Penanganan Tulang Alveolar Rahang Atas yang Rendah dengan Gigi Tiruan Implan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi implan gigi. (Sumber: dokter sehat)

Pasien dengan kehilangan gigi pada masa kini lebih memilih implan untuk perawatan pengganti giginya yang hilang karena dapat memperbaiki fungsi stomatognati yang mirip dengan gigi asli. Keuntungan penggunaan implan di antaranya tidak memerlukan preparasi pada gigi penyangga dan terpasang permanen pada rahang sebagai pengganti akar gigi. Fungsi pengunyahan implan juga lebih baik dibandingkan dengan gigi tiruan yang lain.

Pemasangan implan di rahang atas mempunyai beberapa tantangan diantaranya volume tulang dan dasar sinus maxilla.  Maxilla mempunyai tipe tulang yang berbeda jika dibandingkan dengan mandibula. Tulang maxilla mempunyai lapisan kortikal tipis di sekitar trabekula.

Osseointegrasi merupakan kunci sukses perawatan implan, tanpa osseointegrasi implan tidak akan melekat pada tulang. Perforasi pemasangan implan pada maxilla ke membran sinus dapat menyebabkan infeksi sinus dan kegagalan implan. Beberapa cara untuk mengatasi hal ini yaitu dengan sinus lifting, bone graft, dan ukuran implan yang pendek (panjang <10 mm).

Pasien laki-laki usia 56 tahun datang dengan keluhan ingin membuat gigi tiruan pada rahang atas regio 25 dan 26 yang hilang. Pada regio tersebut terdapat keterbatasan tinggi tulang alveolar. Dari hasil pemeriksaan CBCT pada regio 25 didapatkan tinggi tulang alveolar terhadap dasar sinus sebesar 16,69 mm, pada regio 26 sebesar 5,41 mm. Berdasarkan hasil CBCT tersebut maka pada regio 25 digunakan implan dengan panjang 10 mm, pada regio 26 digunakan implan dengan panjang 4 mm.

Perawatan implan dengan menggunakan implan yang pendek (4 mm) mempunyai tingkat kesuksesan perawatan yang sama dengan implan panjang (> 10 mm) dengan tingkat keberhasilan sebesar 94% dengan kehilangan tulang minimal dan jaringan sekitar implan yang sehat.

Selain hal tersebut, kebersihan rongga mulut dan kontak oklusal yang baik juga merupakan kunci keberhasilan jangka panjang perawatan implan, karena kondisi rongga mulut yang buruk dan kontak oklusal yang buruk dapat menyebabkan resorpsi tulang dan mengganggu proses osseointegrasi. Pasien juga sebaiknya tetap datang untuk kontrol setiap 3 bulan sekali untuk mengevaluasi kebersiahn rongga mulut, oklusi, stabilitas implan dan mahkota, jaringan sekitar implan, dan pemeriksaan radiografi. (*)

Penulis: Primanda Nur Rahmania

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di: https://actamedicaphilippina.upm.edu.ph/index.php/acta/article/view/694

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu