Upaya Memperpanjang Usia TPA dengan Mengolah Sampah Plastik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI tempat pembuangan akhir. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI tempat pembuangan akhir. (Foto: Istimewa)

Permasalahan Sampah Plastik

Pengolahan sampah plastik di Indonesia masih menjadi kendala karena belum ada pemilahan sampah dari sumber. Sampah plastik yang tercampur dengan makanan dan atau sampah lainnya, memerlukan proses pembersihan yang cukup panjang. Apabila dicuci, maka terjadi peningkatan kadar air dan akhirnya harus melalui proses pengeringan agar mencapai nilai kalor yang lebih tinggi. Akibatnya, dilaporkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara yang menyumbang masuknya sampah plastik di laut setelah Tiongkok, yaitu 0,48-1,29 MMT/tahun (Jambeck et al., 2015).

Sampah dari daratan, jika kemudian terbawa masuk ke badan air terdekat sebagai akibat dari runoff menjadi penyebab utama masuknya sampah ke laut. Jumlah sampah plastik tersebut, masih sedikit jika dibandingkan dengan hasil kalkulasi dari keberadaan sampah di berbagai Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) di Indonesia.

Mengapa demikian? Rata-rata sampah Indonesia yang tidak termanfaatkan di sumber dan atau TPS/TPS 3R/TPT/PDU, maka akan berakhir di TPA. Padahal penduduk Indonesia rata-rata menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg/orang atau sebanyak 189.000 ton/hari. Berdasarkan jumlah tersebut, sebanyak 15% atau 28.400 ton merupakan jenis sampah plastik (KLHRI, 2012).

Plastik merupakan material yang sulit terdegradasi. Lalu akhirnya dengan fakta bahwa masih 90% sampah yang berakhir di TPA, berdampak pada cepatnya usia TPA berakhir. Masalahpun berlanjut dengan sulitnya mencari lahan TPA yang baru.

Solusi Pengolahan Sampah Plastik dengan Metode Thermal sebagai Upaya Landfill Mining

Penelitian tentang Metode Thermal Cracking untuk Pengolahan Sampah Plastik bertujuan untuk mengetahui potensi sumber energi alternatif yang dapat dihasilkan serta memanfaatkan bahan galian zona aktif agar dapat digunakan kembali sebagai area landfill sampah baru. Studi kasus dilakukan di TPA Klotok Kota Kediri pada area yang dinyatakan sebagai landfill pasif. Diharapkan hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Kediri untuk menentukan strategi pengaktifan kembali lokasi pasif menjadi lokasi aktif mengingat laju timbulan sampah per tahun semakin meningkat.

Plastik merupakan senyawa polimer dengan unsur utama adalah karbon dan hydrogen, sedangkan untuk kelompok termoplastik mempunyai sifat dapat mencair jika dipanaskan sampai temperatur tertentu sehingga berpotensi dilakukan recycle menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Karena itu, teknologi yang ditawarkan sebagai solusi mengurangi sampah plastik di TPA Klotok Kediri berupa thermal cracking dengan reaktor Tripod 4M kapasitas satu kilogram dengan suhu pembakaran 300-400°C selama 45 menit. Bahan baku berasal dari tiga peringkat teratas timbulan sampah plastik yang ditemukan di TPA Klotok Kota Kediri. Berdasarkan ketiga jenis plastik tersebut, maka dibuat tiga variasi bahan dengan rasio plastik lain-lain:HDPE: PP. Variasi komposisi tersebut meliputi variasi A (75:12,5:12,5), variasi B (12,5:75:12,5) dan variasi C (12,5:12,5:75).

Nilai proximate dan kalor bahan baku serta produk pada variasi A, B, dan C memenuhi standar RDF Turkey, batubara lignit, European Standard, dan BBM pasaran serta produk padat memiliki kualitas lebih baik dari RDF Thailand sehingga berpotesi dijadikan sebagai bahan bakar. Nilai proximate dan kalor bahan baku serta produk pada variasi A, B, dan C memenuhi standar RDF Turkey, batubara lignit, European Standard, dan BBM pasaran serta produk padat memiliki kualitas lebih baik dari RDF Thailand sehingga berpotesi dijadikan sebagai bahan bakar.

Komposisi dengan volume produk cair thermal cracking tertinggi adalah variasi C (75% plastik PP) yang mempunyai sifat mudah terurai menjadi bentuk gas dan cair pada suhu tertentu. Komposisi dengan produk padat tertinggi adalah variasi A (75% plastik Other) karena didominasi atas kemasan sachet yang sebagian besar terlapisi aluminium foil yang tidak dapat terbakar. Variasi B (75% plastik HDPE) menghasilkan produk padat yang menyerupai parafin atau wax (lilin) karena memiliki rantai C yang terlalu panjang. Produk tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku lilin dan stempet. Secara keseluruhan, kualitas molekul hidrokarbon zat cair pada masing-masing variasi memiliki kandungan aromatics sebesar 1,04% dan distribusi atom C >50%, sehingga sesuai untuk dijadikan sebagai bahan bakar jenis gasoline untuk memenuhi total konsumsi energi mesin operational TPA Klotok Kota Kediri.

Solusi skala laboratorium

Penelitian ini masih pada tahap uji skala laboratorium sehingga masih ada beberapa tahapan penelitian yang harus dilakukan agar dapat dilakukan hilirisasi produk. Jika sampai pada tahap hilirisasi produk, maka aktivitas landfill mining terutama sampah plastik dapat menjadi solusi reaktivasi landfill pasif sehingga dapat memperpanjang usia TPA. (*)

Penulis: Nita Citrasari, S.Si., M.T.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://iopscience.iop.org/issue/1755-1315/245/1

A. I. Agusningtyas, N. Citrasari, S. Hariyanto dan A.F. Maidi (2019). Processing of Plastics Waste from Klotok Landfill Kediri City with Thermal Cracking Method. IOP Conf. Series: Earth and Enviromnetal Science 245 (2019) 012041. doi:10.1088/1755-1315/245/1/012041.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu