Metafora Nama Hewan dalam Ungkapan Bahasa Jawa di Masyarakat Tengger

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi masyarakat Tengger. (Sumber: Merdeka Malang)

Dalam studi semantik, makna (meaning) merupakan sarana bahasa yang memegang peranan penting dalam penggunaan ungkapan sebagai perwujudan aspirasi seseorang yang berkaitan dengan pujian, sindiran, kritik maupun humor. Salah satu penggunaan ungkapan yang sering dituturkan dalam kehidupan masyarakat, yaitu metafora.

Bentuk metafora dapat menggambarkan hal-hal dengan jelas, yaitu dengan cara membandingkan sesuatu bentuk dengan bentuk yang lain dengan memiliki ciri-ciri dan sifat yang sama serta ditampilkan dalam bentuk yang singkat dan padat.

Dalam hal ini, Ullman (2007:265) menyatakan bahwa metafora sangat berhubungan erat dengan jaringan tuturan manusia dengan melukiskan perbandingan dua unsur secara eksplisit.

Sehubungan dengan penggolongan metafora, bentuk yang sering muncul dan digunakan oleh masyarakat sebagai pengguna bahasa adalah metafora dengan memanfaatkan nama-nama bintang (animal metaphors). Demikian juga dengan masyarakat Tengger terkadang menggunakan ungkapan metafora di dalam tuturan sehari-hari.

Misalnya, bentuk metaphor “wedhus gembel”, merupakan salah satu contoh bentuk metafora untuk menyatakan suatu keadaan awan menggumpal pada saat gunung meletus dengan membentuk menyerupai kambing, yang lebih dikenal dengan sebutan dalam bahasa Jawa wedhus gembel.

Selain bentuk “wedhus gembel” terdapat istilah ulo kadut yang menggambarkan suatu kondisi seseorang yang malas bekerja. Kata ulo kadut merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang merupakan nama sejenis ular yang bentuknya menyerupai kadut (dalam bahasa Jawa). Pemberian nama ula kadut tersebut disamakan dengan sifat dan karakter seseorang yang pemalas.

Selain bentuk ulo kadut, terdapat istilah lain yaitu koyok welut yang menggambarkan sifat dan karakter seseorang yang berubah-ubah sifatnya. Penggunaan metafora nama hewan tampaknya merupakan refleksi dari bentuk kebahasaan yang sangat kompleks sehingga muncul dalam berbahasa.

Adapun situasi tuturan yang sedang berlangsung antara pembicara dan lawan bicara ketika komunikasi dapat menyebabkan munculnya bentuk ungkapan sebagai cerminan dalam berbahasa dengan memunculkan gagasan, pengertian maupun konsep yang baru. Pembentukan ungkapan dengan menggunakan unsur hewan dapat dijadikan sebagai objek penelitian yang sangat menarik mengingat masih jarang dilakukan sehingga membentuk konstruksi yang unik dan menarik.

Dari data tersebut, terdapat istilah macan luwih dalam tuturan yang disampaikan oleh penutur kepada lawan tutur, yaitu “Suwene nek mlaku koyok macan luwih”. Kata macan merupakan istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut nama hewan, yaitu macan, singa atau harimau. Bagi masyarakat Tengger, penyebutan istilah macan luwih merupakan bentuk ungkapan metafora yang memang ditujukan kepada seorang perempuan yang cara berjalannya perlahan-perlahan.

Bahkan, penggunaan ungkapan metafora tersebut sudah berkembang dengan istilah yang berbeda, misalnya ada yang menyebutkan bahwa seorang perempuan yang berjalan lambat sering disamakan dengan orang telah melahirkan sehingga muncul tuturan nek mlaku koyok wong ngelahirno. Jadi, kedua istilah koyok macan luwih mengacu pada maksud yang sama, yaitu cara berjalan seseorang. Dari tuturan yang dilontarkan oleh penutur tersebut, bentuk ungkapan macan luwih digunakan sebagai penghubung sesuatu, yaitu cara seseorang berjalan.

Dari data yang lain dapat dilihat bahwa terdapat istilah kucing kawin dalam tuturan yang disampaikan oleh penutur kepada lawan tutur, yaitu “Wong sik kenal rong wulan, wis memeti koyok kucing kawin”. Kata kucing kawin  merupakan istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut nama seekor kucing yang pada musim-musim tertentu mencari pasangannya di malam hari.

Penggunaan ungkapan metafora kucing kawin tersebut dapat diartikan sebagai pengganti bahwa situasi yang yang dihadapi sangatlah ramai dan rebut. Sehingga dalam hal ini, masyarakat di Gresik memberikan gambaran yang jelas apabila suasana sedang ramai, banyak yang bicara dalam keadaan ribut, apalagi yang dibahas sesuai dengan konteksnya, maka sering dihubungkan dengan kucing kawin.

Penggunaan ungkapan metafora tersebut sudah berkembang dengan istilah yang berbeda, misalnya ada metafora kucing kera, yaitu mengacupada orang yang suka bertengkar. Jadi, kedua istilah koyok kucing kawin dan kucing kera sama-sama mengacu pada maksud yang sama, yaitu suasana ribut, oang yang suka bertengkar, dan adu mulut.

Berdasarkan temuan data dapat disimpulkan bahwa ungkapan metafora dalam bahasa Jawa dengan menggunakan hewan memang merupakan bentuk yang sangat variasi. Di dalam komunikasi sehari-hari, masyarakat Tengger sering menggunakan bentuk metafora dengan nama hewan sebagai ungkapan untuk menyatakan humor, menyindir dan mengkritik sesuatu.

Penggunakan bentuk metafora meruapakan peristiwa tindak tutur untuk menyatakan sesuatu atau memberi informasi kepada orang lain bahwa sifat dan karakter seseorang itu dapat dihubungan dengan nama-nama hewan. Dalam hal ini, penggunaan bentuk metafora dengan nama hewan masih digunakan oleh masyarakat sebagai aspirasi perwujudan  gejala kebahasaan di dalam komunikasi sehari-hari. (*)

Penulis: Dwi Handayani

Informasi lebih lengkap dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.atlantis-press.com/proceedings/prasasti-19/125915921

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu