Hubungan Kadar Antioksidan Superoksid Dismutase dengan Indeks Bakterial

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh merdeka com

Kusta merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh kuman M. leprae.  Tubuh memiliki beberapa mekanisme pertahanan untuk menghadapi infeksi bakteri Mycobacterium leprae, diantaranya melalui scavenging dari radikal bebas, antioksidan enzimatik yang menjadi garis pertahanan pertama melawan reactive oxygen species (ROS). Superoxide dismutase (SOD) adalah salah satu enzim antioksidan utama yang menangkal radikal bebas. Terdapat perburukan status antioksidan pada pasien kusta yang berkorelasi dengan indeks bakterial (IB) dan spektrum kusta.

SOD adalah salah satu enzim antioksidan utama yang menangkal radikal bebas. Bertindak sebagai sistem pertahanan endogen seluler yang mengubah O2 menjadi H2O2 dan oksigen, yang selanjutnya didetoksifikasi oleh katalase (CAT) dan glutathion peroxidase (GPx). Kadar SOD rendah dapat dikaitkan dengan tingkat ROS yang lebih tinggi yang disebabkan oleh respons imun M. leprae. Makrofag pada pasien kusta tipe MB dimana didalamnya terdapat kusta tipe borderline (BB), borderline lepromatous (BL), dan lepromatous leprosy (LL) memiliki kemampuan fagositosis yang normal, namun tidak mampu membunuh dan menghancurkan M. leprae karena kurangnya produksi superoksid. Phenolic glycolipid 1 (PGL-1) merupakan molekul unik yang dimiliki oleh M. leprae. Molekul tersebut secara spesifik terikat pada laminin 2 dan merupakan jalur potensial dalam invasi M. leprae. Ikatan antara PGL-1 M. leprae dan laminin 2 dari sel host dapat menyebabkan down regulation gen penyandi SOD di dalam makrofag dan jaringan lain, sehingga memicu terjadinya penurunan aktivitas SOD dan menyebabkan terjadinya stres oksidatif yang lebih besar. 

Terdapat perburukan status antioksidan pada kelompok pasien kusta yang berkorelasi dengan IB dan spektrum kusta. Semakin besar IB dan semakin berat spektrum kusta maka semakin rendah kadar antioksidan, sesuai dengan penelitian Prasad bahwa tingkat stress oksidatif berhubungan langsung dengan penurunan antioksidan pada eritrosit pasien kusta. Prasad juga mengindikasikan bahwa terdapat hubungan stress oksidatif dengan IB dan tipe dari kusta sehingga hal tersebut dapat dijadikan dasar teori untuk pemberian suplemen antioksidan untuk manajemen stres oksidatif pada pasien kusta

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional potong lintang dimana pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling melibatkan 30 subjek penelitian dimana subjek penelitian diambil dari pasien kusta baru di Divisi Kusta URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Juli-Oktober 2018. Pada penelitian ini dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan skin smear pada setiap subjek baru yang didiagnosis sebagai kusta dan memenuhi kriteria penerimaan sampel. Penelitian ini telah disetujui oleh komite etik RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan seluruh subjek penelitian telah menandatangani informed Bahan pemeriksaan diambil dari darah vena sebanyak 5 cc dengan menggunakan spuit disposable dimasukan dalam tabung yang telah diberi EDTA. Sampel darah di centrifuge untuk kemudian dilakukan pemeriksaan dengan reagen SOD Biovission kit assay.

Hasil uji korelasi spearman antara SOD dan IB didapatkan harga p=0,909 (p≥0,05) dan kuat hubungan (r=-0,022). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar SOD dengan berbagai IB. kadar SOD pada IB negatif lebih rendah dibandingkan kadar SOD pada IB +1 sampai +3. Kadar SOD tertinggi didapatkan pada IB +1, dengan median IB 0 = 82,20, IB +1 = 92,10, IB +2 = 85,75 dan IB +3 = 82,94 

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori dan beberapa penelitian yang ada, hal tersebut dapat disebabkan karena cepatnya plasma clearance dari SOD merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan kurang tercerminya kadar SOD. Selain itu faktor eksogen seperti radikal bebas pada lingkungan, sumber lingkungan yang menimbulkan radikal bebas termasuk paparan radiasi pengion (dari industri, paparan sinar matahari, sinar kosmik, dan sinar-X medis), ozon dan dinitrogen oksida (terutama dari knalpot mobil), logam berat (seperti merkuri, kadmium, dan timah hitam), asap rokok (baik aktif maupun pasif), alkohol, lemak tak jenuh, dan bahan kimia serta senyawa lain dari makanan, air, dan udara. Faktor endogen juga berperan menyebabkan rendahnya kadar antioksidan dalam tubuh seorang. Stresor psikologis seperti kecemasan, depresi, kesulitan menyesuaikan diri, dan berbagai kondisi psikologis yang dapat disebabkan karena lingkungan pekerjaan dan ekonomi ditemukan berkorelasi langsung dengan stres oksidatif yang berarti dapat menjadi penyebab yang menggerakkan stres. Jika stresor psikologis ini berkoordinasi dengan stres oksidatif, dapat menjadi faktor risiko utama seseorang untuk terjadinya berbagai penyakit. Pasien kusta umumnya merupakan masyarakat golongan ekonomi yang rendah dan dengan beban pekerjaan yang berat yang mana hal tersebut dapat menjadi menjadi salah satu faktor endogen yang menyebabkan rendahnya kadar antioksidan SOD dalam tubuh pasien.

Penulis: DR. dr. M. Yulianto Listiawan Sp.KK(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/12457

HUBUNGAN KADAR ANTIOKSIDAN SUPEROXIDE DISMUTASE (SOD) DENGAN INDEKS BAKTERIAL (IB) PADA PASIEN KUSTA BARU TIPE MULTIBASILER (MB) TANPA REAKSI

Maria Ulfa Sheilaadji, M. Yulianto Listiawan, Evy Ervianti

http://dx.doi.org/10.20473/bikk.V31.3.2019.100-109

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu