RSUA Berikan Pembekalan Kesehatan pada Kontingen PON yang Akan Berlaga di Papua

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sebanyak 750 atlet dan pelatih dari seluruh Jawa Timur yang akan mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua bulan November 2020 mendatang mendapatkan pembekalan kesehatan dari RSUA. (Foto: Nindita Naisela)

UNAIR NEWS – Untuk mempersiapkan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diadakan di Papua bulan November 2020 mendatang, KONI Provinsi Jawa Timur mulai memberikan pembekalan kepada atlet yang akan bertanding. Salah satunya adalah pembekalan terkait penyakit berbahaya yang ada di Papua.

Pembekalan dilakukan dengan mendatangkan dokter dari Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Bertempat di Aula KONI Surabaya, pembekalan diikuti sebanyak 750 atlet dan pelatih dari seluruh Jawa Timur, yang dibagi menjadi tiga hari yaitu pada tanggal 19-21 Desember 2019.

Pembekalan hari kedua pada Jumat (20/12) disampaikan oleh dr. Tripudy Asmarawati, Sp.PD. dokter ahli penyakit dalam RSUA. Dalam pembekalan itu Tripudy menjelaskan mengenai penyakit berbahaya yang ada di Papua, di antaranya adalah penyakit Malaria, Demam Berdarah (DBD), dan HIV AIDS.

Terkait dengan penularan penyakit malaria, ujar Tripudy, adalah penyakit yang bermula dari gigitan nyamuk jenis Anopheles betina yang membawa parasite malaria.

“Setelah parasite ini (malaria, Red) masuk ke tubuh manusia, efeknya tidak akan terasa langsung bahkan bisa beberapa hari kemudian,” ungkapnya.

Tripudy mengungkapkan, gejala yang timbul apabila telah terjangkit malaria adalah menggigil, panas, dan munculnya keringat yang banyak.

Selain malaria, penyakit berbahaya yang juga disebabkan karena gigitan nyamuk adalah demam berdarah (DBD). Nyamuk Aides Aegypti adalah nyamuk yang membawa virus dengue penyebab DBD tersebut.

dr. Tripudy Asmarawati, Sp.PD. dokter ahli penyakit dalam RSUA memberikan pembekalan kepada 750 atlet dan pelatih dari seluruh Jawa Timur yang akan mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diadakan di Papua bulan November 2020 mendatang. (Foto: Nindita Naisela)

Tripudy lantas menjelaskan gejala klinis yang menandakan seseorang terjangkit DBD. Antara lain demam tinggi, sakit kepala terputus-putus, sakit di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual dan muntah, dan juga ruam di tangan.

“Sebagai pencegahan supaya tidak terkena Malaria dan DBD adalah dengan selalu menggunakan lotion anti nyamuk selama kegiatan di sana, khusus untuk Malaria bisa meminum obat khusus sebelum berangkat dan selama di sana sebagai pencegahan,” tutur Tripudy.

Selanjutnya Tripudy menjelaskan mengenai penyakit HIV/AIDS. Di Papua sendiri, ungkap Tripudy, adalah peringkat pertama di Indonesia terkait jumlah kasus AIDS. Faktornya bisa karena akses kesehatan yang masih kurang. Penularan dari HIV/AIDS ini terjadi dengan dua cara, yaitu lewat darah dan cairan kelamin.

“Untuk pencegahan dari penyakit HIV/AIDS hindari melakukan seks bebas, dan menggunakan jarum suntik secara bergantian” ungkap Tripudy. (*)

Penulis : Sugeng Andrean

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu