Pakar: Tingkat Pemberian ASI Eksklusif Pekerja Wanita Hanya di Bawah 60 Persen

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Kemunculan Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) bahwa ASI Eksklusif harus dapat diberikan selama 6 bulan dan dianjurkan untuk tetap dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih menghadapi sejumlah problem. Salah satunya bagi pekerja wanita.

Penelitian Prof Tri Martiani, salah seorang Guru Besar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, mengungkap temuan fenomena pemberian ASI eksklusif tersebut. Terutama bagi para wanita pekerja serta wanita dengan kategori usia tertentu. Temuan-temuan tersebut dituliskan Prof Tri dalam jurnal ilmiah internasional berjudul An Analysis about the Influence between Individual Characteristics and Occupational Factors Toward Exclusive Breastfeeding (EBF) (Study at Industrial Center of Sidoarjo District).

”Secara statistik, faktor umur dan shift kerja berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif oleh pekerja wanita,” ujarnya.

Menurut Prof Tri, penelitiannya berfokus pada wanita pekerja di kawasan industri di Kabupaten Sidoarjo. Ditujukan dengan mengambil sampel 114 pekerja wanita yang memiliki bayi selama bekerja.

”Tujuannya melihat pengaruh faktor karakteristik individu dan pekerjaan terhadap pemberian ASI Ekslusif pada pekerja Wanita,” ucapnya.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, hanya 47,4% yang memberikan ASI ekslusif.Persentase pekerja wanita pada usia 20-35 tahun yang memberikan ASI eksklusif sebesar 58,4%. Usia lebih dari 35 tahun 34,1% yang memberikan asi ekslusif.

”Dan, pekerja wanita yang bekerja dengan sistem shift kerja hanya  39,8% yang memberikan ASI Eksklusif,” sebutnya.

Prof Tri menjelaskan bahwa ASI eksklusif menurut WHO adalah memberikan ASI pada bayi sejak lahir hingga berumur enam bulan kecuali obat dan vitamin. Pekerja wanita menjadi salah satu faktor yang dianggap menyebabkan kurangnya pencapaian ASI Eksklusif. Hal ini dikarenakan selama bekerja, pekerja wanita akan terpisah dengan bayinya.

”Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator kesehatan yang penting. Berbagai hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan dan mencegah kematian bayi adalah dengan meningkatkan pemberian nutrisi saat 1.000 hari pertama kehidupan,” imbuhnya.

Penelitian ini, ungkap Prof Tri, menemukan hasil bahwa umur dan shift kerja secara statistik akan memengaruhi ibu untuk dapat memberikan ASI Eksklusif atau tidak. Pada penelitian ini pekerja wanita pada usia 20-35 tahun 58,4% yang memberikan ASI eksklusif, Usia lebih dari 35 tahun 34,1% memberikan ASI ekslusif.

”Walaupun secara umum tingkat pemberian ASI Ekslusif masih sangat rendah, hal menarik lainnya adalah adanya penurunan pencapaian pemberian ASI Ekslusif pada pekerja wanita usia lebih dari 35 tahun,” katanya.

Perusahaan kini, jelas Prof Tri, telah mendukung pemberian ASI Eksklusif ditempat kerja dan pada jam kerja. Hal ini tentu sangat baik agar semua ibu pekerja wanita dapat memberikan ASI Eksklusif. KIE tetap perlu dilakukan secara berkala pada pekerja wanita agar pengetahuan mereka tentang pentingnya ASI Eksklusif dapat meningkat dan mereka dapat memberikan ASI Eksklusif pada bayi mereka.

”Dengan Demikian generasi penerus bangsa dapat tumbuh secara optimal pada awal masa kehidupannya,” tuturnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i

Editor: Nuri Hermawan

Detail tulisan ini dapat dilihat di :

https://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=5&article=265

Tri Martiana dan Firman Suryadi Rahman. 2019.  An Analysis about the Influence between Individual Characteristics and Occupational Factors Toward Exclusive Breastfeeding (EBF) (Study at Industrial Center of Sidoarjo District). Indian Journal of Public Health Research & Development, Volume : 10, Issue :

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu