Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Naga Sebagai Obat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tribun Kaltim

Tumbuhan alam yang berkhasiat sebagai obat telah lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat Indonesia secara turun temurun. Diperkirakan hutan di Indonesia menyimpan 30.000 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai obat, diantaranya 940 jenis telah dinyatakan berkhasiat obat, dimana 78% masih diperoleh melalui pengambilan langsung dari hutan (Nugroho, 2010).

Salah satu tumbuhan yang telah banyak diteliti manfaatnya sebagi obat adalah Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus ) yang mempunyai potensi antioksidan yang tinggi, maka diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan tumbuhan tsb dengan bukti ilmiah sehingga dapat menjadi obat yang terstandar.

Periodontitis kronis merupakan infeksi jaringan periodontal pada orang dewasa pada usia 35 – 44 tahun, dengan prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia yaitu sekitar 88,6% dan meningkat pada penderita dengan penyakit sistemik. Periodontitis kronis ini disebabkan karena akumulasi plak, interaksi antara bakteri pathogen ,respon imun host dan faktor sistemik , yang kemudian merusak jaringan periodontal. Dari penelitian diketahui bahwa 80,5% bakteri yang dominan pada periodontitis khronis adalah Porphyromonas gingivalis. Inflamasi khronis pada periodontitis ini menyebabakan neutrofil yang terinduksi bakteri menghasilkan ROS (Reaktif Oksigen Species) dan akan menyebabkan stress oksidatif yang berakibat terjadi kerusakan jaringan periodontal, sehingga apabila diamati kadar MDA (Malondialdehyde) pada penderita ini akan meningkat.

Antioksidan alami dapat diperoleh dari bagian tumbuhan seperti batang, daun, buah ataupun kulit buahnya. Salah satu tumbuhan yang mempunyai kandungan antioksidan adalah Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus ). Pada penelitian ini digunakan ekstrak dari kulit buahnya karena kandungan antioksidannya lebih tinggi daripada yang terkandung dalam buahnya.

Metode dan Hasil

Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus ( Rattus Novergicus ) model periodontitis dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok control diberi gel CMC dan 3 kelompok perlakuan diberi gel ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dengan dosis 1,2,4mg/mL pada mukosa selama 3 dan 7 hari dan 1 kelompok tikus sehat ( tanpa periodontitis ).

Hasil yang didapat menunjukkan bahwa gel ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) selama 3 hari terjadi penurunan kadar MDA tikus yang mengalami periodontitis, dan dengan pemberian selama 7 hari terjadi penurunan kadar MDA lebih besar yang berbeda bermakna dibandingkan dengan pemberian selama 3 hari. Pemberian gel ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dapat menurunkan kadar MDA pada kasus periodontitis kronis

Penulis: Dr. Hendrik Setia Budi, drg., M.Kes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.ektodermaldisplazi.com/journal.htm

Hendrik Setia Budi, Wisnu Setyari Juliastuti, Ni Putu Clara Pitaloka (2019). AntioxidantEffect of Red Dragon Fruit Peel (Hylocereus polyrhizus) Extract in Chronic Periodontitis Rats. J Int Dent Med Res 2019; 12(4): xxx-xxx.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu