Efektivitas Lactobacillus Plantarum terhadap Serum Imunoglobulin E Total

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh popmama

Dermatitis Atopik (DA) adalah penyakit keradangan kulit yang bersifat kronis residif, dan umumnya terkait riwa yat atopi pasien atau keluarganya seperti asma serta rinitis alergi. Penyakit ini sering berkaitan dengan gangguan fungsi sawar kulit, sensitisasi alergen, dan infeksi kulit yang rekuren dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan mekanisme imunitas tubuh. Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang jika diberikan dalam jumlah yang tepat, memberikan manfaat kesehatan pada host. Mikroflora usus normal memainkan peran penting dalam pengembangan dan pemeliharaan fungsi kekebalan tubuh. Hanya beberapa spesies Lactobacillus yang terdapat pada usus manusia, salah satunya adalah Lactobacillus plantarum. Lactobacillus plantarum IS-10506 (LP IS-10506) adalah probiotik natural asal Indonesia yang telah diuji secara laboratoris ataupun secara penelitian.

Beberapa pendekatan terapi DA telah dibuat, meliputi hidrasi kulit, emolien, menghindari alergen, dan penggunaan antihistamin atau kortikosteroid selama fase eksaserbasi. Terapi ini dapat meredakan gejala, namun sering tidak cukup efektif.  Pasien DA sering membutuhkan pengobatan sistemik jangka panjang yang dapat menimbulkan efek samping. Probiotik dapat menjadi pengobatan yang menjanjikan dalam memperbaiki disregulasi ini, sehingga dapat menjadi terapi tambahan pada DA karena memiliki efek imunomodulator baik pada anak maupun dewasa. 

Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda menggunakan probiotik LP IS-10506 dan plasebo di Divisi Alergi Imunologi URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr Soetomo Surabaya. Populasi penelitian adalah semua pasien DA yang datang berobat ke Divisi Alergi Imunologi URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD. Dr. Soetomo Surabaya. Subjek penelitian adalah pasien DA dewasa usia >14 tahun yang memenuhi kriteria diagnosis DA menurut kriteria Hanifin-Rajka, kadar serum IgE total >100 IU/L, keadaan umum baik, dan bersedia untuk mengikuti penelitian. Kriteria penolakan sampel yaitu pasien yang menggunakan kortikosteroid sistemik maupun fototerapi dalam 1 bulan terakhir dan obat sistemik imunosupresan dalam 3 bulan terakhir, mengonsumsi probiotik dan produknya dalam 4 minggu terakhir, pasien dengan kondisi imunosupresi maupun penyakit berat yang lain serta yang secara klinis terdapat penyakit kulit maupun penyakit sistemik lain.

Besar sampel yang digunakan adalah sebanyak 30 orang yang diambil secara consecutive sampling serta dibagi menjadi dua kelompok secara acak untuk mendapatkan terapi probiotik LP IS-10506 (15 subjek) atau plasebo (15 subjek). Dilakukan randomisasi sederhana untuk menentukan kelompok probiotik dan kelompok kontrol. Alur penelitian dimulai dengan tahap penerimaan pasien DA dewasa yang datang diperiksa kadar serum IgE total menggunakan Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Pasien dengan kadar serum IgE total > 100 IU/L akan dilanjutkan dengan penentuan indeks SCORAD. Seluruh data dasar pasien dicatat, kemudian dilakukan tahap alokasi untuk membagi pasien ke dalam kelompok probiotik atau plasebo. Pembagian kelompok dilakukan secara acak dan tersamar ganda, baik peneliti maupun subjek penelitian tidak mengetahui obat apa yang akan diberikan kepada subjek penelitian. Tahap intervensi dilakukan dengan memberikan LP IS-10506 2 kali sehari per oral pada kelompok probiotik dan plasebo 2 kali sehari pada kelompok plasebo selama 8 minggu, kemudian dilakukan pemeriksaan kadar serum IgE total dan penentuan indeks SCORAD pada akhir minggu ke 8.

Pengemasan (kapsul) dan randomisasi dilakukan oleh farmasi URJ, probiotik dan plasebo diberikan dalam bentuk bubuk oleh Fakultas Teknik Pangan Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Catatan randomisasi ada pada pihak farmasi dan tidak dibuka hingga penelitian selesai. Peneliti maupun subjek penelitian tidak mengetahui obat apa yang diberikan kepada subjek penelitian tersebut. Lactobacillus plantarum IS-10506 yang digunakan pada penelitian ini berupa serbuk dengan dosis 2x 1,120 gram (2×1010 CFU) dalam setiap kemasannya. Plasebo terdiri atas campuran susu skim dan avicel (selulose) yang dibuat sedemikian rupa menyerupai LP IS-10506 baik dalam hal bentuk, kemasan, bau, warna, maupun rasanya. Lactobacillus plantarum IS-10506 maupun plasebo disediakan oleh Fakultas Teknik, Departemen Teknologi Pangan, Universitas Bina Nusantara Jakarta. 

Penelitian ini telah dinyatakan laik etik pada tanggal 5 Mei 2017 oleh komite etik penelitian kesehatan RSUD DR. Soetomo Surabaya dengan nomor 329/Panke.KKE/V/2017. Hasil menunjukkan bahwa subjek penelitian ini melibatkan lebih banyak pasien wanita daripada pasien laki-laki, tetapi jenis kelamin pasien antara kelompok probiotik dan plasebo homogen (p=1,000) dengan pasien termuda berusia 15 tahun dan pasien tertua berusia 66 tahun. Rerata indeks SCORAD menunjukkan penurunan pada setiap kunjungan baik pada kelompok plasebo maupun kelompok probiotik yang dapat dilihat pada tabel 4. Rerata SCORAD pada awal penelitian lebih tinggi pada kelompok probiotik, kemudian pada minggu ke 4 dan ke 8 rerata SCORAD pada kelompok probiotik didapatkan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok plasebo. Didapatkan juga perbedaan bermakna pada indeks SCORAD diantara kedua kelompok ini yaitu SCORAD pada minggu ke 4 (p=0,040) dan SCORAD minggu ke 8 (p=0,022). Penurunan nilai SCORAD minggu ke 4 pada kelompok probiotik terlihat lebih baik dibandingkan kelompok plasebo (probiotik dan placebo). Pada penelitian ini tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada penurunan kadar serum IgE total pasien DA dewasa antar kelompok dan perlakuan

Penelitian ini menunjukkan penurunan bermakna, baik pada kelompok probiotik maupun plasebo, namun pada kelompok probiotik menunjukkan penurunan lebih baik dibandingkan kelompok plasebo pada minggu ke 4 dan ke 8 dengan rerata selisih yang lebih besar pada akhir penelitian. Hal ini dapat menunjukkan bahwa probiotik memberikan efek terapi lebih baik bila digunakan sebagai terapi tambahan dibandingkan plasebo. Terapi standar sesuai pedoman dengan menggunakan antihistamin, kortikosteroid topikal, dan emolien tetap diberikan sehingga perbaikan gejala klinis pada penelitian ini juga dapat dipengaruhi obat-obatan tersebut pada kedua kelompok. Pengobatan standar yang digunakan pada penelitian ini sesuai dengan PPK RSUD Dr. Soetomo yaitu antihistamin 1 generasi pertama yaitu klorfeniramin maleat (CTM) dan generasi ke 2, setirizin hidroklorida (HCL) atau loratadin.

Antihistamin generasi pertama bekerja untuk mengurangi gatal dan gejala subjektif lain juga memengaruhi penilaian SCORAD, yaitu gangguan tidur. Antihistamin generasi pertama dosis rendah sekalipun (seperti klorfeniramin 2 mg) berpotensi menyebabkan kantuk, perubahan kognisi, gangguan belajar, penurunan perhatian dan penurunan respons kewaspadaan. Pemberian kortikosteroid topikal dapat mengurangi tampilan klinis yaitu eritema dan keluhan gatal. Pemberian emolien akan memperbaiki kerusakan sawar kulit, sehingga terapi standar yang tetap diberikan akan memengaruhi penilaian indeks SCORAD.

Hal ini menunjukkan bahwa terapi standar sesuai pedoman seperti emolien, kortikosteroid topikal, dan antihistamin merupakan modalitas penting dalam penanganan DA. Edukasi untuk menghindari bahan iritan dan lain-lain adalah faktor penting mencegah terjadinya kekambuhan.

Penulis: Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.KK, FINSDV, FAADV

Informasi detail artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/12479

EFEKTIVITAS LACTOBACILLUS PLANTARUM TERHADAP SERUM IMUNOGLOBULIN E TOTAL DAN INDEKS SCORING ATOPIC DERMATITIS (SCORAD) PASIEN DERMATITIS ATOPIK DEWASA

laissa Bonita, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Afif Nurul Hidayati

http://dx.doi.org/10.20473/bikk.V31.3.2019.78-84

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu