Daging Mentah sebagai Penyebaran Penyakit Taeniasis dan Cysticercosis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh hotcopas

Penyakit Taeniasis dan Cysticercosis menjadi isu permasalahankesehatan diseluruh dunia karena menyebabkan masalah kesehatan serta kerugian ekonomi yang besar pada negara berkembang yang memiliki sistem sanitasi dan pemeliharaan yang buruk.Taeniasis dan Cysticercosis merupakan penyakit zoonosis atau menular yang disebabkan oleh cacing pita golongan Taeniidae yaitu Taenia solium dan Taenia saginata. Babi dan sapi bertindak sebagai inang perantara yang menyebabkan cysticercosis babi (porcine) dan cysticercosis sapi (bovine) sedangkan manusia bertindak sebagai inang definitif atau utama pada infeksi Taenia solium dan Taenia saginata yang mengarah ke penyakit taeniasis.

Munculnya penyakit ini disebabkan oleh memakan daging sapi dan babi yang mentah atau kurang matang serta manusia yang buang air sembarangan. Babi dan sapi terinfeksi apabila menelan air, pakan atau rumput yang terkontaminasi dengan telur Taenia solium dan Taenia saginata yang dikeluarkan oleh manusia saat buang air sembarangan. Kemudian telur akan berkembang menjadi kistadi berbagai organ dan otot-otot (daging) yang menyebabkan penyakit cysticercosis. Sedangkan pada manusia, terinfeksi apabila memakan daging mentah atau kurang matang yang mengandung telur atau kistaTaenia solium dan Taenia saginata yang menyebabkan penyakit taeniasis saat metacestoda berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh manusia.

KistaTaenia solium dapat berkembang di semua organ tubuh akan tetapi yang berkembang di otak dapat menyebabkan infeksi paling serius yang disebut neurocysticercosissedangkan Taenia saginata tidak bisa menyebabkan neurocysticercosis. Pada neurocysticercosis akan terlihat gejala seperti tumor atau epilepsi, lemah sampai menyebabkan kematian. Kistayang terdapat di dalam jaringan subkutan dan otot di bawahnya membentuk suatu benjolan yang disebut benjolan di bawah kulit atau subcutaneous nodule. Pada babi dan sapi yang terinfeksi akan terlihat bercak-bercak atau titik putih pada organ dan otot (daging).

Hewan merupakan salah satu mahkluk hidup yang sangat dekat keberadaanya dengan manusia dan dapat berperan sebagai sumber penyebaran penyakit taeniasis dan cysticercosis yang telah dibuktikan oleh beberapa penelitian di Indonesia maupun luar negeri. Populasi sapi dan babi di Indonesia cukup banyak, bahkan jumlah peternakan meningkat setiap tahunnya. Sapi dan babi merupakan salah satu bahan pangan asal hewan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Mengingat di Indonesia banyak masyarakat beragama non muslim yang gemar mengonsumsi daging babi dan masyarakat muslim yang mengonsumsi daging sapi, serta kebiasaan hidup kurang higienis atau bersih serta fasilitas sanitasi yang kurang memadai memicu tingginya kasus penyakit ini. Keberadaan penyakit ini pada hewan babi dan sapi akan berdampak buruk untuk kehidupan manusia. Penyakit taeniasis dan cysticercosis berkaitan dengan cara pemeliharaan ternak yang tidak dikandangkan serta kebiasaan pengolahan makanan yang kurang matang.

Penelitian mengenai penyakit cysticercosis sangat diperlukan sebagai ilmu pengetahuan dan sumber informasi kepada masyarakat tentang penyakit cysticercosis yang bersifat menular dan bisa ditularkan melalui bahan pangan asal hewan yang pengolahannya kurang sempurna serta dapat digunakan sebagai dasar tindakan pencegahan untuk masyarakat agar tidak terinfeksi taeniasis dan cysticercosis yang dapat ditularkan melalui hewan, khususnya sapi dan babi. Selain itu juga dapat digunakan untuk peternak agar dapat meningkatkan biosafety dan biosecurity. Penelitian ini juga diharapkan dapat sebagai kesadaran publikagar masyarakat menerapkan kebersihan dan sanitasi yang baik.

Mengingat penyebab penyakit ini adalah golongan parasit cacing pitataeniidae maka tindakan vaksin tidak diterapkan pada ternak-ternak yang rentan terhadap penyakit ini (sapi dan babi) oleh karena itu tindakan pencegahan yang tepat adalah meningkatkan biosafety dan biosecurity, selain itu penerapan kebersihan dan sanitasi yang baik di lingkungan juga sangat pentingdalam mencegah penyebaran taeniasis dan cysticercosis. Bagi manusia, hal yang terpenting untuk mencegah penyakit ini adalah dengan tidak memakan daging babi maupun sapi mentah atau kurang matang. Dengan penerapan kebersihan dan sanitasi yang baik, peningkatan biosafety dan biosecurity serta memakan daging babi dan sapi yang matang diharapkan dapat menciptakan kehidupan yang sehat dan terhindar dari serangan penyakit.

Penelitian tentang taeniasis dan cysticercosis penting untuk dilakukan terutama pada hewan-hewan yang berhubungan dengan manusia dan yang populasinya tinggi di Indonesia.Tingginya populasi sapi dan babi di Indonesia dan kurangnya penerapan biosafety dan biosecurty pada peternakan sapi dan babi yang dikandangkan maupun tidak dikandangkan menjadi salah satu faktor penyebaran taeniasis dan cysticercosis. Taenia sp yang terkandung dalam kotoran manusia dapat mencemari lingkungan di sekitar peternakan sedangkan hewan yang menelan air atau rumput mengandung telur Taenia sp dapat menyebarkan cacing (kistaTaenia sp) melalui otot (daging). Proses penularan tersebut yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat dalam hal food saftey atau keamanan pangan karena manusia terinfeksi melalui bahan pangan asal hewan yang kurang matang atau mentah.

Penulis : Happy Vidhyati Sartika (Mahasiswi Pasca Sarjana Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Program Studi Ilmu Penyakit Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu