IVA dan Cryotherapy Belum Menjadi Primadona di Kalangan Wanita Usia Subur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh glitzmedia

Inspeksi Visual Asam (IVA) dan Cryotherapy merupakan program unggulan Puskesmas sebagai langkah preventif (pencegahan) terhadap kanker serviks. Kanker serviks adalah salah satu penyebab utama kematian wanita di dunia. Kanker serviks di negara berkembang menempati urutan kedua setelah kanker payudara dengan kasus baru sebanyak 445.000 wanita dan 230.300 kematian setiap tahunnya.

Puskesmas bertanggung jawab untuk melakukan pendekatan komprehensif pada deteksi dini kanker serviks yang disebut “Lihat dan Rawat”. Deteksi dini ini adalah metode komprehensif untuk mencegah kanker serviks untuk wanita yang sudah menikah dan pada usia reproduksi (30 – 50 tahun) dengan IVA kemudian dilanjutkan pengobatan dengan metode cryotheraphy pada kunjungan yang sama.

Program pencegahan dan pengendalian kanker serviks secara komprehensif dapat mengurangi angka kematian akibat kanker serviks. Skrining kanker serviks secara teratur dengan IVA dan dilanjutkan dengan cryotherapy menjadi kunci untuk melakukan pengobatan sedini mungkin dan mencegah penyakit menjadi lebih parah. Namun sayangnya, progam ini belum menjadi pilihan utama bagi wanita usia subur (WUS) yang rentan terjangkit kanker serviks. Hal ini terbukti dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo yang menunjukan cakupan IVA masih sangat rendah, yaitu 0,32% dari 350.979 WUS di tahun 2014 dan 0,85% dari 379.316 WUS di tahun 2015. Angka tersebut sangat jauh dari target (20% WUS melakukan pemeriksaan IVA). Sejalan dengan cakupan IVA, cakupan cryotherapy di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2014 hanya 35,55% dari WUS yang terdeteksi positif oleh pemeriksaan IVA.

Diihat dari teori pemasaran, rendahnya cakupan IVA dan cryotheraphy dapat menunjukkan upaya pemasaran yang belum dilakukan secara maksimal. Sehingga, diperlukan strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan minat pasien untuk melakukan tes IVA dan cryotheraphy. Memahami persepsi pasien dan harapan dari aspek bauran pemasaran (seperti produk, tempat, promosi, harga, orang, bukti fisik, dan proses) menjadi penting untuk mengembangkan strategi bauran pemasaran yang tepat. Dengan strategi yang sesuai diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan IVA dan cryotheraphy di Puskesmas.

Produk yang ditawarkan untuk pencegahan kanker serviks oleh Dinas Keseahatan melalui Puskesmas adalah pemeriksan IVA dan dilanjutkan dengan cryotherapy. Kebanyakan masyarakat sudah tidak asing terhadap kedua produk tersebut. Produk dirasa sesuai untuk deteksi dini dan pencegahan kanker serviks karena mudah dilaksanakan.

Sedangkan untuk aspek bauran pemasaran lainnya masih menimbulkan gap antara persepsi dengan harapan masyarakat yang menjadikan program IVA dan cryotherapy ini belum primadona di kalangan WUS. Disebutkan dalam hasil penelitian pada salah satu Puskesmas di Sidoarjo, beberapa aspek bauran pemasaran masih jauh dari harapan masyarakat. Salah satu utamanya adalah aspek promosi untuk menyampaikan informasi secara benar tentang harga, bukti fisik atau fasilitas yang mendukung dan juga proses pelaksanaan pemeriksaan. Promosi yang dilaksanakan harus mampu mempersuasif masyarakat akan pentingnya pemeriksaan IVA dan cryotherapy.

Dalam promosi dibutuhkan komunikasi efektif yang melibatkan beberapa aspek komunikasi seperti komunikator, komunikan, pesan, dan saluran atau media. Aspek-aspek ini sangat penting untuk dimasukkan dalam proses komunikasi selama promosi IVA dan pemeriksaan cryotheraphy kepada WUS. Komunikasi dipercaya menimbulkan efek kognitif, afektif, dan sikap sehingga dapat diterapkan untuk meningkatkan cakupan IVA dan cryotheraphy

Harga yang ditawarkan harus mencerminkan proses pelayanan dan fasilitas yang akan diterima oleh pengguna layanan. Tidak sedikit masyarakat yang beranggapan harga pemerikasan IVA dan cryotheraphy di Puskesmas belum sebanding dengan hasil dan fasilitas yang didapatkan. Disini aspek promosi berperan penting untuk memberikan informasi terkait harga yang ditawaran berkaitan dengan proses pemeriksaan dan hasil yang akan dicapai. Masyakat belum banyak memahami proses pemeriksaan IVA dan cryotheraphy yang akan dijalani, sehingga hal ini dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya cakupan IVA dan cryotheraphy di Puskesmas.

Bukti fisik terhadap fasilitas pelayanan kesehatan menjadi penting dalam penentuan sikap masyarakat untuk memilih tempat pelayanan. Ada beberapa aspek penting pada bukti fisik, seperti desain fisik fasilitas perawatan kesehatan, fasilitas yang disediakan, tanda, simbol, dan kenyamanan ruangan. Dengan demikian, penting bagi Puskesmas untuk memberikan layanan terbaik sehingga pengguna layanan memiliki penilaian dan persepsi yang baik tentang layanan yang disediakan di Puskesmas termasuk layanan kesehatan untuk deteksi dini kanker serviks.

Selain aspek promosi, harga, bukti fisik fasilitas dan proses, yang tak kalah penting dari bauran pemasaran adalah tempat atau lokasi Puskesmas terutama aksesabilitasnya atau keterjangkauan. Tidak sedikit lokasi Puskesmas yang belum terjangkau oleh transportasi umum. Meningkatkan cakupan IVA dan cryotheraphy bukan suatu hal yang mudah, dimana 7 aspek bauran pemasaran menjadi kunci keberhasilan apabila harapan masyarakat terpenuhi bahkan melebihi dari persepsi mereka.

Penulis: Ernawaty

Apabila saudara tertarik dengan topik ini, saudara dapat membacanya artikel Preventing Cervical Cancer by Increasing Coverage of Visual Inspection with Acetic acid and Cryotherapy in Public Health Centre.

Link artikel ini dapat diunduh pada https://s.docworkspace.com/d/AJjssdOL7bIsoojmvNKmFA 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu