Peneliti LPT UNAIR Ulas Manfaat Vaksinasi Rotavirus untuk Cegah Diare pada Bayi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Diketahui bahwa rotavirus merupakan virus penyebab diare paling sering pada bayi dan anak yang ditularkan melalui kontak dengan tinja penderita atau pembawa virus yang sehat. Menurut data terbaru World Health Organization (WHO) memperkirakan 215.000 kematian anak di seluruh dunia akibat infeksi saluran cerna oleh rotavirus pada tahun 2013.

Diketahui pula vaksin rotavirus secara resmi diwajibkan pada tahun 2006 di beberapa negara benua Amerika. Dengan adanya dua vaksin yang telah berlisensi adalah RotaTeq® (Merck & Co., Inc., West Point, PA, USA) dan Rotarix® (GSK Biologicals, Belgium).

Dalam risetnya bersama para peneliti di Lembaga Penyakit Tropis (ITD) Universitas Airlangga (UNAIR) tentang “Post-vaccinated asymptomatic rotavirus infections: A community profile study of children in Surabaya, Indonesia”, Prof. Maria Lucia Inge Lusida, dr. M.Kes., Ph.D, terlebih dahulu memaparkan bahwa telah mengikuti  perkembangan pada 30 bayi dan anak di Surabaya yang telah mendapatkan vaksin rotavirus lengkap selama 1 tahun.

“Tinja bayi dan anak yang terdaftar dikumpulkan setiap bulan satu kali. Jika bayi / anak mengalami diare juga diminta untuk mengumpulkan sampel diare,” tuturnya.

Menurut Prof. Maria, dari analisis seluruh tinja bayi sehat yang dikumpulkan, ditemukan dua yang positif rotavirus, sedangkan semua tinja bayi dengan kondisi diare yang dialami 8 bayi / anak selama masa penelitian, hasilnya tidak ditemukan rotavirus. Hal tersebut, lanjutnya, ditunjukkan dengan tidak adanya gejala infeksi rotavirus pada kedua bayi yang tinjanya positif rotavirus tersebut.

“Sampel yang positif rotavirus kemudian diperiksa lagi menggunakan teknik sekuensing / pengurutan materi genetik virus,” jelasnya.

Sekuensing, sambungnya, dilakukan untuk menentukan identitas tipe genetik virus yang terisolasi. Dan didapati hasil yang menunjukkan bahwa identitas rotavirus yang ditemukan dalam tinja bayi sehat ternyata sama dengan identitas rotavirus-rotavirus yang ditemukan pada bayi / anak yang sebelumnya dirawat di rumah sakit karena diare pada masa yang sama.

Prof. Maria mengungkapkan bahwa, temuan tersebut mendukung banyak riset sebelumnya yang menyatakan vaksin rotavirus efektif mencegah diare akibat rotavirus karena pada riset itu, bayi yang tinjanya positif rotavirus justru tidak mengalami diare dan tetap sehat.

“Sedangkan, diare yang dialami subjek selama masa penelitian kemungkinan disebabkan oleh infeksi atau penyebab lainnya karena hasil rotavirusnya negative,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. Maria juga menuturkan bahwa hingga saat ini vaksin rotavirus masih tergolong imunisasi pilihan (tidak wajib) di Indonesia, artinya belum menjadi program imunisasi nasional. Mengingat, lanjutnya, pada semua bayi dengan vaksinasi lengkap rotavirus yang diteliti, tidak didapatkan diare yang mengandung rotavirus, maka sangat disarankan imunisasi rotavirus pada semua bayi menjadi program nasional di Indonesia.

Selain itu, sambungnya, dalam kondisi imunisasi yang tidak merata, bayi sehat yang tinjanya positif rotavirus dapat disebut sebagai ‘karier (pembawa) sehat’ yang berpotensi menularkan virus tersebut kepada bayi dan anak lainnya. Oleh karena itu, pemerataan imunisasi rotavirus sangatlah penting untuk mencapai kekebalan komunitas.(*)

Penulis : Asthesia Dhea Cantika

Editor : Nuri Hermawan

Detail tulisan ini dapat dilihata di:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1876034119300863

Emily Gunawana, Takako Utsumi, Rury M. Wahyuni, Zayyin Dinana, Subijanto M. Sudarmo, Ikuo Shoji Soetjipto, Maria I. Lusida. 2019. Post-vaccinated asymptomatic rotavirus infections: A community profile study of children in Surabaya, Indonesia. Journal of Infection and Public Health, Volume 12, Issue 5, Pages 625-629.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu