Penghujan Tiba Koksidiosis Merajalela

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh priangan

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat dengan kepadatan penduduk mencapai 132 jiwa per km2 (BPS 2014). Tingginya jumlah penduduk mengakibatkan kebutuhan protein hewani masyarakat belum terpenuhi. Sumber protein hewani yang dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain telur maupun daging ayam.

Salah satu permasalah yang dihadapi oleh peternak ayam di Indonesia adalah koksidiosis atau berak darah. Koksidiosis merupakan infeksi protozoa gastrointestinal yang disebabkan oleh Eimeria spp (Quiroz-Casta˜neda & Dant´an-Gonz´alez 2015).  Kasus koksidiosis terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Tingginya kasus  di Indonesia tidak lepas dari iklim tropis dengan kelembapan tinggi sehingga ookista dapat bertahan  lama di alam, kemudian bersporulasi, hingga menginfeksi ayam (Iskandar, 2005). Selain faktor kelembapan, juga dipengaruhi oleh faktor iklim mikro, seperti  suhu, radiasi, kecepatan angin, evaporasi , curah hujan (Davoudi et al. 2011), manajemen kandang,  dan letak geografis (Yu et al. 2011).

Rohayati et al. (2011) menyatakan bahwa kerugian akibat koksidiosis pada ayam pedaging maupun ayam petelur cukup yaitu  masa bertelur lambat, penurunan produksi telur, dan penurunan efisiensi pakan. Kerugian ekonomis akibat koksidiosis pada peternakan ayam di Indonesia  mencapai milyaran rupiah per tahun. Hal tersebut meresahkan warga karena usaha peternak ayam terancam gulung tikar hingga berakibat fatal pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan masalah tersebut strategi pengendalian koksidiosis yang dapat dilakukan antara lain dengan meminimalkan stres lingkungan seperti suhu, kelembapan, ventilasi, nutrisi, dan  kepadatan kandang. Beberapa kunci pengendalian koksidiosis pada musim hujan yaitu manajemen litter yang meliputi penggunaan litter setebal kurang lebih  8-12 cm untuk kandang postal dan 5-8 cm untuk kandang panggung serta membolak-balik  litter untuk mencegah litter basah. Jika jumlah litter yang menggumpal sedikit dapat memilah dan mengeluarkan litter  dari kandang, namun jika banyak, tumpuk dengan litter yang baru hingga tidak tersisa litter yang basah. Upaya lain yang dapat dilakukan yaitu dengan memperbaiki struktur kandang yang rusak seperti atap yang bocor atau tirai  yang bolong untuk menghalangi air hujan masuk ke dalam kandang (Medion, 2016).

Sikap tanggap dan responsif peternak sangat penting apabila menemukan kasus  koksidiosis di lapangan. Jika ditemukan gejala koksidiosis pada ayam segera periksakan kepada dokter hewan dan laporkan kepada dinas terkait sebagai antisipasi terjadinya wabah dan kerugian yang lebih besar.

Penulis: Chici Ayu Paramita (Mahasiswa Progam Magister Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu