Luka pada Sudut Mulut Jangan Dianggap Enteng

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI luka di sudut mulut. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI luka di sudut mulut. (Foto: Istimewa)

Luka pada sudut mulut atau dalam bahasa kedokteran disebut Angular Cheilitis merupakan suatu luka akibat suatu keradangan yang terjadi pada sudut bibir. Kondisi ini biasanya ditandai dengan sudut bibir yang pecah-pecah, mengelupas, lalu kemudian muncul kemerahan dan rasa perih terutama saat membuka mulut. Keadaan ini juga bisa disertai suatu perdarahan akibat terjadi luka saat membuka mulut.

Penyebab utama

Penyebab utama dari angular cheilitis adalah kombinasi infeksi jamur dan bakteri. Jamur yang paling sering menimbulkan angular cheilitis adalah Candida albicans, sedangkan bakteri yang terlibat adalah staphylococcus aureus. Kedua macam jamur dan bakteri tersebut sebenarnya merupakan mikroorganisme yang lazim ditemui di rongga mulut manusia, namun pada kondisi tertentu kedua mikroorganisme ini bisa berubah sifat menjadi patogen, yaitu menimbulkan penyakit pada tubuh manusia.

Kondisi yang dapat memicu timbulnya angular cheilitis, antara lain, adalah munculnya lipatan pada sudut mulut sebagai akibat dari penurunan dimensi vertikel rahang atas dan rahang bawah. Hal ini terjadi akibat proses penuaan dan juga akibat kehilangan gigi belakang sehingga menyebabkan mulut kehilangan penopangnya. Daerah sudut mulut yang terlipat ini akan memudahkan air ludah terperangkap di situ sehingga menghasilkan daerah yang lembab dan jamur Candida albicans akan dapat tumbuh dengan baik.

Selain itu, kondisi lain yang dapat memicu timbulnya angular cheilitis adalah kebiasaan menjilat bibir, defisiensi nutrisi, dan karena suatu penyakit sistemik tertentu, contohnya diabetes mellitus dan HIV/AIDS.

Kebiasaan menjilat bibir menyebabkan bibir kehilangan minyak alami yang diproduksi oleh kelenjar permukaan kulit untuk melembabkan permukaan bibir. Ketika sering dijilat, minyak menghilang, dan air ludah yang mengering pada permukaan bibir menyebabkan bibir menjadi makin kering dan mudah retak ketika bergerak. Permukaan bibir yang retak akan memudahkan jamur dan bakteri untuk berkolisasi dan melakukan penetrasi ke dalam.

Defisiensi nutrisi, terutama vitamin tertentu, dapat ikut berperan memicu timbulnya penyakit ini. Berbagai vitamin berperan penting dalam regenerasi sel kulit dan rongga mulut. Defisiensi vitamin tersebut akan menyebabkan proses regenerasi sel terhambat, sehingga kulit pelapis bagian sudut mulut menjadi lebih tipis dan mudah terjadi luka. Luka yang timbul mungkin tidak terlalu besar awalnya, namun ketika diinfeksi oleh jamur dan bakteri, maka terjadilah angular cheilitis.

Diabetes melitus adalah penyakit sistemik yang juga sering memicu timbulnya angular cheilitis. Peningkatan glukosa darah yang terjadi pada pasien diabetes mellitus akan melemahkan sistem imun pasien, sehingga menyebabkan pasien rentan terhadap infeksi. Selain itu, penyakit diabetes mellitus juga menyebabkan kesembuhan luka terhambat, sehingga resiko akan pertumbuhan jamur dan bakteri meningkat dan memudahkan terjadinya infeksi.

Pasien yang menderita infeksi HIV/AIDS juga sangat rentan terkena kombinasi infeksi jamur dan bakteri ini pada sudut mulutnya. Pasien HIV/AIDS memiliki sistem imun yang sangat lemah akibat virus HIV menyerang tepat pada sel imun tubuh. Pasien menjadi sangat rentan terhadap infeksi, bahkan dari mikroorganisme yang lazim berada di tubuh manusia. Pada pasien yang menderita HIV/AIDS, angular cheilitis dapat terjadi berulang-ulang atau kambuhan dalam waktu yang berdekatan.


Pengobatan

Meskipun penyebab utamanya sudah diketahui sebagai kombinasi infeksi jamur dan bakteri, namun pengobatan angular cheilitis bergantung pada kondisi medis yang mendasarinya. Dokter pasti akan memberikan kombinasi obat antijamur dan antibakteri untuk pengobatan secara lokal. Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menemukan latar belakang medis yang memicu angular cheilitis pada pasien tersebut. Apabila kehilangan gigi maka diperlukan untuk pembuatan gigi palsu untuk mengembalikan ketinggian rahang. Jika ditemukan adanya kondisi diabetes mellitus, maka kontrol glukosa darah mutlak dilakukan. Demikian pula bila ditemukan defisiensi nutrisi atau bahkan infeksi HIV/AIDS, maka pasien juga akan dirujuk untuk menjalani perawatan bersama antara dokter gigi spesialis penyakit mulut (Sp.PM.) dan dokter spesialis lain yang terkait, seperti spesialis penyakit dalam (Sp.PD.).

Selain pengobatan di atas, pengobatan lain yang digunakan untuk mengatasi keluhan angular cheilitis meliputi pemberian antiseptik topikal untuk menjaga kebersihan bibir dan pasien disarankan untuk menggunakan pelembap bibir atau lip balm secara teratur untuk mencegah bibir pecah-pecah. Seperti pada kasus yang kami temui, seorang laki-laki berusia 61 tahun mengalami angular cheilitis. Setelah dilakukan pemeriksaan di bidang kami, ditemukan kondisi lain yang menyertai adalah kehilangan banyak gigi dan adanya diabetes mellitus. Perawatan yang dilakukan meliputi terapi lokal pada sudut mulut pasien dan rujukan ke spesialis penyakit dalam untuk mengontrol diabetes mellitus pasien. Perawatan dari kedua bidang ini efektif mempercepat kesembuhan pasien.

Informasi detail dari laporan kasus ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Rahmi, Ayu Fresno Argadianti, Desiana Radithia and Bagus Soebadi. (2019). Angular Cheilitis in Elderly Patient with Diabetes Mellitus and Decrease of Vertical Dimensions. Acta Medica Philippina; 53(5): 440-443.

Tersedia di: https://actamedicaphilippina.upm.edu.ph/index.php/acta/article/view/61

Penulis: Dr. Desiana Radithia, drg., SpPM(K)

Dosen Departemen Ilmu Penyakit Mulut

Koordinator Program Studi Sp.1 Ilmu Penyakit Mulut

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu