Pakar Ungkap Sel Punca Sebagai Terapi Peremajaan Kulit

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Adanya penurunan kapasitas pertumbuhan jaringan kulit, penurunan viabilitas, gangguan keratinosit, penurunan produksi kolagen, dan penurunan serabut elastic membuat terjadinya penuaan kulit akibat terpaparnya sinar matahari dari radiasi ultraviolet. dr. Ni Putu Sussari Widianingsih, Sp.KK, FINSDV, FAADV mengungkapkan bahwa terjadinya penuaan ditandai dengan munculnya kerutan, kulit menipis, kulit kasar, perubahan warna kulit, telangiektasis (pelebaran pembuluh darah kecil), dan kulit kendur.

“Penuaan kulit ini terjadi karena bertambahnya usia yang disebabkan oleh faktor internal misalnya genetik, photoaging misalnya radiasi ultraviolet,” ungkapnya.

Perihal hal tersebut, Ni Putu Sussari Widianingsih dan tim meneliti pengembangan terapi yang cocok untuk meremajakan kulit.Terapi yang mungkin dapat dilakukan yaitu menggunakan stem cell atau sel punca. Menurutnya, sel punca mengandung sitokin, faktor pertumbuhan, dan protein bioaktif lain yang membantu proses penyembuhan.

“Sel punca dapat diambil dari amnion, korion, cairan amnion, dan Wharton jelly yang dapat dengan mudah diambil, aman, serta tanpa efek imunogenik dan tumorigenic,” tuturnya.

Adanya faktor pertumbuhan, sambungnya, merupakan penemuan baru dalam terapi peremajaan kulit. Faktor pertumbuhan merupakan molekul hidrofilik (berikatan dengan air) yang berukuran lebih dari 20 kDA padahal diketahui bahwa molekul hidrofilik (berikatan dengan air) yang lebih dari 500 DA akan sulit untuk penetrasi ke kulit.

“Diperlukan suatu metode untuk dapat mengantarkan faktor pertumbuhan ke dalam kulit. Suatu metode potensial yang ada saat ini misalnya transepidermal drug delivery (TED), lasser assisted transdermal delivery (TDD) yang menggunakan fractionated lasers untuk mengurangi efek samping,” ujarnya.

Penggunaan fractionated laser yaitu bertujuan untuk melubangi stratum korneum (lapisan terluar kulit). Namun hal itu dapat merusak epidermis sehingga muncul efek samping misalnya kemerahan, bengkak, melepuh, kadang menyebabkan infeksi, dan perubahan pigmentasi kulit yang reversible maupun permanen. Terapi laser fractional CO2 , lanjutnya, dapat memfasilitasi perpindahan obat topikal ke dalam kulit. Namun telah ditemukan terapi lain yang lebih unggul karena memiliki efek samping yang lebih kecil yaitu terapi laser ablative fractional erbium-doped yttrium aluminum garnet (Er-YAG).

“Terapi-terapi itu dapat membantu untuk memfasilitasi perpindahan obat ke dalam kulit termasuk AMSC,” tandasnya.

Hasil dari penelitian yang melibatkan 9 wanita dengan usia  41-57 tahun mengungkapkan bahwa terapi fractional erbium Yag laser yang dikombinasikan dengan pemberian produk metabolit AMSC sangatlah efektif dan aman. Pilihan terapi peremajaan kulit itu baik untuk pasien di Asia.

“Terapi ini dapat mengantarkan produk metabolit AMSC ke dalam kulit dan mempermudah absorbsinya sehingga dapat bekerja lebih baik untuk mengatasi permasalah kulit,” tutupnya.

Penulis: Khefti Al Mawalia

Editor: Nuri Hermawan

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.pagepress.org/journals/index.php/dr/article/view/8036

Ni Putu Susari Widianingsih, Trisniartami Setyaningrum, Cita Rosita S. Prakoeswa. 2019. The efficacy and safety of fractional erbium yag laser combined with topical amniotic membrane stem cell (AMSC) metabolite product for facial rejuvenation: A controlled, split-face study. doi.org/10.4081/dr.2019.8036.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu