Pakar: Jaga Pekerja Wanita Hamil, Jaga Penerus Bangsa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Tri Martiana bersama tim melakukan penelitian soal kesehatan pekerja yang sedang hamil. Penelitian itu dilakukan pada 160 pekerja wanita di kawasan industri kabupaten Sidoarjo pada rentang waktu Oktober-Januari 2018 dengan kriteria pernah hamil dan bersedia untuk mengikuti penelitian. Perusahaan lokasi penelitian adalah perusahaan Plastik dan Jumbo bag.

Berdasarkan penelitian itu, lingkungan kerja dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi pekerja wanita. Antara lain, lingkungan perusahaan yang tidak tertata, waktu kerja yang terlalu panjang tanpa diikuti dengan waktu istirahat, supervisi lingkungan kerja yang kurang  baik,  SOP yang kurang terlaksana dengan baik, serta berbagai hazard di lingkungan kerja dapat berakibat pada terjadinya gangguan kesehatan reproduksi pada tenaga kerja wanita.

“Setiap pekerja wanita memiliki daya tahan tubuh yang bisa jadi berbeda meskipun secara umum harusnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala oleh perusahaan,” ucap Tri Martiana mengawali penjelasan soal penelitiannya.

Permasalahan gangguan kesehatan reproduksi pada tenaga kerja wanita itu, lanjut Tri Martiana, dapat terjadi dari yang ringan hingga berat. Gangguan tersebut meliputi gangguan periode mentruasi, mentruasi tidak teratur, infertilitas, STDs , bayi lahir prematur keguguran, ASI tidak lancar, dan lainnya.  

“Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa 38% pekerja wanita pernah mengalami gangguan siklus mentruasi dan 20% di antaranya periode menstruasi menjadi lebih panjang. Pekerja wanita yang mengalami gangguan kehamilan menyatakan bahwa hak-hak yang seharusnya diperoleh oleh pekerja wanita sesuai UU Ketenagakerjaan belum sepeuhnya diberikan oleh perusahaan,” ucapnya.

Sementara itu, masih di penelitian yang sana, sebanyak 78% pekerja wanita pernah mengalami gangguan kesehatan reproduksi dari yang ringan hingga berat, 75% terpapar bising dan 78% bekerja pada ruangan dengan suhu yang panas. Faktor risiko bising dan lingkungan kerja yang panas berpotensi menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, baik pada ibu ataupun pada janin yang dikandung oleh ibu.

Tri Martiana melanjutkan, lingkungan kerja yang bising dapat mengakibatkan gangguan kesehatan secara langsung pada pekerja wanita. Papapran bising yang melibihi Nilai Ambang Batas (NAB) secara terus menerus, dapat menyebabkan terjadinya infertilitas, lahir prematur, dan keguguran. Selain itu, pekerja wanita juga berisiko mengalami  Hearing Loss.

“Secara tidak langsung, bising di tempat kerja dapat menyebabkan gangguan perkembangan indra pendengaran pada bayi. Hal ini tentu  masih memerlukan data lebih lanjut,” ucapnya.

Namun, kata Tri Martiana, The Swedish Work Enviromental Authority merekomendasikan agar ibu hamil harus dilindungi dari paparan bising  lebih dari 80dB.

Dari berbagai permasalahan yang ditemukan itu, ucap Tri Martiana, seharusnya dapat menjadi kesadaran bersama utamanya bagi pemilik usaha untuk dapat meminimalkan berbagai faktor risiko yang membahayakan pekerja wanita. Selain itu, perlindungan terhadap pekerja wanita juga perlu dilaksankan sesuai undang- undang yang berlaku.

“Menjaga kesehatan ibu pekerja wanita baik yang hamil ataupun tidak sedang hamil, berarti juga menjaga penerus bangsa  yang akan lahir dari ibu pekerja,” ungkapnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Khefti Al Mawalia

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di:

https://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=5&article=267

Akbar Ratna Agustina, Martiana Tri2, Purnomo Windhu, Izwardy Ir. Doddy. 2019. Analysis of the Effect of Work Environment Against Pregnancy Disorders to the Female Workers in PT.X. Indian Journal of Public Health Research & Development, Vol 10 issue 5 ISSN : 0976-5506.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu