Manfaat Pemeriksaan Kultur Kuman Pada Pasien Pneumonia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh CNN Indonesia

Pneumonia adalah penyakit infeksi pada paru bagian bawah dan bersifat menular. British Thoracic Society (BTS), American Thoracic Society (ATS), dan Institut Nasional untuk Kesehatan dan Perawatan di Inggris sepakat bahwa pasien dengan pneumonia yang dirawat di rumah sakit diberi pengobatan dengan antibiotik sesuai dengan pola kuman setempat. Khusus untuk perawatan di rumah sakit, pola kuman dan pola resistensi antibiotik bersifat lokal, artinya pola di suatu rumah sakit bisa berbeda dengan fasilitas kesehatan lainnya. Pola kuman dan resistensi ini diperoleh dari pemeriksaan mikrobiologi yang dievaluasi rutin setiap tahun. Tanpa adanya hasil evaluasi mikrobiologi ini, pengobatan pada pasien pneumonia dapat menyebabkan penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak tepat, munculnya kuman yang kebal terhadap beberapa antibiotik dan terapinya bisa dikategorikan gagal. Konsekuensi biaya yang dikeluarkan juga besar. Di Amerika Serikat pada 2012, total biaya medis diperkirakan mencapai USD 7.220 (sekitar Rp. 100 juta) hingga USD 11.443 (sekitar Rp. 160 juta). Di negara-negara Eropa, biaya diperkirakan antara EUR 1,201 (sekitar Rp. 19 juta) dan EUR 1.586 (sekitar Rp. 25 juta) per pasien. Biaya tinggi ini di negara Amerika Serikat lebih tinggi dari pada di negara-negara Eropa ini sebagai akibat adanya resistensi antibiotik.

Saat ini, penerapan metode mikrobiologi molekuler yang canggih untuk mengetahui kuman penyebab pneumonia telah dikembangkan salah satunya Matrix-Assisted Laser Desorption/Ionization-Time (MALDI-TOF) yang berperan dalam skrining awal untuk menemukan adanya material genetik kuman. Namun, penggunaan alat baru yang menjanjikan ini, tidak tersedia di seluruh daerah di Indonesia karena terkendala besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, kultur dahak dan darah merupakan pendekatan yang efektif dan terjangkau untuk pelayanan kesehatan di seluruh daerah di Indonesia. Selain mengetahui kuman penyebabnya, kultur kuman ini memberikan informasi terkait resistensi terhadap antibiotik sehingga secara klinis bermanfaat dalam pemilihan antibiotik.

Kami mengevaluasi manfaat pemeriksaan kultur baik dari dahak maupun darah dalam pengobatan pneumonia di rumah sakit. Sebelum ada hasil kultur, pasien diberi antibiotik sesuai dengan pola kuman yang sering muncul sebagai penyebab pneumonia. Setelah ada hasil kultur dari individu pasien, pemberian antibiotik dapat disesuaikan dengan hasil kultur tersebut dan sensitivitasnya terhadap antibiotik. Kami evaluasi pasien saat pulang dari perawatan ke dalam 2 kategori yaitu sembuh atau meninggal. Kami menilai usia harapan hidup pasien yang pulih dari perawatan.

Pasien infeksi yang dirawat di rumah sakit pada umumnya memiliki gejala yang sudah serius sehingga memerlukan observasi dan pengobatan di ruang rawat inap yang dikaji oleh tenaga medis setiap hari. Kami mendapatkan data klinis pasien dengan usia rata-rata 57,6 tahun (minimum-maksimum: 19-91 tahun), dimana sebagian besar dari pasien adalah laki-laki (78,3%). Hal yang menjadi fokus selama observasi di ruang rawat inap adalah pemilihan antibiotik yang tepat sesuai dengan hasil kultur kuman dari dahak dan darah untuk mencegah resistensi antibiotik lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengobatan berdasarkan evaluasi kultur yang disertai uji kerentanan terhadap antibiotik memberikan manfaat dalam hal pengurangan biaya dan memperpanjang usia harapan hidup. Setelah hasil kultur kuman diserahkan kepada dokter, pasien diberi antibiotik yang sesuai dengan kondisi pasien, kuman penyebab, kekebalan antibiotik, dan biaya. Pemberian antibiotik dihentikan jika hasilnya negatif dan jika pada diri pasien terdapat perbaikan klinis. Implementasi kultur kuman pada kasus pneumonia dapat menghemat biaya sebesar USD 1.067 (sekitar Rp. 15 juta) per pasien dan meningkatkan harapan hidup dalam semua kasus. Kultur kuman dan hasil kepekaan terhadap antibiotik pada pasien yang dirawat di ruang intensif akan menghemat USD 1.792 (sekitar Rp. 25 juta) per pasien dan menambah usia harapan hidup lebih tinggi daripada tanpa kultur. Menariknya, pada kelompok usia lanjut, kultur kuman membantu memberikan pilihan antibiotik yang tepat dan menghemat biaya sebesar USD 3.828 (sekitar Rp. 53 juta) per pasien dan juga meningkatkan harapan hidup satu tahun lebih lama daripada pasien yang tidak dievaluasi dengan kultur kuman.

Setelah mengetahui manfaat analisis kultur kuman terhadap biaya dan harapan hidup pasien sebagaimana hasil penelitian di atas, maka implementasi analisis kultur kuman di negara-negara berkembang dengan angka kejadian pneumonia yang tinggi, seperti Indonesia, harus dipertimbangkan. Sejak 2014, Indonesia telah menerapkan sistem jaminan kesehatan nasional (JKN) dalam mengelola pengeluaran terkait pembiayaan untuk pengobatan. Dengan mempertimbangkan keterbatasan saat ini dalam pemberian antibiotik berbasis biaya pada pasien pneumonia, maka kultur kuman dapat diterapkan untuk pasien pneumonia yang mendapat perawatan di rumah sakit di Indonesia. Melalui analisis kultur kuman ini maka pemberian antibiotik pada pengobatan pneumonia menjadi lebih tepat sehingga pada akhirnya dapat mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan usia harapan hidup terutama pada kasus pasien usia lanjut, pasien dengan kondisi gangguan imun dan pasien dengan penyakit penyerta.

Penulis: Abdul Khairul Rizki Purba, dr., M.Sc., Sp.FK

Informasi detail dapat dilihat di:

https://www.dovepress.com/cost-effectiveness-of-culture-based-versus-empirical-antibiotic-treatm-peer-reviewed-fulltext-article-CEOR#

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu