Pemantauan Minum Obat anti-TBC berdasar Penurunan Jumlah Basil Tahan Asam

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh dokter sehat

Penyakit TBC paru dapat ditimbulkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTBC). Bakteri ini berbentuk batang atau basil yang tampak pada pemeriksaan dahak dari pesien, pada sediaan usap dahak pasien pada gelas objek yang diperiksa menggunakan mikroskop dengan lensa pembesaran 1500 kali sehingga tampak basil penyebab TBC paru. Pada pasien yang diduga TBC paru, yang memiliki keluhan dan gejala seperti batuk kronis lebih dari 3 minggu, dengan batuk berdahak kental keruh kuning kecoklatan atau kehijauan dapat disertai bercak darah, berat badan menurun, nafsu makan terganggu, sering sumer, dari anamnesis keluhan pasien tersebut ditentukan pasien terduga menderita TBC paru, kemudian pasien masih harus dilakukan  pemeriksaan fisik lengkap oleh dokter, auskultasi dengan alat stetoskop terdengar suara paru ronki (suara aliran udara pernafasan yang kasar karena udara pernafasan bercampur dahak atau slem kental), selain itu juga dilakukan pemeriksaan ronsen foto dada dengan gambaran kelainan paru yang karakteristik infeksi kronik, maka pasien tersebut dinyatakan  sebagai pasien dengan dugaan menderita TBC paru (suspected TBC paru).  

Setelah Pasien dinyatakan dengan dugaan menderita TBC paru, langkah selanjutnya harus ditegakkan Diagnosis TBC paru dengan memastikan ditemukan adanya bakteri BTA penyebab TBC paru pada dahak nya, yang digunakan sebagai dasar penentuan pengobatan menggunakan obat anti-TB dengan tepat dan segera.

Bakteri penyebab penyakit TBC paru, dilaporkan pada banyak penelitian, ternyata terlibat banyak ragam karakter biologis yang dikelompokkan dalam species dan lebih lanjut dalam strains. Saat ini dilaporkan telah ditemukan berbagai species dan strain-strain bakteri MTBC pada pasien-pasien TBC paru di berbagai wilayah di dunia, yang memiliki karakter biologis berbeda dalam menimbulkan berat ringan nya penyakit TBC, termasuk dilaporkan munculnya strain Beijing dengan distribusi 50% dari seluruh strain-strain Mycobacterium tuberculosis di wilayah Asia Timur.

Beberapa peneliti melaporkan strain Beijing diprediksi berkaitan dengan peningkatan virulensi (karakter biologis yang ganas dapat merusak jaringan paru-paru lebih berat dan luas) menyebabkan sakit TBC paru yang berat, juga berkaitan dengan karakter bakteri MTBC resisten terhadap obat anti-TB dengan akibat kegagalan pengobatan.

Setelah PENEGAKAN DIAGNOSIS TBC Paru, dideteksi BTA dari dahak pasien, segera diberi obat anti-TB. Pada penanganan pengobatan pasien TB harus dilakukan pamantauan dan evaluasi kesembuhan pasien, alat ukur yang sederhana, mudah dan cepat berdasarkan penurunan jumlah BTA dalam dahak pasien. Jumlah BTA diukur mulai pasien sebelum mulai minum obat anti-TB, saat setelah pasien teratur minum obat anti-TB berjalan minum obat 2 bulan dievaluasi penurunan jumlah BTA, kemudian dilakukan evaluasi setelah bulan ke lima atau bulan ke enam dengan minum obat teratur, KONVERSI BTA pada pemantauan pengobatan obat anti-TB merupakan alat ukur KEBERHASILAN PENGOBATAN, pasien dapat dinyatakan sembuh setelah pengobatan teratur dan BTA negatif.

Hasil pemeriksaan mikroskopis BTA pada dahak pasien TBC paru, dilaporkan jumlah BTA dengan kriteria standar berdasar ditemukan atau tidak BTA dan tingkat banyaknya BTA, dilaporkan BTA negatif bila tidak ditemukan BTA, bila ditemukan BTA dinyatakan sesuai banyaknya BTA, mulai BTA 1+, BTA 2+, BTA 3+.  Penurunan tingkat positif deteksi BTA, di awal pasien TBC paru ditemukan apakah positif BTA 3+ atau 2+ atau 1+ menjadi turun positifnya atau menjadi negatif setelah fase minum obat teratur.

Penelitian ini bertujuan: analisis asosiasi konversi BTA pada pengobatan pasien TBC paru dengan temuan penyebab infeksi Mycobacterium tuberculosis strain Beijing atau non-Beijing dari dahak pasien. Penelitian observasi prospektif analitik (berdasar evaluasi data yang diproleh pada pengamatan laboratorium, kejadian konversi BTA dalam dahak pasien selama fase pengobatan pasien TBC paru), pengamatan dilakukan pada 36 pasien TBC paru di Sulawesi Selatan pada bulan Maret 2018 sampai Juli 2018. Pada sampel dahak pasien juga dilakukan penentuan strain Beijing atau non-Beijing menggunakan prosedur laboratorium metode multiplex PCR, di Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga.

Hasil penelitian menyatakan 88,9% (32 dari 36 dahak pasien) dengan konversi BTA setelah fase minum obat anti-TB teratur, dengan temuan strain non-Beijing 83,3% (30 dari 36 dahak pasien), dan 16,7% (6 dari 36 pasien) strain Beijing. Analisis bivariat p value 0,22 menyatakan ada asosiasi antara konversi BTA dengan strain non-Beijing atau Beijing. Simpulan penelitian ini menyatakan pemeriksaan mikroskopis BTA berguna untuk pemantauan dan evaluasi keberhasilan pengobatan pasien TBC paru, dan penentuan Mycobacterium tuberculosis strain non-Beijing atau Beijing dapat sebagai prediksi kemudahan pengobatan.

Penulis: Ni Made Mertaniasih, Syahrida, Soedarsono

Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://e-journal.unair.ac.id/IJTID/article/view/9670/0

Syahridha, Ni Made Mertaniasih, Sustini Florentina, and Soedarsono(2019). Acid-Fast Bacilli Conversion of Beijingand non-Beijing Strain of Pulmonary Tuberculosis in Sout Sulawesi. Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease; http://dx.doi.org/10.20473/ijtid.v7i5.9670

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu