Resistensi Obat Pada Kasus Pneumonia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sains Kompas

Indonesia merupakan negara terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan 250 juta penduduk. Insiden penyakit menular di negara ini cukup tinggi. Penelitian yang kami lakukan adalah evaluasi penilaian klinis dan temuan mikrobiologi pada pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit dengan diagnosis pneumonia atau infeksi saluran pernafasan bagian bawah yang penyebab utamanya bakteri. Bakteri penyebab pneumonia yang didapat dari rumah sakit berbeda dengan penyebab pneumonia yang didapat di komunitas (Pneumonia komuniti). Bakteri dan resitensi terhadap antibiotik bersifat spesifik dan lokal dengan kata lain antara suatu daerah dengan daerah lainnya atau suatu fasilitas kesehatan memiliki kecenderungan penyebab bakteri yang spesifik dan berbeda satu sama lainnya.

Pasien dengan pneumonia komuniti kebanyakan ditemukan dalam keadaan parah sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit. Tingkat kematian pneumonia komuniti ini sangat tinggi hingga mencapai 10% baik di negara berkembang maupun di negara maju. Pusat studi pneumonia komuniti di Amerika dan Inggris telah merumuskan pedoman untuk diagnosis pneumonia komuniti dan terapinya. Pedoman tersebut berdasarkan hasil penelitian pola infeksi pneumonia komuniti dan bakteri penyebabnya yang telah dilakukan pada tahun 2001. Pedoman ini perlu untuk dikaji ulang dan disesuaikan dengan bakteri penyebab di Indonesia.

Penelitian kami menunjukkan hasil yang berbeda dengan pedoman internasional dari segi bakteri penyebab dan resistensinya terhadap antibiotik. Penelitian kami pada 181 dengan pneumonia komuniti menunjukkan bahwa 22% terinfeksi bakteri yang resisten terhadap tiga golongan antibiotik atau bahkan lebih atau biasa disebut multiresisten. Acinetobacter baumannii merupakan bakteri yang dijumpai multiresisten terhadap antibiotik diantara pasien yang kami teliti. Beberapa faktor seperti riwayat penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan tanpa resep dokter di komunitas dapat menyebabkan infeksi yang multiresisten ini. Pasien dengan diabetes, penyakit jantung, kanker, gangguan ginjal, gangguan liver dan gangguan imunitas juga menjadi faktor pencetus terjadinya pneumonia komuniti dengan resistensi obat.

Risiko kematian pada kasus pneumonia tergantung dari tiga faktor, yakni kondisi pasien, faktor bakteri, dan terapinya. Tingkat kematian meningkat secara bermakna pada pasien dengan pneumonia komuniti yang berat dan pada pasien yang tidak menunjukkan perbaikan setelah hari ke tiga. Sebagian besar pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit diderita oleh pasien laki-laki dengan usia 56 tahun keatas. Gejala yang sering timbul adalah sesak napas (98%), demam (96%), batuk (74%), dan rasa tidak nyaman di dada (21%). Pasien dengan kanker dan pasien dengan imunitas yang lemah lebih rentan jatuh dalam kondisi pneumonia komuniti berat ini sehingga memerlukan observasi klinis yang ketat.

Kecurigaan terhadap infeksi bakteri multiresten obat dapat ditelusuri ketika pasien sudah mendapatkan terapi namun tidak ada perubahan pada klinis pasien menjadi lebih baik, misalnya pasien masih mengeluh sesak dan demam. Dalam hal ini, penelitian kami merekomendasikan tolak ukur peninjauan hasil terapi pada hari ke tiga setelah pasien mendapat pengobatan. Perbaikan klinis pada pasien di hari ke tiga ini memberikan informasi yang sangat penting untuk menunjukkan apakah sudah terdapat efek terapi antibiotik yang telah digunakan dapat dihentikan guna mengurangi risiko terjadinya resistensi terhadap antibiotik sehingga pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan. Tidak dibenarkan memperpanjang perawatan pasien di rumah sakit mengingat penularan infeksi di rumah sakit sangat tinggi. Jika pasien belum menunjukkan adanya perbaikan pada hari ke tiga setelah terapi, maka perlu dilakukan peninjauan ulang apakah terapi yang diberikan sudah tepat atau pasien terinfeksi bakteri yang resisten. Kultur mikrobiologis dahak dan darah juga membantu memberikan informasi yang relevan secara klinis mengenai identitas patogen dengan resistensinya terhadap antimikroba.

Adapun rekomendasi yang perlu kami sampaikan berdasarkan pengamatan dalam penelitian kami ini, yaitu: (1) membatasi penggunaan antibiotik yang dijual bebas di masyarakat. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan tanpa resep dokter dapat menyebabkan munculnya bakteri yang resisten, akibatnya pasien sulit diobati dengan obat yang tersedia di rumah sakit; (2) penilaian klinis pada hari ke tiga setelah terapi sangat esensial untuk menentukan tindakan selanjutnya apakah antibiotik yang diberikan dihentikan atau dilanjutkan dengan pertimbangan infeksi bakteri yang resisten. Pada pasien pneumonia komuniti yang dirawat jalan, sebaiknya datang lagi ke dokter pada hari ke tiga untuk dilakukan penilaian ini; (3) seluruh sektor pemerintah dan swasta perlu melakukan pemantauan terhadap pola bakteri yang resisten penyebab pneumonia komuniti. Keterlibatan aktif semua pihak dalam pemetaan pola ini dapat dilakukan secara rutin melalui survei tahunan yang dimulai dari fasiliatas kesehatan tingkat pertama. 

Penulis: Abdul Khairul Rizki Purba, dr., M.Sc., Sp.FK

Informasi detail dapat dilihat di:

https://www.dovepress.com/multidrug-resistant-infections-among-hospitalized-adults-with-communit-peer-reviewed-fulltext-article-IDR

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu