Manfaatkan Artificial Intelligence untuk Deteksi Dini Manifestasi HIV/AIDS

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. A. Retno Pudji Rahayu, drg., M. Kes, ketika menyampaikan orasi ilmiahnya pada pengukuhan Guru Besar UNAIR (18/12/2019) di Aula Garuda Mukti, Kantor manajemen Kampus C UNAIR. (Foto : Muhammad Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Kasus HIV/AIDS di Indonesia terus berkembang dan semakin mengkhawatirkan. Layaknya fenomena gunung es, kasus HIV/AIDS akan terus merambah jika tidak ditangani secara tepat. Khususnya di Jawa Timur yang merupakan provinsi yang menempati peringkat pertama sebagai kontributor kasus HIV/AIDS di Indonesia.

Sudah sejak lama HIV/AIDS menjadi tantangan tersendiri di dunia kesehatan. Para praktisi kesehatan terus mencoba menemukan inovasi terbaru untuk mendeteksi dan menangani HIV/AIDS. Salah satunya adalah Prof. Dr. A. Retno Pudji Rahayu, drg., M. Kes., salah satu guru besar Universitas Airlangga yang baru dilantik pada Rabu (18/12/2019). Guru besar dari Fakultas Kedokteran Gigi itu membuat sebuah terobosan dalam deteksi dini HIV/AIDS dengan memanfaatkan teknologi terbaru yaitu Artificial Intelligence (AI).

“Terdapat beberapa penyakit yang menyertai HIV/AIDS, salah satunya adalah Candidiasis yang hampir 90% menyertai HIV/AIDS,” buka Prof. Retno.

Candidiasis salah satunya disebabkan karena adanya infeksi oleh jamur Candida sp. Salah satu jamur yang paling patogen menginfeksi rongga mulut adalah C.albicans. Infeksi oleh Jamur C.albicans  merupakan manifestasi terbanyak di rongga mulut penderita HIV/AIDS dan menjadi sebuah tanda penting dari progesivitas penyakit.

“Kondisi tersebut sangat mengganggu para penderita HIV/AIDS, terutama dalam masuknya nutrisi ke dalam tubuh melalui mulut,” ujar Prof. Retno.

Saat ini, diagnosis HIV dilakukan dengan melakukan pemeriksaan SAP3 di rongga mulut dan pemeriksaan terhadap C.albicans bentuk blastophore atau hyphae. Adanya ekspresi enzim SAP3 menunjukkan adanya infeksi dan kolonisasi jamur C.albicans. Sayangnya, kedua pemeriksaan tersebut membutuhkan metode berbeda dan waktu yang lama. Diagnosis dengan kedua pemeriksaan tersebut juga membutuhkan biaya yang lebih banyak.

Teknologi Artificial Inteligence (AI) sudah banyak dikembangkan beberapa waktu terakhir, salah satunya di bidang medis. Salah satu hasil pengembangannya adalah dalam diagnosa kanker paru-paru. Prinsip penggunaan teknologi AI adalah menggantikan mata dokter untuk menemukan fokus yang abnormal pada pemeriksaan patologi.

“Banyak peneliti yang mengatakan bahwa AI adalah masa depan, tapi, menurut saya AI adalah masa kini. AI tidak hanya terbatas pada bidang industri dan teknologi, tapi juga dapat dimanfaatkan dalam bidang medis,” tegas Prof. Retno.

“Diharapkan pengembangan teknologi AI dapat memberikan diagnosa yang sesuai dan memberikan data terkait oral candidiasis pada penderita HIV dengan lebih efisien dari segi waktu dan biaya,” lanjutnya.

Dilaporkan juga bahwa teknologi AI dengan metode deep learning-based system dapat menurunkan persentase kesalahan hingga 3%. Diharapkan, teknologi AI dapat meningkatkan kekakuratan diagnosis, sehingga pasien bisa mendapatkan terapi yang tepat. Sayangnya, aplikasi teknologi AI dalam bidang Patologi Mulut dan Maksilofasial masih belum banyak diterapkan secara luas. Hal itu menjadi tugas tersendiri bagi para sejawat untuk terus melakukan sosialisasi dan pengembangan teknologi.

“Dengan mengembangkan teknologi AI dalam bidang kesehatan, maka kita sudah ikut berpartisipasi bersama pemerintah dalam memberi kehidupan yang layak dan harapan hidup yang lebih baik untuk penderita HIV/AIDS,” tutup Prof.Retno. (*)

Penulis: Sukma Cindra Pratiwi

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu