Pemanfaatan Protein Bakteri Probiotik untuk Pencegahan Tumor Prostat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh sains kompas

Pada kebanyakan laki-laki yang berusia antara 51 hingga 60 tahun mengalami gangguan pada kelenjar reproduksi antara lain dengan adanya tumor prostat atau dikenal dengan istilah BPH (Benign Prostatic Hyperplasia).  Tumor prostat terjadi ketika terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh. Pada laki-laki yang berusia 51-60 tahun meningkat terjadinya tumor prostat.  Pada laki-laki dihasilkan hormon testosteron yang berperan untuk penambahan ukuran prostat,  dan hormon ini terus dihasilkan pada laki-laki meskipun pada usia tua kadarnya menurun.  Prostat terus mengalami pertumbuhan dan prostat letaknya mengelilingi saluran urin yang disebut urethra. 

Akibat penambahan massa prostat ke arah dalam yaitu ke arah saluran urin atau urethra, maka terjadi penyempitan urethra yang pengaruhnya adalah gangguan pada urinari dan selanjutnya menyebabkan pengendapan urin di kandung kemih. Pengendapan urin menimbulkan pertumbuhan bakteri  atau virus. Dengan adanya infeksi bakteri atau virus patogen pada kandung kemih dan adanya penurunan sistem kekebalan tubuh pada laki-laki tua, maka infeksi dapat menyebar menuju organ terdekat antara lain dapat terjadi  pada prostat,  yang terletak di bawah kandung kemih dan di pangkal urethra. Adanya infeksi bakteri atau virus menimbulkan peradangan dan kondisi ini memacu pertumbuhan sel prostat sehingga pembesaran prostat semakin cepat dan menjadi tumor prostat.  

Kejadian  tumor prostat pada usia 51-60 adalah 50% dan pada usia di atas 80 tahun, kejadian BPH meningkat menjadi 90%. Semakin tua seorang pria, sistem kekebalan tubuh akan semakin menurun dan itu akan meningkatkan kejadian tumor prostat. Dengan mengkonsumsi bakteri probiotik dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bakteri probiotik dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan meningkatkan sel-sel kekebalan (sel limfosit) yang memfagosit bakteri patogen. Bakteri probiotik adalah bakteri asam laktat. Bakteri ini menghasilkan metabolit seperti asam asetat, asam laktat, asam, propionat, etanol, diacetyl, hidrogen peroksida, bacteriocin dan proteinase termasuk endopeptidase, aminopeptidase, tripeptidase dan dipeptidase yang berperan sebagai zat antibakteri.

Bakteri probiotik hidup yang terdapat dalam minuman kesehatan dapat menyebabkan infeksi jika individu yang mengkonsumsi dalam kondisi sakit dan bakteri juga dapat menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan seperti nyeri lambung, perut kembung dan diare. Selain itu, bakteri probiotik hidup itu dapat menyebabkan respons imun yang berlebihan dan juga dapat menyebabkan transfer gen yang mengubah sifat bakteri probiotik.

Senyawa yang berguna dari bakteri probiotik adalah enzim protease dan enzim lain yang merupakan senyawa protein. Enzim protease berperan memecah protein menjadi peptida yang lebih aktif. Dan peptida yang aktif dapat bertindak sebagai penghambat pertambahan jumlah sel. Penelitian dengan  protein bakteri probiotik dimaksudkan untuk mengetahui peranan protein  dari bakteri itu tanpa menggunakan bakteri hidup. Salah satu bakteri probiotik adalah Lactobacillus rhamnosus. L. rhamnosus adalah bakteri yang ada secara alami di dalam tubuh, terutama di usus [5]. Lactobacillus rhamnosus telah digunakan sebagai probiotik untuk mencegahpertumbuhan bakteri berbahaya di lambung, usus, kandung kemih dan vagina. L. rhamnosus terutama fraksi sitoplasma memiliki efek antiproliferatif pada HGC-27 (sel kanker lambung manusia). 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh protein Lactobacillus rhamnosus terhadap penghambatan pertambahan jumlah sel pada tumor prostat. Sebelum penelitian ini dilakukan identifikasi protein bakteri L. rhamnosus dengan elektrophoresis dan diketahui bahwa protein yang dominan adalah Xaa-Pro Dipepetidyl Peptidase. Penelitian ini dilakukan dengan mencit sebagai hewan percobaan. Enam puluh mencit jantan dikelompokkan menjadi enam kelompok. Satu kelompok adalah kelompok kontrol dan kelompok lainnya adalah kelompok perlakuan (ditambahkan dengan 20, 40, 60, 80 dan 100 ug /ml protein L. rhamnosus secara oral setiap hari selama 30 hari). Setiap mencit disuntik dengan hormon testosteron 3 mg / kg berat badan 4 kali dalam 30 hari untuk menginduksi terjadinya tumor prostat. Mencit dikorbankan pada hari ke-31 dan organ prostat diambil untuk membuat sediaan histologis untuk pengamatan mikroskopis. Efek pada proliferasi sel diamati dengan mengukur diameter, ketebalan lapisan sel epitel dan sel stroma kelenjar prostat. Hasil penelitian menunjukkan ada penurunan dari ketiga parameter itu pada perlakuan dengan pemberian protein L. rhamnosus dan konsentrasi protein L. rhamnosus optimal untuk ini adalah 60 ug / ml. 

Protease (Xaa-Pro Dipeptidyl peptidase) memiliki aktivitas mendegradasi polipeptida menjadi peptida yang lebih sederhana dan dapat bertindak sebagai penghambat proliferasi dan antimikroba sel tumor. Penghambatan mikroba atau bakteri patogen akan mengurangi terjadinya peradangan pada prostat dan menghambat pembesaran prostat. 

Penulis: Listijani Suhargo1, a), Sri Puji Astuti Wahyuningsih1, b), Hari Supriandono1, c) and Agus Supriyanto1, d) 

1Departement of Biology, Faculty of Science and Technology, Airlangga University, Indonesia. 

Link terkait: http://repository.unair.ac.id/view/type/other.html

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu