Sebuah Laporan Kasus Tinea Incognito: Penyalahgunaan Steroid

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh magmire net

Tinea incognito (TI) merupakan dermatofitosis yang telah kehilangan gambaran klinis seperti biasanya akibat penyalahgunaan steroid atau inhibitor kalsineurin. Lesi biasanya kehilangan bentuk  penampilan annular klasik. TI muncul dengan plak deskuamatif eritematosa yang tidak teratur dan tidak jelas. Penyakit ini cenderung menyerupai penyakit lain seperti eksim, dermatitis seboroik, psoriasis intertriginosa, psoriasis pustular dan rosasea sesuai dengan lokasi mereka.

Steroid topikal sering digunakan tanpa resep di Indonesia. Meningkatnya penyalahgunaan steroid menyebabkan munculnya TI. Diagnosis klinis TI kadang-kadang sulit bahkan untuk dokter kulit. Penundaan pengobatan TI menyebabkan morbiditas yang terkait tidak hanya untuk pasien tetapi juga orang lain yang kontak dengan pasien. Kami melaporkan sebuah kasus Tinea pada anak yang telah mendapatkan terapi steroid yang mengakibatkan eksaserbasi dan meluasnya penyakit.

Seorang anak perempuan berusia 10 tahun datang ke klinik rawat jalan kami dengan keluhan bercak merah di wajahnya. 2 bulan sebelum pemeriksaan timbul bercak merah kecil. Satu minggu kemudian pasien berobat ke dokter dan diberi betamethasone topikal selama dua minggu. Lesi pada awalnya membaik tetapi kemudian tetap dan secara bertahap menjadi lebih luas. Ibu pasien membawanya ke dokter kulit dan diberikan metilprednisolon oral dan mometason topikal selama satu minggu, tetapi tidak ada perbaikan. Pasien akhirnya dirujuk ke rumah sakit Dr. Soetomo dengan diagnosis dermatitis seboroik.

Pasien dinyatakan sehat dan tidak memiliki riwayat medis lainnya. Pasien tidak ada riwayat menggunakan pengobatan tradisional atau memiliki alergi makanan atau obat. Riwayat atopi, asma, dan rinitis juga disangkal. Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama disangkal dan dia tidak memiliki hewan peliharaan.

Pemeriksaan fisik menunjukkan lesi pada regio fasialis dan leher. Lesi tampak dengan bercak eritematosa, bersisik, papular yang tidak jelas. Tidak ada erosi, pustul, dan krusta. Pemeriksaan mikroskopik kalium hidroksida (KOH) menunjukkan artrokonidia dan hifa bersepta. Isolasi kultur jamur pada makroskopis dari koloni tampak datar dan granular dengan pigmen tan ke buff. Secara mikroskopis, didapatkan hifa bersepta, makrokonidia terlihat dalam jumlah besar, simetris, relatif berdinding tipis dengan tidak lebih dari enam kompartemen, tanpa tonjolan. Temuan ini sesuai pada diagnosis infeksi dermatofita yang disebabkan oleh Microsporum gypseum (M. gypseum). Setelah diagnosis Tinea incognito ditegakkan, pemberian steroid topikal dihentikan dan pasien diobati dengan Griseofulvin 125 mg dua kali sehari secara oral selama empat minggu dan hasilnya baik.

Lesi pada Tinea Incognito biasanya kehilangan penampilan annular yang klasik sehingga penyakit ini menjadi membingungkan dengan penyakit lain. Penting bagi dokter kulit untuk mempertimbangkan infeksi jamur sebagai diagnosis banding bila terdapat lesi eritematosa dengan sisik yang berkepanjangan yang tidak responsif terhadap steroid atau inhibitor kalsineurin, dan melakukan uji laboratorium untuk evaluasi mikologis. Penghentian pemberian steroid dan pemberian terapi antijamur dapat meningkatkan perbaikan lesi secara klinis dan mikologis. 

Laporan kasus ini menekankan pada pengenalan gambaran klinis Tinea Incognito yang seringkali menyerupai gambaran klinis penyakit lainnya. Diagnosis klinis TI masih merupakan tantangan bahkan untuk dokter kulit, sehingga menyebabkan keterlambatan pengobatan. 

Tinea Incognito sering disebabkan karena penyalahgunaan steroid. Steroid topikal di Indonesia sering digunakan tanpa resep dokter dan dalam jangka waktu yang lama. Penting untuk pengaturan dan pengawasan distribusi dan penggunaan steroid topikal dan memberikan wawasan kepada dokter layanan primer tentang dermatofitosis superfisial untuk mengurangi meningkatnya kasus TI.

Penulis : Dr.Diah Mira Indramaya,Sp.KK

Informasi detail artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/12430

A Case of Tinea Incognito: A Misuses of Steroid 

Diah Mira Indramaya, Abdul Karim, Zahruddin Ahmad

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu