Efek Posisi Mandibula dengan Penggunaan Oral Appliance

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh dictio id

Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) merupakan suatu gangguan yang dianggap dapat mengancam jiwa, hal ini ditandai dengan berulangnya gangguan jalan nafas pada saat tidur. Pada orang yang memiliki gangguan OSAS bentuk anatomi dari faringnya akanlebih kecil dari pada orang normal, penelitian lain menyebutkan bahwa otot genioglosus (GG) pada orang dengan OSAS sering mengalami gangguan. Oral Appliance(OA) merupakan suatu alat yang dibuat dan didisain untuk mencegah jatuhnya posisi lidah dan mandibular, dengan penggunaan OA ini diharapkan jalan nafas akan lebih besar sehingga dapat digunakan sebagai salah satu pengobatan OSAS.Tipe OA yang sering dibuat adalah alat yang dapat memegang mandibular pada posisi anterior untuk mengkoreksi anatomi dari jalan pernafasan atas pada orang OSAS.Efek samping dari penggunaan OA tetaplah ada, tetapi mengingat OSAS dapat mengancam jiwa maka OA tetap menjadi salah satu pilihan pengobatan.

Penelitian lain menyatakan bahwa terdapat peningkatan aktivitas pernafasan yang berhubungan dengan GG dengan cara memposisikan mandibular lebih protusif, tetapi belum banyak penelitian tentang perubahan aktivitas otot GG dengan mempertimbangkan perubahan posisi vertikal dari mandibular. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa bahwa bite opening (BO) harus tetap seminimal mungkin untuk mengoptimalkan hasil pengobatan.Penelitian ini ingin melihat hubungan antara aktivitas otot GG dan posisi mandibula dengan mempertimbangkan protrusif dan vertikal displacementselama tidur.

Penelitian ini dilakukan pada 7 orang dewasa pria sehat yang berusia dan indeks massa tubuh mereka adalah 29,4 ± 1,99 tahun dan 22,8 ± 2,56 kg / m2. Subjek dikeluarkan jika mereka menderita gangguan pernafasan atau infeksi, menggunakan obat yang mempengaruhi aktivitas otot atau ketidakharmonisan kerangka orofacial yang parah.OA maksila dan mandibular dibuat sesuai dengan gigi masing-masing subjek dan dibuat dari bahan resin setebal 2 mm dengan melibatkan seluruh gigi pada rahang.Aktivitas otot GG direkam menggunakan alat, cara dan ketentuan yang telah di tentukan.Subjek melakukan pengambilan data Electromyographic (EMG) dan Electroencephalographic (EEG) dengan empat kondisi posisi mandibular yang berbeda, yang pertama dengan BO selebar 4 mm dan 0% protusif mandibular saat sadar (AW4); kedua dengan BO selebar 4 mm dan 0% protusif mandibular saat tidur (SL4); ketiga dengan BO selebar 4 mm dan 50% protusif saat tidur(SL4A); keempat dengan BO selebar 12 mm dan 0% protusif mandibular saat tidur (SL12). Saat silakukan pemeriksaan subjek ditidurkan dalam posisi tubuh terlentang, kursi gigi berbaring rata dan menjaga bidang Frankfort tegak lurus dengan lantai.Analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan SPSS.

Hasil penelitian ini menunjukan tidak ada perbedaan signifikan dalam aktivitas otot GG dan laju respirasi, sementara waktu bernapas saat inspirasi terdapat perbedaan yang signifikan lebih lama antara SL4 dibandingkan dengan AW4. Aktivitas otot GG di SL4A dan SL12 secara signifikan lebih tinggi daripada di SL4 selama pernafasan, hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas otot GG selama tidur dipengaruhi tidak hanya oleh protusi mandibula, tetapi juga oleh vertical displacement pada mandibula. Hasil lain menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam aktivitas otot masseter selama pemeriksaan. Ini menunjukkan bahwa BO dan protrusi mandibula tidak memengaruhi ketegangan otot masseter.Tidak ada perbedaan signifikan dalam laju pernapasan dan waktu bernapas antara SL4, SL4A, dan SL12.Hasil ini menunjukkan bahwa protusi dan vertikal displacement pada mandibula tidak mempengaruhi respirasi pada subyek sehat, hal ini mungkin karena tidak ada pengurangan jalan nafas pada posisi terlentang.

Kesimpulan dari penelitian ini bahwa otot GG dipengaruhi tidak hanya oleh vertikal displacement pada mandibula tetapi juga oleh gerakan protusinya.Oleh karena itu, baik protusif dan ukuran vertikal displacement mandibula harus diperiksa dan diperhitungkan ketika mengevaluasi efektivitas OA untuk mengobati OSA.

Penulis: Ratri Maya Sitalaksmi, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.Pros(K)

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di:

https://doi.org/10.1186/s13005-019-0210-z

Michikazu Matsuda, Toru Ogawa, Ratri M. Sitalaksmi, Makiko Miyashita, Toshimi Itodan Keiichi Sasaki Effect of mandibular position achieved
 using an oral appliance on genioglossus activity in healthy adults during sleep


Head & Face Medicine. 2019 (15):26

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu