Psoriasis Vulgaris Pada Pasien Terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh aidsmap

Psoriasis vulgaris adalah penyakit peradangan kronis pada kulit yang didasari genetik dengan dasar perubahan kompleks dari pertumbuhan epidermis dengan tampilan berupa bercak kemerahan disertai sisik tebal berwarna putih keperakan. Area yang umum terkena adalah pada kulit kepala, siku, lutut, tangan, kaki, dan kuku. Persendian mungkin juga terlibat dalam bentuk psoriasis artritis. Faktor lingkungan yang memicu kondisi psoriasis vulgaris muncul antara lain trauma, infeksi, atau pengobatan. Prevalensi psoriasis vulgaris bervariasi antara negara satu dengan negara lain, seperti 0,09% pada Republik Tanzania hingga 11,4% pada Norwegia. Prevalensi psoriasis vulgaris dan psoriasis artritis lebih tinggi pada pasien dengan HIV dibangkan populasi umum.

Pada pasien yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV), psoriasis vulgaris dapat memberikan gambaran klinis yang lebih parah dan penanganan yang lebih menantang karena terapi yang biasa digunakan untuk psoriasis vulgaris adalah obat-obatan yang menekan sistem imun. Hal ini tentu berkontradiksi dengan kondisi pasien dengan HIV yang mengalami penurunan sistem imun. 

Gambaran Kasus

Seorang laki-laki berusia 39 tahun datang berobat dengan keluhan bercak merah yang muncul pertama kali pada punggung dan siku lalu menyebar ke hampir seluruh sejak 1 tahun terakhir, disertai rasa terbakar. Pasien mendapat pengobatan krim desoksimetason 0,25% dari dokter umum dengan sedikit perbaikan. Berdasarkan pemeriksaan, pasien dicurigai menderita psoriasis vulgaris. Sedikit kulit pasien diambil untuk diperiksa di bawah mikroskop dan didapatkan hsil yang mendukung diagnosis psoriasis vulgaris.

Pasien mendapat terapi tablet metotreksat 2,5 mg 3 kali setiap 12 jam, asam folat 1 mg 2 kali sehari saat metotreksat tidak dikonsumsi, krim doseksimetason 0,25% dan Vaseline album. Keluhan pasien mengalami perbaikan namun saat perawatan, bercak putih muncul di lidah pasien. Berdasarkan pemeriksaan tambahan, bercak tersebut merupakan jamur atau kandidiasis. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan HIV 3 metode dan hasilnya reaktif. Pasien kemudian didiagnosis infeksi HIV dengan psoriasis vulgaris. Pemberian metotreksat dihentikan, tetes nystatin diberikan untuk kandidiasis pada lidah. Sebagai terapi antiretroviral untuk infeksi HIV, pasien mendapat duviral 2 kali sehari dan neviral sekali sehari. Setelah 10 hari kombinasi antara antiretoviral dan krim desoksimetason 0,25%, kondisi kulit pasien mengalami perbaikan. Psoriasis vulgaris adalah penyakit kulit bersisik kronis yang diketahui merupakan kelainan autoimun dengan pertumbuhan tidak normal dari sel-sel di kulit yang dimediasi oleh sel T. Infeksi HIV yang berhubungan dengan psoriasis vulgaris sering terjadi. Psoriasis vulgaris dapat menjadi manifestasi klinis awal infeksi HIV atau muncul pertama kali pada infeksi HIV yang sudah parah. Psoriasis vulgaris pada pasien yang terinfeksi HIV cenderung memiliki manifestasi klinis yang lebih berat, kurang berespon terhadap terapi, dan lebih sering kambuh. Patofisiologi psoriasis vulgaris pada pasien dengan HIV menarik untuk ditelaah karena tampak bertentangan. Psoriasis vulgaris merupakan kelainan autoimun yang dimediasi oleh sel T, sedangkan infeksi HIV menyebabkan penurunan limfosit T CD4+. Terapi psoriasis vulgaris pada pasien yang terinfeksi HIV juga merupakan tantangan tersendiri karena kelainan status imunologi pada pasien, sedangkan pengobatan konvensional untuk psoriasis vulgaris adalah obat-obatan yang menekan sistem imun.

Perlu diingat bahwa sel T dibagi menjadi beberapa kategori, seperti CD4+ dan CD8+. Sel T CD8+ lebih banyak berlokasi di epidermis, sedangkan sel T CD4+ lebih banyak berlokasi pada dermis bagian atas. Belakangan diketahui bahwa sel T CD8+ lebih banyak berperan pada proses terjadinya psoriasis vulgaris. Bukti histologis menunjukkan akumulasi limfosit memori CD8+ pada epidermis berhubungan dengan kekambuhan psoriasis vulgaris. Berbagai penelitian pada pasien psoriasis menunjukkan konsentrasi sel T CD8+ meningkat pada epidermis dan dermis dari kulit yang mengalami psoriasis dibanding kulit y ang tidak terlibat. Infeksi HIV menyebabkan penurunan sel T CD4+ dan rasio sel T CD4/CD8.

Terapi topikal lini pertama psoriasis vulgaris ringan-sedang pada pasien yang terinfeksi HIV adalah kortikosteroid dan analog vitamin D3, baik sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan modalitas lain pada pasien psoriasis vulgaris berat. Antiretroviral diindikasi sebagai terapi lini pertama pada psoriasis sedang-berat, terutama pada pasien dengan hitung sel CD4+ <350 sel/mm3. Antiretroviral tidak hanya mengontrol progresi infeksi HIV, namun juga efektif mengontrol psoriasis vulgaris. Fototerapi dapat ditambahkan pada kasus yang kurang berespon dengan terapi topikal dan antiretroviral. Apabila kombinasi terapi topikal, antiretroviral,d an fototerapi tidak efektif mengontrol psoriasis vulgaris, atau bila kombinasi tersebut tidak memungkinkan, retinoid oral seperti asitretin dapat diberikan. Penggunaan obat-obatan yang menekan sistem imun terbatas pada pasien tertentu dengan kondisi yang rekalsitran.

Penulis : Dr.Rahmadewi,Sp.KK

Informasi detail artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/12733

Rahmadewi Rahmadewi, Maya Wardiana. 2019. Psoriasis Vulgaris in Human Immunodeficiency Virus Infected Patient: A Case Report. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin  Vol 31, No 3.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu