Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktik Periksa Payudara

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh kumparan

Kanker payudara telah menjadi salah satu penyebab utama kematian tertinggi pada wanita di Indonesia. Menurut Riskesdas 2018, rerata pasien kanker payudara berusia 35 tahun, berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang beragam, serta sebagian besar tinggal di daerah perkotaan. Biaya perawatan kanker payudara mulai dari diagnosis sampai dengan berbagai tindakan medis seperti kemotrapi dan radioterapi, cukup mahal dan semaik meningkat setiap tahunnya. Salah satu faktor yang meningkatkan biaya perawatan kanker adalah rerata pasien sudah dalam stadium lanjut ketika pertama kali mencari pengobatan medis. Oleh karena itu, program deteksi dini kanker payudara dirasa sangat penting, meskipun tidak akan menurunkan jumlah angka insidensi kanker, namun akan membantu meningkatkan prognosis dan output tritmen medis yang dijalani, yang pada akhirnya akan dapat menurunkan angka kematian akibat kanker payudara, dan tentu saja mengurangi biaya perawatan.

Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) secara rutin, yang dikombinasikan dengan breast awareness, adalah salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mencapai deteksi dini kanker payudara, khususnya di negara-negara dengan penghasilan rendah dan sedang, dimana akses pada metode deteksi dini yang lain seperti mamografi dan USG terbatas. Sadari sesuai digunakan pada populasi yang memiliki keterbatasan akses pada layanan kesehatan: tidak membutuhkan biaya, tidak berbahaya dan memiliki efeks amping, mudah dilakukan dan tidak tergantung pada bantuan tenaga kesehatan. Selain itu, praktik Sadari akan meningkatkan breast awareness  dan membuat perempuan menjadi lebih aktif berperan dalam tanggung jawab menjaga kesehatannya sendiri.

Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang positif antara komponen dalam teori Health Belief Model (HBM) dengan perilaku skrining, termasuk Sadari. HBM menjelaskan bahwa kepercayaan dan persepsi individu berpengaruh terhadap perilaku kesehatan mereka, ketika individu merasa mereka rentan untuk terjangkit suatu penyakit, maka ia akan melakukan perilaku kesehatan yang diperlukan guna menghindari penyakit tersebut. Penelitian kami bertujuan untuk memprediksikan praktik Sadari melalui perspektif HBM.

Konsep HBM menjelaskan terdapat 6 variabel yang mempengaruhi perilaku sehat individu:

Kami melakukan penelitian cross sectional yang dilakukan di Surabaya, Indonesia dengan karakteristuik subjek sebagai berikut: berusia 20-60 tahun, tinggal di Surabaya dan mampu berbahasa Indonesia. Kami menggunakan Indonesian version of Champion Health Belief Model untuk mengukur variabel HBM responden.

44.4% responden penelitian mengindikasikan bahwa mereka pernah melakukan Sadari selama setahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan komponen HBM berhubungan secara signifikan dengan praktik Sadari. Responden yang memiliki persepsi manfaat serta keyakinan yang diri tinggi, persepsi hambatan dan isyarat melakukan tindakan yang rendah cenderung menunjukkan perilaku Sadari. Hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa persepsi keparahan dan kerentanan tidak berhubungan dengan perilaku Sadari.

Dapat disimpulkan, penelitian yang kami lakukan memberikan poin awal dan rekomendasi untuk pendidikan kesehatan. Dengan adanya hubungan yang positif antara persepsi manfaat melakukan Sadari dengan perilaku Sadari, kegiatan promosi kesehatan dapat lebih memfokuskan diri pada upaya memberikan informasi pada manfaat perilaku Sadari sebagai strategi deteksi dini kanker payudara dengan tetap mempertimbangkan konteks dan kultur lokal. Ekspresi keengganan, misalnya karena adanya rasa malau memeriksa payudara sendiri karena payudara dianggap sebagai organ tubuh yang privat, tetap perlu diperhatikan dengan melibatkan fasilitator promosi kesehatan perempuan. Hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa kepercayaan diri berkorelasi positif dengan praktik Sadari memberikan dasar teoritis bahwa menggunakan metode untuk meningkatkan rasa percaya diri untuk melakukan Sadari melalui guided practice, enactive mastery experiences, dapat meningkatkan kepercayaan diri perempuan dalam melakukan Sadari untuk melakukan Sadari secara rutin. Lebih lanjut, penelitian kami pada variabel psikososial dengan menggunakan sampel yang besar dan representatif memungkinkan untuk hasil penelitian ini digeneralisasikan pada populasi yang lebih luas. 

Penulis: Triana Kesuma Dewi, S.Psi., M.Sc

Judul riset:

Determinants of breast self-examination practice among women in Surabaya, Indonesia: an application of the health belief model

https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12889-019-7951-2

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu