Fakta Tuberkulosis Laten

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh lektur id

Penyakit Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat global, dan sebagai penyebab kematian ke-dua akibat penyakit menular di seluruh dunia setelah Human immunodeficiency virus (HIV). Menurut Badan kesehatan dunia (2012) terdapat 8,6 juta kasus TB baru dan 1,3 juta kematian akibat TB. Sebagian besar kasus dan kematian terjadi di kalangan pria, namun beban penyakit di kalangan perempuan juga tinggi. Pada tahun 2012, diperkirakan ada 2,9 juta kasus dan 410 ribu kematian TB di kalangan perempuan, serta diperkirakan 530 ribu kasus dan 74 ribu kematian pada anak.

Jumlah kematian TB dapat dicegah jika terdapat diagnosis dan pengobatan yang tepat. Secara global 9 juta orang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberkulosis aktif setiap tahunnya, dan sepertiga populasi dunia ( sekitar 2 milyar orang) terinfeksi Mycobacterium tuberkulosis laten.

Diperkirakan sekitar 5-10% TB laten (Latent TB Infection/LTBI) akan berkembang menjadi TB aktif. Hal tersebut dapat dihindari bila pada penderita LTBI diberikan pengobatan pencegahan. Di Indonesia, belum ada laporan re smi mengenai prevalensi/proporsi TB Paru laten pada tenaga kesehatan. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa (kuman TB). Kuman yang amat kecil dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop ini ditemukan pada tanggal 24 Maret 1882 oleh Robert Koch. Sumber penularan adalah pasien yang pada pemeriksaan dahaknya di bawah mikroskop ditemukan adanya kuman TB, disebut dengan basil tahan asam (BTA). Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut.

Memang tidak semua pasien TB akan ketemu kuman BTA pada pemeriksaan, tergantung dari jumlah kuman yang ada. Artinya, pada sebagian pasien yang jumlah kumannya tidak terlalu banyak, walaupun sakit TB, tetapi dalam dahaknya tidak ada BTA, berarti dia tidak menular ke orang lain. Pada pasien yang ada BTA pada dahaknya, waktu batuk atau bersin, pasien tersebut dapat menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak, yang dalam istilah kedokterannya disebut droplet nuclei. Setiap kali batuk dapat menghasilkan 3000 percikan dahak.

Biasanya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan ada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah kuman di udara, sedangkan sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Kuman dapat bertahan selama beberapa jam dalam kondisi yang gelap dan lembab. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Faktor yang memungkinkan seseorang terpapar kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dahak di udara, lamanya menghirup udara tersebut, dan kerentanan seseorang terhadap penularan.

Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan jatuh sakit, atau belum tentu sakit TB. Sebagian besar orang yang tertular TB tidak akan menjadi penderita TB, hanya sekitar 10% dari yang tertular yang akan benar-benar jadi sakit tuberculosis. Artinya, seseorang dapat saja kemasukkan kuman TB ke dalam tubuhnya, akan tetapi kalau daya tahan tubuhnya bagus maka orang itu tidak akan sakit.

Kuman tersebut mungkin saja tidak menimbulkan penyakit tetapi tetap ada di dalam paru dalam keadaan seperti ”tidur”, dan kalau daya tahan tubuhnya menurun maka kuman yang “tidur” akan bangun dan menimbulkan penyakit. Orang tersebut dengan pemeriksaan tertentu/tes skrining misalnya, dengan

Mantoux /IGRA test akan menunjukan hasil positif, yang berarti pernah terpapar oleh kuman TB dan disebut penderita TB laten. Penderita TB laten tidak menular, akan tetapi kalau daya tahan tubuhnya menurun akan menimbulkan penyakit TB dan disebut penderita TB dengan BTA positif.

Kelompok orang yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular TB antara lain adalah tenaga kesehatan, tenaga laboratorium, orang yang kontak serumah dengan penderita TB BTA positif, penderita HIV , orang dengan status gizi buruk, perokok, peminum alkohol, orang dengan pengobatan steroid jangka panjang, penderita diabetes melitus, dan lain-lain. Angka kejadian TB laten pada tenaga kesehatan di Indonesia belum ada angka pastinya.

Sebagai gambaran profil penderita TB laten dari 13 Puskesmas di Surabaya adalah, 1) Perawat poli TB dan tenaga laboratorium yang diperiksa sebanyak 30 orang, dan 76,70% (23 orang) adalah wanita, 2) Sebagian besar (56,67%) perawat dan tenaga laboratorium berstatus gizi lebih, 3) Presentasi yang terkena TB laten sebesar 40,70% (14 orang) dan 64,29% diantaranya mempunyai status gizi lebih, 4) Dua dari 7 pria tenaga kesehatan terdeteksi TB Paru Laten dan satu diantaranya merokok, 5) Sebagian besar (46,67%) tenaga kesehatan/laboratorium bekerja untuk TB sekitar 6-10 tahun, 6) Tidak satupun dari terdeteksi Diabetes Melitus, dan dari anamnesis tidak ada yang menderita HIV, silikosis ataupun hepatitis, 7) Tidak ada responden yang pecandu narkoba suntik, pecandu alkohol, atau sedang terapi steroid. Ventilasi tempat kerja semuanya kurang baik, semua poli dan Laboratorium ber AC. Setelah melayani penderita TB pintu, jendela ditutup, dan AC dinyalakan padahal kemungkinan masih banyak kuman TB di udara ruang poli. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yaitu 57,15% penderita TB Paru laten adalah perawat poli TB. Tenaga laboratorium dengan IGRA test positif, ternyata mengerjakan sediaan dahak di dalam ruangan.

Penulis: Susilowati Andajani

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di Link : https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/14348/0   http://dx.doi.org/10.20473/fmi.v55i2.14348

Folia Medica Indonesiana (2019); Volume 55(i2) : 14348 Susilowati Andajani Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu