Riset Rekayasa Jaringan Antarkan Prof. David Sebagai Guru Besar UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. David Buntoro Kamadjaja drg., MDS., Sp.BM(K), ketika menyampaikan orasi ilmiahnya pada pengukuhan Guru Besar UNAIR (18/12/2019) di Aula Garuda Mukti, Kantor manajemen Kampus C UNAIR. (Foto : Muhammad Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Metode autogenous bone graft (graf yang diambil dari tubuh pasien sendiri, misalnya tulang panggul atau rusuk) merupakan metode yang sering dilakukan untuk menghadapi masalah tumor pada penderita. Metode tersebut, dalam kasus tumor mandibula (tulang rahang bawah) dilakukan untuk memperbaiki fungsi kunyah, bicara dan kosmetik wajah pada penderita agar dapat dipertahankan. Hanya saja, metode tersebut memiliki ketersediaan yang terbatas dan berisiko menyebabkan komplikasi pada daerah donor seperti infeksi, cedera saraf sensorik atau motorik.

Dalam orasinya di acara pengukuhan guru besar Universitas Airlangga (UNAIR) pada Rabu (18/12/19), Prof. Dr. David Buntoro Kamadjaja drg., MDS., Sp.BM(K) menguraikan risetnya mengenai rekayasa jaringan untuk rekontruksi mandibula: tantangan dan potensinya yang merupakan metode alternatif untuk mengatasi keterbatasan autogenous bone graft.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. David menuturkan bahwa, terdapat tiga komponen utama rekayasa jaringan yaitu sel, scaffolds, dan sinyal biologis. Ketiganya disebut dengan triad rekayasa jaringan. Menurut penelitian, lanjutnya,  scaffolds untuk rekayasa jaringan biasanya digunakan dari bahan organik maupun anorganik.

“Penelitian telah membuktikan bahwa scaffolds yang baik untuk rekayasa jaringan adalah kombinasi bahan organik dan anorganik,” ungkap dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) tersebut.

Tidak hanya itu, strategi rekayasa jaringan juga dilakukan dengan dua pendekatan yaitu scaffolds growth factors dan scaffolds-sel. Menurut Prof. David, strategi scaffold-growth factors adalah menambahkan growth factors tertentu pada scaffold, yang filosofinya untukmeningkatkan regenerasi jaringan tanpa harus menggantungkan pada sinyal biologis dari jaringan sekitarnya.

“Strategi tersebut juga memiliki kelemahan yakni growth factor yang ditambahkan pada scaffold tidak dapat bertahan dalam jangka waktu lama. Sehingga fungsinya terbatas hanya pada fase awal proses penyembuhan,” tuturnya.

Sedangkan untuk strategi scaffolds-sel dilakukan dengan cara mengambil sedikit sel atau jaringan dari tubuh penderita untuk dikembangkan pada kultur in vitro. Setelah mencapai jumlah tertentu kultur sel tersebut dibenihkan pada scaffold, dan setelah beberapa waktu, komposit scaffoldsel tersebut diimplantasikan pada defek tulang.

Prof. David, juga menjelaskan bahwa, sel yang digunakan untuk rekayasa jaringan tulang adalah msenchymal stem cell (MSC) yaitu sel yang belum terdiferensiasi dan banyak didapatkan pada aspirat sumsum tulang dan jaringan lemak.

“Strategi scaffold-MSC dapat berhasil membentuk tulang bila MSC dapat terdistribusi secara merata pada seluruh porositas scaffold. Kondisi ideal seperti itu dapat tercapai dengan bantuan bioreactor,” tuturnya.

Prof. David bersama tim telah mengembangkan scaffold tiga-dimensi dari tulang bovine melalui proses tertentu (FDBBX) karena tulang bovine memiliki porositas, struktur dan komposisi yang sangat menyerupai tulang manusia.  Pengembangan tersebut dimulai dari tahun 2014 dengan hewan uji kelinci dan dikembangkan dengan hewan uji anjing. (*)

Penulis: Asthesia Dhea Cantika

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu