplasia. Veterinary World, EISSN: 2231-0916.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu